Semarang – Ambarawa – Solo (Part 2)

Hey ho! di pos sebelumnya ceritanya lagi mau berangkat ke Ambarawa kan ya, ok mari saya lanjutkan….

Day 2 Lanjutan

Dari dekat terminal Terboyo kami naik bis Royal Safari tujuan Semarang-Solo lalu kemudian turun di Bawen. Disitu Kak Tia sudah menunggu kami, kasian Kak Tia sudah menunggu kami cukup lama, maaf ya Kak. Kak Tia ini adalah kenalan saya waktu traveling ke Dieng, mungkin karena sama-sama made in Kebumen, visi-misi traveling kami setipe, jadinya sering kontak untuk ngajak traveling bareng dan kebetulan dia habis natalan di Kebumen dan mau ngebolang ke Rawapening & Solo, jadilah kami ngebolang bareng. Perjalanan dari terminal Bawen kami lanjutkan dengan angkot ke menuju Ambarawa, ongkosnya Rp. 5.000.

Uwoooooo my dreams come true, karena cerita punya cerita, tujuan Utama saya dari trip kali ini adalah ke Museum Ambarawa. Sebagai pecinta kereta api rasanya belum sah kalo belum mengunjungi temapt satu ini. Ahhh senangnya bisa foto-foto sama kereta.hahahahha maklumlah cita-cita masa kecil saya jadi masinis 🙂

Museum Kereta Api Ambarawa a.k.a Stasiun Willem I
Museum Kereta Api Ambarawa a.k.a Stasiun Willem I
Interior dalam stasiun
Interior dalam stasiun
My dream comes true, si Antin jadi masinis
My dream comes true, si Antin jadi masinis

Sayangnya kami nggak bisa ikut trip kereta Uap Ambarawa-Tuntang,karena harga bookingnya mahal, 5jt sekali jalan, seorangnya bisa kena 200-300 ribu. Waktu itu pernah baca, katanya yang bikin mahal adalah biaya untuk perawatan lokomotif dan bahan bakar loko uapnya pakai kayu jati agar bara yang dihasilkan bagus & awet.

muka saya sumringah banget kalo ketemu kereta
muka saya sumringah banget kalo ketemu kereta
saya, Eny dan Kak Tia. Gerbong jaman dulu keren dan asyik banget kayanya kalo bisa menikmati pemandangan saaat naik kereta dari situ
saya, Eny dan Kak Tia. Gerbong jaman dulu keren dan asyik banget kayanya kalo bisa menikmati pemandangan saaat naik kereta dari situ

Puas foto-foto dengan kereta api kami langsung teruskan perjalanan menuju Bukit Cinta Rawa Pening dengan naik elf jurusan Salatiga dengan ongkos Rp. 5000. Karena sesampainya disini sudah sore kami jadi terpikir untuk menginap saja di sekitar Rawa Pening, daripada harus melanjutkan perjalanan ke Solo. Sambil membeli tiket seharga Rp. 7.500 kami bertanya tentang penginapan kepada petugas, untungnya ada salah satu warung yang menyediakan kamar dengan tarif Rp. 50.000 saja saudara-saudara. Wahhh senang sekali kami bisa dapat penginapan, karena artinya kami bisa sekaligus menyaksikan sunrise besok pagi, yeeayy murah lagiii 🙂 .

Homestay murah di Rawa Pening, *eh ada Kak Tia main HP
Homestay murah di Rawa Pening, *eh ada Kak Tia main HP
Pintu masuk Bukit Cinta Rawa Pening, terdapat patung naga yang melingkari bukit tersebut, namun baru jadi di bagian kepala dan ekor saja.
Pintu masuk Bukit Cinta Rawa Pening, terdapat patung naga yang melingkari bukit tersebut, namun baru jadi di bagian kepala dan ekor saja. Pasti kalau sudah jadi full bakal keren banget deh.

Perjalanan hari ke 2 inipun kami tutup dengan makan lumpia oleh-oleh dari Semarang sambil disuguhi pemandangan sunset Rawa Pening.

Lumpia bekel dari sepupunya Eny, enaknya jadi 2x lipat karena makannya disini
Lumpia bekel dari sepupunya Eny, enaknya jadi 2x lipat karena makannya disini
Sunset di Rawa Pening menutup hari kami
Sunset di Rawa Pening menutup hari kami

Day 3

Alarm saya sudah berbunyi pukul 5 pagi, yaa pagi ini kami bangun subuh untuk menikmati sunrise RawaPening. Semilir angin pegunungan buat mengigil tubuh kami, tapi sejuknya seakan menghilangkan seluruh penat beban kami. Berangsur-angsur semburat kuning kemerahan mulai muncul, makin lama berubah menjadi kuning keemasan. Alangkah indah negeri ini bahkan sehamparan rawa saja mampu membuat  kami terpana dengan keindahannya. Rasanya saya ingin tinggal disini ngga mau pulang ke Jakarta.

Menanti sunrise
Menanti sunrise
Andai tiap pagi bisa begini :)
Andai tiap pagi bisa begini 🙂 Pak saya pinjam properti dayungnya yaa
DSC_0127
Golden Sunrise, ternyata melihat golden sunrise ngga harus dari atas gunung 🙂
Gunung Merbabu dilihat dari Rawa Pening
Gunung Merbabu dilihat dari Rawa Pening

Puas hunting foto, kami segera bersiap kembali untuk melanjutkan perjalanan ke Solo. Pukul 8 tepat kami berpamitan dengan pemilik penginapan. Sungguh baik budi sekali si Ibu, kami sengaja membayar lebih untuk biaya penginapan karena si Ibu berbaik hati memberi kami teh hangat, tapi dia menolaknya. Andai di setiap perjalanan selalu dipenuhi orang-orang seperti itu.

Kami menuju Solo via Salatiga, dari Bukit Cinta kami naik elf ke Salatiga dengan ongkos Rp. 5.000 kemudian dari Saltiga naik Bis Royal Safari tujuan Solo dengan ongkos Rp. 15.000. Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Solo. Karena kami semua buta Solo dan hanya mengandalkan angkutan umum, kami agak kesulitan ketika mencari homestay rekomendasi Kak Tia “Hotel Wigati”. Akhirnya kami singgah dulu di Pasar Klewer untuk makan siang sambil bertanya-tanya tentang homestay. Sayangnya saat itu saya mengalami nyeri bahu jadi ngga kuat berjalan kaki jauh dengan menggendong carier. Maaf ya teman-teman karena saya sakit jadi kita dapat homestay seadanya. Saat itu kami menginap di Hotel Beteng Jaya dengan tarif Rp.90.000/malam/3 bed yaa lumayan bersahabatlah harganya, Cuma kurang rekomend untuk suasana/kondisinya.

Setelah tidur sebentar nyeri bahu saya mulai berkurang, kebetulan di luar juga hujan sehingga kami baru keluar kembali pukul 15.30. Langsung saja kami mengunjungi Pasar Klewer, berbelanja batik untuk oleh-oleh. Karena hari sore kami tidak bisa mengunjugi destinasi yang jauh, alahasil kami hanya berjalan sore di sekitar Keraton dan Alun-alun. Kebetulan saat itu di Alun-alun sedang ada Sekaten (Pasar Malam Rakyat) jadi suasananya sangat ramai.

Malam harinya kami naik becak ke Ngarsopuro, Ngarsopuro sendiri adalah pasar malam dadakan yang digelar di Jl Diponegoro setiap Sabtu-Minggu malam. Kami sempat mampir pasar Triwindu (Pasar Barang Antik di Solo) tapi sayangnya sudah tutup, jadi kami hanya menikmati Soto Gobyos yang dijual ala lesehan di teras kios-kios pasar Triwindu. Oalahhhhh sotonya uweeenak tenan, murah lagi 😀

Lagi asyik berbelanja, kami dikagetkan bunyi glambir pemadam kebakaran yang bersaut-sautan. Kata para pedagang Pasar Klewer kebakaran. Astaqfirullah….sore tadi padahal kami baru berbelanja disana. Hari sudah malam, kami memutuskan kembali ke penginapan dengan jalan kaki santai. Tapi sepanjang perjalanan yang ada hanya situasi hectic orang-orang yang penasaran menyaksikan kebakaran Pasar Klewer. Jalan menuju Pasar sudah dialihkan, hanya mobil pemadam dan mobil Polisi yang bisa masuk.

Suasana warga yang melihat kebakaran
Suasana warga yang melihat kebakaran
Kobaran api masih belum padam
Kobaran api masih belum padam

Kami yang menyaksikan dari pinggir jalan hanya bisa meratap karena kobaran apinya sangat besar sedangkan situasi saat itu angin sedang bertiup kencang. Sampai kami bersiap tidurpun suara glambir masih terdengar, semoga api cepat padam dan para pedagang kiosnya terbakar diberi ketabahan.

Day 4

Pukul 4 subuh kami sudah bangun karena mengejar kereta Prameks pertama ke Kutoarjo pukul 5.30. Yaaa hari ini saatnya saya dan Eny kembali ke Jakarta dengan kereta dari Kutoarjo, sedangkan Kak Tia akan melanjutkan perjalanan ke Jogja, iapun turun di Stasiun Tugu. Sedih harus mengakhiri perjalanan ini, tapi saya selalu ingat kata bijaknya si Riri “ Kalau tidak ada yang diakhiri, maka tidak ada hal baru yang dimulai kembali”. Sampai di Kutoarjo kami sempat sarapan dulu dan membeli oleh-oleh lagi. Uwoooww si Eny borong oleh-oleh sampai 1 kardus buat orang kantornya, salut deh sama Eny. Petulangan pun ditutup dengan perjalanan naik kereta api menikmati hamparan sawah hijau berlatang pegunungan. Alhamdulillah travelling kali ini berjalan lancar dan kami selamat sampai tujuan. Sampai jumpa di trip selanjutnya 🙂

Great Friends, Great Adventure!!! Sampai jumpa di traveling selanjutnya :)
Great Friends, Great Adventure!!! Sampai jumpa di traveling selanjutnya 🙂

5 Comments

  1. Hello admin do you need unlimited articles for your blog ?
    What if you could copy article from other sites, make it unique
    and publish on your page – i know the right tool for you, just type in google:
    loimqua’s article tool

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *