Serunya Sensasi “Terjebak” di Dalam Terowongan Kereta Api Lampegan

Pernah nggak sih kamu ngebayangin rasanya “terjebak” di dalam terowongan saat ada kereta melintas? Kalau saya sih pernah dan ingin lagi!

Jadi ceritanya bulan Februari 2016 lalu saya kembali lagi ke stasiun Lampegan Cianjur mengantarkan kawan saya dari Bandung “Teh Tia” begitu saya memanggilnya, plus si Riri yang anaknya murahan mau diajak kemana aja. Dua teman saya ini kalau udah ketemu nggak pernah diem, ada aja obrolan nggak penting sampai lawakan super garing yang ganggu penumpang lain, alhasil saya cuma jadi orang ketiga. Biar begitu mereka ini tripmate terbaik saya, yang selalu mau diajak susah senang bersama. Kok jadi ngomongin mereka sih, nanti ge-er lagi. Oh iya, jadi Teh Tia ini pencinta kereta api sama seperti saya dan  dia penasaran ingin mencoba jalur kereta api Bogor-Sukabumi yang punya pemandangan indah.

terowongan lampegan
Terowongan Lampegan yang terletak dekat stasiun Lampegan

Emang apasih yang membuat jalur ini terkenal indah ? Kalau kamu duduk menghadap depan (searah jalannya kereta) di sebelah kiri, kamu bakal melihat gunung Gede-Pangrango dan di sebelah kanan, kamu bisa melihat Gunung Salak. Menurut saya ini salah satu jalur terindah di Pulau Jawa, belum lagi ditambah pemandangan hamparan sawah yang menghijau dan lintasan kereta yang banyak melewati sungai besar. Bahkan saya sudah 4 kali bolak-balik nyobain jalur ini karena jadi tujuan utama kalau sedang ingin piknik yang tidak jauh dari Jakarta.

Karena sekarang relasi KA Pangrango hanya sampai Sukabumi, kami harus lanjut naik KA Siliwangi relasi Sukabumi-Cianjur untuk mencapai Stasiun Lampegan. Ternyata kereta kami telat sampai Sukabumi karena habis ada perbaikan rel bekas longsoran, alhasil kami ketinggalan kereta menuju Cianjur. Di tengah diskusi mau lanjut ke Cianjur atau main di Sukabumi aja, ada sesama backpacker lain yang juga ketinggalan kereta sedang nego sama supir angkot untuk mengantar mereka ke Gunung Padang. Ternyata salah satunya adalah penumpang yang duduk bersama kami di kereta, namanya Selma. Karena melihat muka Riri dan Kak Tia yang terlihat mupeng dan gampangan untuk dihasut, Selma bersama temannya Mba Amie dan Metha pun mengajak kami untuk patungan carter angkot ke Gunung Padang & Stasiun Lampegan. Setelah hitung-menghitung, ternyata tarifnya jadi lebih murah daripada ngojek PP ke Gunung Padang seperti yang dulu saya lakukan. Akhirnya kami memutuskan ikut ke Gunung Padang bersama mereka plus seorang lagi bernama Mas Agus.

Singkat cerita sampailah kami di Gunung Padang setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam melewati jalan pedesaan. Ngomong-ngomong udah pada tahu belum tentang Gunung Padang dan Stasiun Lampegan?, kalau belum saya udah pernah ceritain disini ya, kita langsung to the point sama cerita utamanya saja, ok!.

terowongan lampegan 2
Rombongan kali ini, LtoR: Roro, Mas Agus, Teh Tia, Metha, Mba Amie, Saya, Selma

Sehabis mengunjungi Gunung Padang sampailah kami di Stasiun Lampegan. Sayangnya Mas Agus tidak bisa ikut menelusuri terowongan yang menjadi tujuan utama kami karena harus segera kembali ke Jakarta. Terima kasih ya Mas Agus sudah dibelikan tiket masuk dan jajanin rombongan cewe rumpis ini. Setelah isi perut di Warung Indomie, maklum kelaperan abis naik Gunung kamipun langsung menuju terowongan bermodalkan senter dari HP.

di dalam terowongan lampegan
Di Ujung terowongan Lampegan

Kebetulan saya sudah pernah menelusuri terowongan ini, jadi saya jalan duluan ditemani Riri, sedangkan Teh Tia, Mba Amie, Selma dan Metha mengikuti dari belakang. Untuk mengusir suasana yang mencekam di terowongan yang terkenal misitis ini, saya pun menyetel lagu dari HP, kemudian timbulah obrolan dengan Riri.

Riri : “Tin, emang sempet ya lari ke cerukan kalau ada kereta lewat ? “ Sambil menyenter ke cerukan dengan muka pucat.

Saya : “Iyalah sempet, kan nanti kedengeran kalau ada kereta, kalau ada kereta jangan panik, langsung cari cerukan terdekat untuk sembunyi”.

Riri : “Nah kalau kabel besi panjang dipinggiran rel itu buat apa tin ?”

Saya : “Hmmm apa ya Ri, mungkin kabel listrik kali ya, jangan deket-deket kalau gitu bahaya”.

“Jegreeeekkk,,criiittttssstttt” Tiba-tiba si kabel bergerak mengagetkan kami berdua.

Riri : “Tiiiiiinnnnnn kabelnya kenapa bergerak?” Sambil mencengkram tangan saya dengan muka pucat pasi.

Saya : “Riiiii, jangan-jangan itu kabel wesel untuk gerakin rel karena mau ada kereta masuk”.

Dan benar saja, setelah si kabel bergerak, rel yang kami pijak berdesis dan mulai bergetar. Suasana pun makin mencekam.

Saya : “Riiiii, beneran ada kereta mau lewat, cepet kasih tau yang di belakang”.

Riri : “Kereta!!!???”

Saya & Riri : “Teman-teman awas kereta, cepet sembunyi ke cerukan” teriakan saya dan Riri langsung menggema di terowongan.

Saya dan Riri pun langsung lari secepat kilat menuju cerukan di belakang kami, untung jaraknya hanya sekitar 10 meter. Suara tanah getaran ditambah klakson kereta makin bergemuruh dalam terowongan. Setelah memastikan keadaan teman yang sudah aman, kami pun menatap cemas semoga semua baik-baik saja. Sumpah, suara gemuruh di terowongan yang menggema itu udah kaya gabungan suara badai, ombak, petir jadi satu. Dalam hati saya berkata “Mungkin ini kali ya rasanya menghadapi bencana”. Setelah 30 detik yang terasa sangat lama, akhirnya sang ular besi pun lewat menghempas kami yang ada dalam cerukan. Hooaaaaaaa….kami berdua pun terkesima merasakan sensasi berada dalam terowongan saat kereta lewat. Setelah kereta lewat, kami semua keluar dari cerukan dengan wajah masih shock. “Gillaaaaaaa, nyaris aja ketabrak, deg-degan parah, akkhhh keren!!! teriak kami semua bersautan meluapkan ketegangan yang baru dilewati.

Nahh, ini ada video yang sempat diambil sama Teh Tia..

Jadi ternyata kereta yang lewat barusan adalah KA Siliwangi (Sukabumi-Cianjur) yang melintas terowongan Lampegan sekitar jam 16:20 WIB. Semua pun merasa shock dan tak menyangka bakal mengalami kejadian menegangkan itu, karena tak ada satupun yang tahu akan ada kereta yang melintas saat kami dalam terowongan. Bodohnya sayapun tak bertanya dulu kepada petugas stasiun tentang jadwal kereta yang melintas sehingga bisa bisa menelusurinya dengan aman. Untungnya saat awal memasuki terowongan, saya sempat bilang kalau ada cerukan di kanan kiri dinding terowongan untuk berlindung saat ada kereta melintas. Dan untungnya juga, semua ini cewe-cewe tangguh yang sigap menghadapi bahaya. Sesampainya di ujung terowongan, kami pun berfoto-foto sambil menceritakan keseruan masing-masing saat kejadian tadi. Saat berjalan pulang melewati terowongan kembali, kuping kami selalu waspada takut-takut akan ada kereta lewat lagi. *Parno abisss cyiiinn~~~~

IMG-20160827-WA0010 (2)
Para pejalan tangguh yang sigap menghadapi rintangan

Yap, itulah keseruan kami menelusuri terowongan Lampegan yang tidak hanya terkenal mistis tapi juga bikin spot jantung. Kalau cerita ini kurang seru itu tandanya kamu harus cobain sendiri sensainya secara langsung. Syukurlah kami semua bisa melewati perjalanan ini dengan selamat. Sesampainya di stasiun Sukabumi kembali kamipun berpisah, Mba Amie dkk akan menginap di rumah saudaranya sedangkan saya, Riri dan Teh Tia akan menginap di hotel untuk kemudian besok paginya melanjutkan piknik cantik di Selabintana. Semoga lain waktu kita bisa jalan gila lagi yaa Mba Amie, Selma, Metha, senangya dapat teman perjalanan baru yang super seru dan gila kaya kalian. Semoga bisa rasain sensasi ini di terowongan kereta lainnya, amiin.

Sampai disini dulu ya teman-teman, sampai jumpa trip selanjutnya!

Mari jelajahi negerimu, kenali ngerimu dan cintai negerimu dengan travelling!!

PicsArt_08-27-02.04.51
Bonus foto, piknik cantik di Selabintana

Bagaimana cara menuju Stasiun Lampegan :

Bagi kamu yang berada di Jabodetabek dan ingin pergi seharian aja. Cara paling murah dan cepat dengan naik commuter line menuju Bogor lalu lanjut naik KA Pangrango jam 08:15 WIB dari stasiun Bogor Paledang dengan harga tiket Rp. 25.000, sesampainya di Sukabumi langsung beli tiket KA Siliwangi tujuan Cianjur yang berangkat jam 10:20 WIB (tiketnya Rp. 3.000). Kalau ketinggalan kaya kami, bisa carter angkot/ngojek tapi yaaa jadi lebih mahal. Sekitar jam 11:00 WIB, kamu akan sampai di Stasiun Lampegan, langsung cus deh menelusuri terowongan. Nah, untuk pulangnya kamu bisa naik KA Siliwangi (Cianjur-Sukabumi) dari stasiun Lampegan pukul 14:40 WIB buat ngejar kereta balik KA Pangrango (Sukabumi-Bogor) yang berangkat jam 16:20 WIB dari Sukabumi.

Perlu dicatat kalau pakai cara ini kamu nggak bisa ngerasain sensasi ada kereta lewat terowongan ya karena jadwalnya nggak pas, kecuali ada kereta barang lewat, tapi saya nggak tahu jadwalnya. Kalau mau coba kaya kami, mesti nunggu KA Siliwangi lewat jam 14:40 (Cianjur-Sukabumi) dan jam 16:20 (Sukabumi-Cianjur), sambil nunggu saya saranin main ke Gunung Padang dulu. Nanti kamu bisa balik ke Sukabumi dengan KA Siliwangi jam 19:04 WIB, mau nggak mau dari Sukabumi ke Bogor mesti pakai elf karena sudah tidak ada jadwal kereta lagi. Untuk jadwal lengkapnya cek disini.

Catatan :

  • Sebelum menelusuri terowongan, tanya dulu jadwal kereta sama petugas stasiun dan jangan lupa bawa senter ya.
  • Jangan becanda yang aneh-aneh dalam terowongan, nanti ngeliat yang aneh-aneh lho.
  • Kegiatan ini cukup berbahaya dan bukan untuk ditiru sebenarnya, kamu mesti ajak teman kamu yang berpengalaman dan ekstra hati-hati ya. Jangan bawa anak kecil atau teman kamu yang penakut.
  • KA Pangrango dan Siliwangi rentan telat karena jalurnya rawan longsor, kamu harus siap dengan Plan B kalau misalnya ketinggalan kereta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *