Gunung Selok Adipala, Uniknya Kuil Siwa-Budha di Atas Bukit

“Perjalanan tak terduga ke Gunung Selok Adipala ini menjadi pengalaman saya pertama kali melihat kuil percampuran antara agama Siwa dan Budha.”

PicsArt_02-16-12.44.58

Senin, 8 Februari 2016

Gunung Merbabu dan Merapi yang bersandingan menyambut kami pagi itu dari jendela kereta Joglokerto menuju Kroya. Pagi ini saya dan Riri melanjutkan perjalanan ke Cilacap, tepatnya kerumah nenek Riri di Kecamatan Adipala setelah semalam sebelumnya merayakan festival Imlek di Solo. Dari Stasiun Korea Kroya kami lanjut naik minibus tujuan Cilacap, seorang Bapak dengan bahasa ngapaknya menyapa kami karena heran melihat gembolan kami yang sebesar karung beras.

Yap welcome to Tanah Ngapak Cilacap, walaupun kampung saya di Gombong juga menggunakan bahasa ngapak, tapi entah mengapa mendengar masyarakat setempat berbicara dengan bahasa Jawa Ngapak selalu punya kesan lucu tersendiri. Sekitar 30 menit perjalanan kami sampai di Adipala, hamparan hijau persawahan menyambut kedatangan kami dengan indahnya, tapi upppppsss !!! kami kelewatan turun karena Riri lupa letak rumah neneknya. Alhasil saya harus jalan kaki putar balik ditemani gerimis romantis berdua Riri (lagi-lagi sama Riri.hikks). Sepertinya patut dipertanyakan apakah Riri sebenarnya cucu kandung atau cucu pungut ??!! ahhahaha whatever, aku datang Cilacap !!!

Hujan membesar ditambah perut kekenyangan serta kelelahan sisa semalam, membuat kami memutuskan pergi jalan-jalan sore hari saja. Awalnya kami berencana menyusuri jalur selatan pesisir Adipala menuju Pantai Menganti Gombong, namun karena jalanan licin sehabis hujan dan kondisi motor yang tidak memungkinkan akhirnya kami ganti tujuan ke Gunung Selok dan Pantai Sodong yang ada di Desa Karangbenda, Adipala. Dimodali motor mio pinjaman Bu Tin (Budenya Riri) kamipun sampai di sebuah pertigaan, lurus menuju pantai Sodong dan kekiri Wisata Gunung Selok. Karena udara masih cukup panas kami memutuskan ke Gunung Selok dahulu baru kemudian ke pantai sore hari agar tidak kepanasan. Sebenarnya kami tak tahu ini tempat wisata apa, tapi karena letaknya dibukit setinggi 150 meter diatas permukaan laut, yang ada di otak kami pasti bisa melihat laut dari atas karena letaknya memang tak jauh dari laut.

wisatawanalam.blogspot.co.id
Gunung Selok dilihat dari Pantai Sodong

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.000/orang, kami meneruskan perjalanan melewati jalan perbukitan yang berkelok-kelok dan dihiasi hutan di kanan-kirinya. Sesampainya di ujung jalan, terdapat pintu masuk menuju pantai, kami pun parkir motor disitu dan bertanya kepada penjaga dimana tempat yang bisa lihat laut dari atas. Penjaga bilang kami mesti berjalan naik lagi lewat jalan setapak di pinggiran bukit atau bisa lihat melalui kuil yang juga diatas bukit. Langsung saja kami cusss menuju kuil karena penasaran ingin melihat kuil di atas bukit.

www.panoramio.com
Gapura yang menarik perhatian kami berkunjung

Setelah berjalan menaiki jalan setapak yang super sepi, saat memasuki halaman kuil kami disambut gonggongan anjing galak. OMG!!! Kami berdua cuma bisa gemetaran sambil berpegangan tangan, karena si anjing terus mengikuti kemana kami berjalan. Kan nggak lucu kalo dikejar anjing di hutan sepi kaya begini. Untungnya ada seorang bapak yang sedang memperbaiki pagar, dia membantu membujuk si Anjing penjaga kuil dan kamipun selamat masuk ke dalam. Huuuff tarik napas legaa…

DSCN0664
Si anjing galak yang ngalahin galaknya kicep Antin-Riri
DSCN0669
Halaman menuju bangunan utama kuil

 

Ternyata kuil yang dimaksud adalah sebuah padepokan bernama Sang Hyang Jati, padepokan ini merupakan tempat ibadah agama Siwa-Budha. Dua agama paling tua di dunia digabungkan dalam satu ajaran dan bisa berasimilasi dengan baik tanpa menimbulkan pertentangan. Wow saya exited sekali karena baru kali melihat kuil Siwa-Budha apalagi di tempat terpencil seperti ini. Imajinasi saya melayang membayangkan kuil ini seperti perguruan kungfu Butong yang terpencil di Gunung Hua San. (*duh maaf ya, kebanyakan nonton Tio Boe Ki nih).

Di dalamnya, kami bertemu seorang Ibu penjaga yang sedang menyapu halaman kuil. Setelah menyapa dan meminta izin kami dipersilahkan untuk masuk melihat lebih dalam. Oh iya kuil ini ditinggalli oleh seorang biksu kepala kuil, namun kami tidak bertemu beliau karena sedang ada acara di Jakarta waktu itu.

Patung Siwa-Budha
Patung Siwa-Budha
Kuil Siwa-Budha Gunung Selok
Susana dalam pendopo tempat sembahyang

DSCN0679

Pemandangan dari atas Gunung Selok
Pemandangan kota Adipala dari atas Gunung Selok

Setelah berkeliling kami menuju ke sebuah bagunan mirip gazebo yang menghadap langsung kelaut. Sungguh indah melihat pemandangan laut dari sini, dikejauhan tampak teluk Cilacap dan Pulau Nusa Kambangan. Lagi-lagi saya membayangkan sang Biksu duduk minum teh sore-sore disini sambil memandang laut ditemani semilir angin, duh damai sekali rasanya.

DSCN0680
Asyiknya minum teh sore-sore disini
DSCN0689
Riri Made in Adipala, eh maksudnya mau nunjukin Pulau Nusa Kambangan dikejauhan 😛

Puas mengunjungi kuil, kami mampir ke cabang jalan lainnya yang juga bisa melihat laut dari atas. Setelah melaui jalan setapak yang super licin, kami hanya menemukan ada 1-2 bangku untuk duduk melihat pemandangan. Kami memutuskan tidak melanjutkan menelusuri jalan setapak di pinggir tebing karena terlalu sepi dan nyamuknya ganas sekali disini. Kami juga mencoba menuruni jalan setapak yang langsung turun ke pantai, tapi karena jalurnya curam dan licin sekali sehabis hujan ditambah sol sendal saya yang kurang baik akhirnya saya menyerah dan memutuskan ambil jalan memutar saja menuju pantainya.

DSCN0698
Melihat laut dari ketinggian adalah salah satu pemandangan favorit saya
DSCN0696
Jalan setapak yang bikin jiper

Perjalanan kami lanjutkan menuju Pantai Sodong atau ada juga yang menyebutnya Pantai Selok karena terletak di bawah Gunung Selok. Kata Riri yang sudah pernah kesini, pantainya bagus. Tapi jeng jeng jeng!!! Saat kami tiba, kami dikejutkan dengan pasir pantai yang hitam dan penampakkan sampah dimana-dimana. Saya pun kecewa terlebih lagi Riri yang suka piknik disini karena kondisi pantainya tidak secantik dulu lagi. Setelah kami selidiki, ternyata di salah satu bagian pantainya dijadikan penambangan pasir dan dekat muara pantai banyak sekali sampah dari daratan yang ikut terhanyut. Padahal jika terjaga dengan baik, pantai Sodong punya potensi wisata yang menarik karena di bagian pantainya yang panjang membentang dihiasi Gunung Selok yang gagah menjulang sebagai latarnya.

httpwidhaks.blogspot.co.id
Pantai Sodong saat masih bersih (sumber: www.widhaks.blogspot.co.id
radarbanyumas.co.id
Kondisi pantai yang kotor (sumber: www.radarbanyumas.com) *karena kecewa, saya jadi tidak minat ambil fotonya

Sabar yaa Riii, semoga kotornya karena efek terbawa arus laut dan semoga pemkot Cilacap memperhatikan kondisi pantai ini dan mempercantiknya kembali. #SavePantaiSodong biar Riri bisa piknik bersama Bu Tuti & Bu Tin saat mudik ke Cilacap lagi. Sekian cerita hari pertama saya di Cilacap, besok kami mau ke Nusa Kambangan, ditunggu ya cerita selanjutnya!!!!!

Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling !

*Note

Sampai saat tulisan ini dibuat saya tidak tahu kalau ternyata Gunung Selok itu terkenal mistis. Saat saya riset ternyata di gunung Selok banyak terdapat makam, goa-goa dan petilasan yang digunakan untuk bersemedi orang-orang sakti jaman dahulu, ada yang untuk mencari ilmu ada yang untuk pesugihan. Dan salah satu petilasan yang dikeramatkan adalah petilasan Jambe Lima a.k.a Padepokan Sang Hyang Jati yang kami kunjungi ini. Hiiiiiyy untung nggak ada kejadian aneh-aneh saat kami kesana. Kalo mau tau info lengkapnya dilahkan main kesini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *