Nepal’s Journey Day 2 : Senja ala Novel di Phewa Lake

Mengunjungi Phewa Lake jadi wihslist pertama saya saat mengajak Riri untuk backpacker ke Nepal. Saya jadi korban imajinasi alias terinspirasi dari sebuah novel perjalanan yang bercerita tentang keindahan dan romantisme Phewa Lake. Dimana sang penulis bercerita keindahan senja di Phewa Lake  yang berlatar gagahnya pegunungan Annapurna dan disitu ia bertemu dengan seorang gadis bule yang memikat hatinya.

Yah, walaupun saya perginya sama Riri bukan pacar atau suami, anggap aja ini romantisme persahabatan.(puk puk puk diri sendiri). Judul novelnya itu “Perjalanan ke Atap Dunia” karya dari Daniel Mahendra. Novel ini juga yang menginspirasi saya untuk berpetualang ke Tibet dengan kereta api suatu hari nanti, seperti yang diceritakannya dalam Novel tersebut. Who knows kan???, bisa terwujud seperti petualang kali ini.

“Man Jadda WaJada” .”where there is a will there is a way !”

Perjalanan Thamel – Pokhara tentunya menguras tenaga kami. Tapi tidak dengan semangat kami. Setelah selesai kepo dengan fasilitas hotel dan pemandangan yang bisa kami nikmati dari hotel, kami rebahan sejenak dengan tentunya sambil menghitung kembali pengeluaran dan mengecek kembali itinerary kami.

Phewa Lake
Termos air panas dan pemanas listrik jadi alat survival perut kami selama di Nepal

Setelah mengisi perut dengan bekal Indomie dan tempe teri bu Tuti ibunya Riri, kamipun beranjak jalan-jalan sore ke Phewa Lake  yang tak jauh dari penginapan. Maksud hati hanya membeli minum untuk persediaan, tapi kami tertarik untuk menyewa sepeda yang berjajar rapih di depan toko tidak jauh dari hotel kami menginap. Kami pun tawar menawar dan berhasil menyewa dengan tarif Rs 150 untuk 6 jam. Lumayan untuk menghemat waktu dan tenaga, karena besok kami akan mulai trekking ke Poon Hill.

backpacker ke Nepal
Kerenan sepeda rentalnya sama sepeda saya di rumah
Phewa Lake
Pedestrian di sekitar area Phewa Lake

Tidak sampai 5 menit naik sepeda, kami pun sampai di Phewa Lake. Sore itu sudah ramai sekali warga yang mengunjungi Phewa Lake, mungkin karena hari libur. Beberapa café dan bar juga sudah tampak ramai dengan turis asing, memutarkan lagu up beat berbahasa Nepal. Tukang jualan pinggir jalan pun sudah siap menjajakan berbagai hidangan. Beberapa kali Riri si tukang jajan tertarik untuk membelinya, namun saya mengingatkan untuk berhemat. Alhamdulillah kami kuwat!! Kami tidak jajan! :’D (sambil menelah ludah).

Oh iya, Phewa Lake ini merupakan danau air tawar terbesar kedua di Nepal. Terletak di selatan Lembah Pokhara yang mencakup kota Pokhara; bagian Sarangkot dan Kaskikot. Danau ini berada di ketinggian 742 m (2.434 kaki) dan meliputi area seluas sekitar 4,43 km2 (1,7 mil persegi). Di bagian tengah danau terdapat Tal Barahi Temple yang masih aktif dikunjungi warga untuk bersembahyang.

Phewa Lake
Menara pengawas di Phewa Lake
Phewa Lake
Pedestrian disampaing Phewa Lake yang ramai oleh pengunjung

Menikmati suasana sore Phewa Lake sungguh-sungguh menyenangkan! Walau langit sore itu agak mendung, namun tetap saja tidak bisa menutupi cantiknya kombinasi antara birunya air danau yang memantulkan bayang pegunungan disertai awan yang menjadi latarnya. Sebenarnya jika sedang musim baik (November-April) dan cuaca cerah, kita dapat melihat pegunungan Annapurna di kejauhan.Sayangnya kami datang bukan di musim yang baik.

Kami mencoba mengabadikan moment di dermaga. Berfoto di pagar dermaga dengan perahu kayu, pegunungan dan langit cantik sebagai latarnya.

Phewa Lake
Transportasi perahu yang banyak digunakan warga lokak maupun turis
Phewa Lake
Tampak desa lain di sebrang Phewa Lake

Puas hunting foto, kami kemudian menyusuri pinggiran danau dan memutuskan untuk duduk santai menikmati pemandangan saja. Seriiiuussss!!! Makin sore makin baguuusss!!!! Menjelang petang, gradasi birunya langit, danau, dan jajaran pegunungan benar-benar sangat indah! Beberapa kali terlihat gerombolan burung terbang kesana kemari. Perahu yang menjadi salah satu transportasi untuk menyebrangi danau berjajar dipinggir danau, dan beberapa masih berlayar di tengah danau, membuat pemandangan semankin indah. Kamu bener-bener wajib ke Phewa Lake kalo sudah sampai Pokhara. Jangan lupa ya!

Phewa lake
Haru biru senja di Phewa lake
Phewa Lake
Aktifitas warga lokal yang sedang memancing di Phewa Lake
Phewa Lake
Muka bahagia saya saat melihat Phewa Lake

Hari semakin gelap dan kamipun menggowes sepeda kami lagi untuk berkeliling ke kota. Banyak sekali toko outdoor di kanan kiri jalan, ya tidak lain karena Pokhara merupakan pintu gerbang ke Annapurna Circuit. Buat kamu yang merasa peralatan untuk trekking atau naik gunungnya belum lengkap, kamu bisa membeli dulu disini sebelum memulai perjalanan. Seperti Riri yang membeli rain cover ransel di salah satu toko. (dan beruntunglah ia beli, karena keesokan harinya hujan turun setiap hari).

“Hi, please come inside, what are you looking for ? Bags, shoes, trekking pole ?”Sambut si penjaga toko outdoor ramah.

“I looking for rain cover bag, with green colour if you have ” jawab Riri sambil lirik-lirik tergiur alat outdoor lainnya.

“Ok, what size you need? S, M, L, XL? Or how big your bag”

“Hmmm, I think its like that bag?” sambil  menunjuk sebuah ransel yang digantung.

Negosiasi pun terjadi, dan saya berusaha sekuat hati menahan diri dari godaan alat-alat outdoor yang menawan hati. Sumpahh baik Thamel atau di Pokhara banyak banget toko outdoor, dari merk terkenal asli sampai KW 1 Nepal  dan KW Cina juga.

“Oh, you have a beautiful eyes, where are you come from” Tanya si penjaga toko ke Riri.

 “I’m from Indonesia” jawab Riri centil sambil senyum 3 jari.

“Don’t believe it Mr, it’s imitation,  she just using contact lens Mr, her original eyes colour is brown” Sanggah saya yang nggak terima dibilang mata Riri bagus.

“Ahahahaha I know I know, you guys from Indonesia!, I know a famous writer from Indonesia, she come to my shop and we are talking each others, her name is Asma Nadia, do you know her?” Kata si penjaga toko dengan senang hati.

“Yes, I know her, she is very famous in Indonesia, I’ve been read her books too.”

(*Dalam hati, oh jadi mba Asma Nadia pernah ke Pokhara juga).

 Anyway ada yang tahu novelnya Mba Asma Nadia yang berlatar cerita di kota Pokhara ? Please komen ya.

Selain toko outdoor, disini ada toko buku, toko baju, toko souvenir khas Nepal maupun pokhara. Kami sempat mampir ke beberapa toko souvenir, penjaganya cukup ramah walau kami cuma lihat-lihat. Beragam restaurant pun ada, mulai dari masakan khas Nepal, Chinese Food, Japanese Food, Halal Food dan KFC! Ya ada KFC di Pokhara! Sungguh menggiurkan bukaan~ *air liur mulai berlebih HAHAHA

Pokhara
Minimarket dan restoran di Pokhara
pedestrian pokhara
we are Lion Sister

Malam pun menjelang, setelah puas sepedaan, jalan-jalan, keluar masuk melihat-lihat toko, kamipun kembali ke hotel. Mari beristirahat menyiapkan tenaga untuk trekking ke Poon Hill esok hari !

*PS: Postingan saya di bajak Riri si pengidola ayam kendor (kentucky dorong), makanya agak aneh gaya bahasanya , maaf ya teman-teman. Nanti akan ada cerita lebih mendetail ketika Riri akhirnya mewujudkan impian makan KFC di Pokhara. so stay tune !

*Untuk detail harga, ittinerary, tips n trick selama backpacker ke Nepal bisa dilihat di postingan ini.

3 Comments

  1. Anonim

    Kak, nepal itu bagian dari india atau berdiri sendiri si? Setau saya, di india itu banyk banget ular cobra. Kalo di nepal pasti dong banyak ularnya. Pengin kesana, cuman takut kalo pas lagi mendaki ular nya muncul satu persatu. Sungguh ngeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *