Ayo “Jalan Lagi” ke Gunung Lembu

Sebuah nama simple namun penuh harapan menurut saya. “Jalan Lagi” adalah nama kelompok/grup/geng teman-teman backpacker saya, yang berasal dari Bandung dan sebagian dari Jakarta. Pertama kali berjumpa dengan mereka saat saya mengunjungi Dieng Culture Festival, akhir Agustus 2014 lalu dan ternyata setelahnya kami masih sering travelling bersama. Agustus 2015 ini hampir setahun kami berteman, sehingga tercetulah ide untuk memberi nama untuk grup ini “Jalan Lagi” dengan harapan bisa terus jalan-jalan bersama lagi. Dikarenakan tidak bisa cuti keterbatasan waktu, kami pun merayakan peresmiannya dengan weekend trip ke Gunung Lembu, Purwakarta. Sayangnya tidak semua teman-teman “Jalan Lagi” bisa ikut, tapi tak apalah yang penting masih saling kontak.

Gunung yang memiliki ketinggian 780 mdpl ini  terletak  Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Usut punya usut dinamakan Gunung Lembu karena punggungannya berbentuk seperti punuk lembu. Alasan saya tertarik kesini karena penasaran ingin melihat waduk Jatiluhur dari ketinggian. Oh iya selain gunung Lembu ada juga Gunung Parang dan Gunung Bongkok yang bisa kita daki jika ingin melihat waduk Jatiluhur dari ketinggian.

How to get there..

Dari Jakarta kita bisa naik KA Lokal tujuan Purwakarta dari stasiun Jakarta Kota pukul 10:15 WIB, tiketnya seharga 10 tusuk cilok Rp. 6.000 saja saudara-saudara, kurang baik apa coba PT KAI *semoga direkrut PT KAI amiin. Sesampainya di stasiun Purwakarta sekitar pukul 13:00 WIB lalu lanjut dengan carter angkot/pick up di depan stasiun dengan ongkos perorang Rp. 30.000 s/d Rp. 35.000, langsung diantar sampai pos pendakian. Untuk pulangnya kita bisa naik KA lokal tujuan Jakarta di jam 14:00 WIB atau paling sore pukul 15:50 WIB. Alternatif lain bisa menggunakan bis tujuan Purwakarta dari Kp.Rambutan dengan dilanjutkan carter angkot/pick up.

Dari Bandung tersedia juga KA lokal tujuan Purwakarta dari stasiun Bandung berangkat pukul 08:15 WIB atau naik travel & bis tujuan Purwakarta juga banyak tersedia dari Bandung. Untuk pulangnya kereta ke Bandung hanya ada pukul 13:40 WIB, jadi mesti cepat-cepat turun kalau mau kejar kereta ke Bandung.

Saya, Riri dan Erlin berangkat dari Jakarta, sedangkan anggota Jalan Lagi lainnya Kak Tia, Linus, Kak Impola, Kak Caesar berangkat dari Bandung. Kebetulan ada teman kerja Erlin yang ikut jalan bareng, yaitu Bang Jo, Febry, Sandra, Mba Eka dan Mas Beny

Atas (ki-ka): Mba Eka, Saya,
Ini rombongan kami. Atas (ki-ka): Mba Eka, Kak Impola, Saya, Erlin, Kak Tia, Kak Cae, Mas Arif; Bawah (ki-ka): Mas Beny , Bang Jo, Sandra, Riri, Febry, Linus.

Sesampainya di stasiun Purwakarta kami sudah ditunggu rombongan Bandung yang sudah siap sedia diangkot carteran. Katanya jalan utama akan ditutup karna ada HUT kota Purwakarta, jadi langsung saja kami cussss. Setelah menempuh +/- 1 jam perjalanan pukul 14:30 WIB kami tiba di pos awal pendakian, setelah makan siang dan melakukan pendataan kami langsung bergegas mendaki agar tidak kesorean. Sebelum mendaki kami disemangati pendaki lain yang baru turun, karena walaupun tidak tinggi tapi treknya banyak yang hampir 45°. *fiuhh tarik nafas lap keringat.

Berdoa dan foto bersama sebelum pedakian
Berdoa dan foto bersama sebelum pedakian
di beberapa bagian treknya menanjak & berpasir, harus pintar pilih pijakan
di beberapa bagian treknya menanjak & berpasir, harus pintar pilih pijakan
Istirahat sejenak di pos 1
Istirahat sejenak di pos 1

Karena sedang musim kemarau di beberapa tempat tanahnya berpasir jadi mesti super hati-hati saat berpijak. Kalau musim hujan kesini saya tidak rekomend, terutama yang masih amatir seperti saya, karena banyak trek yang kanan kirinya jurang dan berbatu.

tantangan tersulit, untungnya ada tali.
tantangan tersulit, untungnya ada tali.

Saat trekking kebetulan kami berjalan bersama dengan petugas namanya Pak Firman, beliau bertugas memantau kondisi pendaki jika ada yang sakit, terluka, kelelahan maupun “kemasukan”. *yang terakhir nggak enak banget nulisnya. Hebatnya beliau bisa bolak-balik sampai 3x sehari hanya dengan sandal jepit, bahkan beliau bantuin bawa tas dan mencarikan lapak untuk mendirikan tenda. Oh iya omong-omong soal kemasukkan, memang di jalur trekking kita akan melewati petilasan/makam mbah Surya Kencana yang katanya keramat,hiiiiyyyy. Selalu jaga perilaku dan perkataan ya teman-teman dimanapun kita berada . Silahkan hubungi beliau (0852-1700-1633) jika kalian butuh info pendakian maupun angkot untuk carteran.

Tepat pukul 17:30 WIB kami tiba di camp ground dan langsung mendirikan tenda karena hari sudah mulai gelap. Camp ground disini tidak terlalu besar, jadi agak sulit jika ingin mendirikan tenda besar, terutama saat weekend.

Pemandangannya bikin semangat jalan lagi
Pemandangannya bikin semangat jalan lagi
Hanya bisa melihat sunset dari balik pepohonan karena masih 3/4 perjalanan
Hanya bisa melihat sunset dari balik pepohonan karena masih 3/4 perjalanan
di sore itu menuju senja
di sore itu menuju senja

Angin malam mulai berhembus dan bulan mulai beranjak dari peraduannya ketika kami masak-masak menikmati makan malam bersama. Udara disini tidak dingin namun anginnya lumayan besar jadi sebaiknya bawa jaket wind breaker kalau kalian kesini yaa.

It's dinner time, dessert: Marshmellow with expired melted chocolate sponsored by Riri
It’s dinner time, dessert: Marshmellow with expired melted chocolate sponsored by Riri

Pukul 20:00 WIB sehabis makan malam kami ke tebing pandang sekitar 200m dari campground untuk melihat waduk Jatiluhur dari ketinggian bermandikan city light dan lampu dari ratusan keramba ikan milik warga yang ada di pinggiran waduk. Di tebing pandang yang berbentuk datar sudah banyak pendaki lain yang sedang menikmati suasana malam. Sungguh membahagiakan disini, bisa memandangi langit malam bertabur bintang ditemani alunan lagu kesukaaan.

Menikamti city light kota Purwakarta
Mari kita menikmati city light kota Purwakarta
Hei hei siapa dia ????
Hei hei siapa dia ????
Happy 1'st Anniversary Jalan Lagi, semoga kita bisa terus Jalaaannn Lagiiiii
Happy 1’st Anniversary Jalan Lagi, semoga kita bisa terus Jalaaannn Lagiiiii. Butuh effort yang tinggi ternyata bikin foto pakai teknik Light Painting Fotografi seperti ini, hampi 30menit ulang terus itupun badan saya masih transparan.

Hari makin malam dan angin makin berhembus kencang kami memutuskan kembali untuk beristirahat agar tidak kesiangan memburu sang fajar esok pagi.

Pukul 04:30 WIB

Suasana camp ground sudah mulai ramai kembali karena banyak pendaki yang bersiap untuk hunting sunrise, saatnya kita bangun. Sesampainya kembali di tebing pandang, semburat merah sang fajar sudah mulai terlihat di kejauhan.

Pergantian dari malam ke pagi *mohon maaf fotonya blur, kamera saya kurang canggih
Pergantian dari malam ke pagi *mohon maaf fotonya blur, kamera saya kurang canggih
Para pendaki lainnya sudah memenuhi tebing pandang
Para pendaki lainnya sudah memenuhi tebing pandang

Bagi saya suasana saat menunggu sang fajar dari gelap menjadi terang adalah moment yang menghinoptis siapapun yang melihatnya, moment dimana kita merasa bersyukur atas nikmat yang diberikan dan membuat kita makin merasa kecil dan dihadapanNya. Itulah saat-saat yang selalu saya nantikan dan membuat saya ingin mendaki lagi.

Sang Fajar tak malu-malu menampakkan sinarnya, membuat perairan waduk berkilauan bagai cermin dibuatnya.

Akhirnya yang ditunggu datang juga, syukurlah langitnya cerah.
Akhirnya yang ditunggu datang juga, syukurlah langitnya cerah.
Kukirimkan salam hangat dari sang fajar untuk kamu disana.
Kukirimkan salam hangat dari sang fajar untuk kamu disana.
Terima kasih ya Allah atas  keindahan yang kau berikan pada negeriku.
Terima kasih ya Allah atas keindahan yang kau berikan pada negeriku.
Muka bantal...hahahaha
Muka bantal…hahahaha, balik ke tenda yuuuk cuci muka sama sarapan.

Puas bernarsis ria dengan alam, kami pun kembali ke tenda untuk sarapan. Sayang sekali kami tidak bisa lama-lama disini karena pukul 11:00 WIB supir angkot akan menjemput kami di pos bawah. Selesai packing saya dan Kak Tia mampir sebentar di batu belakang camp ground.

Pemandangan dari batu besar di belakang tenda. Cantik sekali waduk Jatiluhur dari ketinggian. (Model by Kak Tia)
Pemandangan dari batu besar di belakang tenda. Cantik sekali waduk Jatiluhur dari ketinggian. 
Saatnya kita pulang...
Saatnya kita pulang….tetap hati-hati yaa saat turun karena tanah berpasirnya sangat gembur.

Hmmm sepertinya semuanya sudah saya ceritakan, kesimpulannya Gunung Lembu sangat worth it untuk didaki para amatir seprerti saya apalagi dengan modal tidak sampai Rp. 150.000. Ayo jangan diam dirumah saja, pilih jajan cilok Rp. 6.000  dekat rumah atau beli tiket kereta ke Purwakarta lalu makan cilok disana. *mohon maaf penulisnya lagi ngidam cilok. Bye bye jangan lupa pulangnya mampir makan sate maranggi lalu mampir ke kuburan gerbong di stasiun Purwakarta ya klik disini.

Muka bahagia perut kenyang makan sate Maranggi
Muka bahagia perut kenyang makan sate Maranggi
Mari kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cintai negerimu dengan travelling.
Mari kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cintai negerimu dengan travelling.

Tips :

  • Gunung Lembu tidak memiliki sumber air, jadi pastikan perbekalan air cukup ya
  • Kalau ingin waktu tempuh ke Purwakarta lebih cepat sebaiknya gunakan bis, karena KA lokal sering berhenti tengah jalan / telat.
  • Campground tidak luas, datang lebih awal agar mendapat lapak tenda yang baik.
  • Jangan lupa pakai sepatu/sendal dengan grip yang baik dan pakailah jaket windbreaker.

Trip Cost (per 30 Agustus 2015)

  • Tiket kereta lokal PP @Rp.6.000 = Rp. 12.000
  • Carter angkot perorang PP Rp. 70.000
  • Logistik/perbekalan +/- Rp. 40.000
  • Sate Maranggi Rp. 25.000

Total Rp. 147.000

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *