Semarang – Ambarawa – Solo (Part 1)

Traveling kali ini sebenarnya dalam rangka memenuhi janji saya ke Eny teman kuliah saya yang beberapa kali batal jalan-jalan sama saya karena waktu yang bentrok, selain itu juga untuk memanfaatkan cuti bersama natal, lumayankan punya 4 hari libur. Awalnya sempat cemas karena kehabisan tiket kereta, eh untungnya ada kereta tambahan libur natal & tahun baru jadi kami berhasil dapat tiket ekonomi walaupun hanya ke PP ke Kutoarjo. Walaupun 2x lebih mahal dari tiket normal gapapalah yang penting ngga mati gaya di Jakarta 😀

Day 1

Tepat pukul 6:30 pagi kami sampai di St Kutoarjo setelah menempuh perjalanan 7,5 jam dari Jakarta. Tujuan pertama kami adalah ke Semarang. Dari Kutorajo kami naik bus Sumber Alam tujuan Cilacap-Semarang seharga Rp 55.000. Bus baru ada pukul 09:00 WIB, sambil mengisi waktu kami sarapan dulu sambil meluruskan badan. Sebenarnya ada bus ekonomi tujuan semarang yang lebih murah, tapi dari pengalaman saya bus seperti itu ngetemnya lama di tiap-tiap kota kecil untuk cari penumpang. Daripada makan hati karena ngetem, akhirnya kami pilih naik Bus Sumber Alam.

Setelah menempuh perjalanan 4 jam kami tiba di Semarang, kebetulan kami akan menginap di rumah sepupu Eny dan kabar baiknya kami dipinjami motor. Ahhhh terima kasih sepupunya Eny, saya jadi bisa ngirit biaya akomodasi. Sebelumnya saya sudah pernah ke Semarang, tapi waktu itu hanya sempat ke kawasan wisata pegunungan Bandungan, jadi kesempatan kali ini saya ingin puasin muter-muter kotanya. Setelah istirahat kami mulai city tour pukul 04:00 sore, tujuan pertama kami Klenteng Sam Poo Kong. Mengandalkan google maps dan sempat nyasar dan bertanya-tanya akhirnya kami sampai, wahhhh ternyata aslinya megah dan ada beberapa bangunan. Karena saya menyukai kebudayaan Tingkok, saya sih exited banget kesini, sayangnya hari mulai gelap jadi kami kurang puas foto-foto disini.

Salah satu bangunan di kompleks klenteng Sam Poo Kong
Salah satu bangunan di kompleks klenteng Sam Poo Kong
Seakan berada di Tiongkok beneran
Seakan berada di Tiongkok beneran
Laksamana Cheng Ho dan Klenteng Utama dikala senja
Laksamana Cheng Ho dan Klenteng Utama dikala senja
Interior di salah satu bangunan, sepertinya hanya digunakan saat acara tertentu
Interior di salah satu bangunan, sepertinya hanya digunakan saat acara tertentu

Darisini kami lanjut ke Masjid Agung Jawa Tengah, saya penasaran kesini karena ingin melihat arsitekturnya yang megah karena gabungan dari arsitekur Arab, Jawa dan Romawi. Walaupun ngga bisa melihat kedalamnya, dari luarpun saya sudah merasa senang.

Masjid Agung Jawa Tengah tampak samping
Masjid Agung Jawa Tengah tampak samping
DSCN0170
Bersama Eny

Dari Masjid Agung kami melihat kelap-kelip kota semarang atas dari kejauhan, saya jadi punya ide untuk melihat kota semarang dari atas, karena pernah baca novel di pulau Jawa ada 3 kota besar yang bisa kita lihat pemandangannya pada malam hari yaitu Bandung dari bukit Dago Pakar, Jogjakarta dari bukit Pathuk dan Semarang dari Gombel. Jadiiii cuuusss berbekal google maps kami menuju Bukit Gombel. Setelah melewati jalan-jalan menanjak kamipun tiba di Gombel. Ternyata saya sudah pernah melewati tempat ini waktu ke Semarang sebelumnya tapi nggak sempat mampir. Kamipun menghabiskan malam kami disini sambil menikmati gemerlap kota semarang dari atas.

Gemerlap Lampu Kota Semarang pada Malam Hari
Gemerlap Lampu Kota Semarang pada Malam Hari, cantiknyaaa 🙂

Day 2

Pukul 9 Pagi kami baru mulai muter-muter kota Semarang, gara-gara kecapean dihari sebelumnya jadi nggak kuat bangun pagi. hehehehe Tujuan kami selanjutnya adalah ke Lawang Sewu dan kawasan Kota Lama kemudian siangnya janjian dengan teman saya dari Bandung,kak Tia untuk ke Ambarawa dan Rawa Pening. Okay let’s go….

Jalanan Semarang sudah mulai padat, tapi sepadatnya Semarang nggak akan ngalahin Jakarta sih. Sampai di Lawang Sewu kami langsung masuk mengikuti arus pengunjung rombongan berharap bisa ikut nguping si guide ngomong apa. Sebenarnya sih semalam udah niat mau mampir Lawang Sewu, tapi berhubung Gombel sayang untuk dilewatkan jadinya kami pilih mengunjungi pagi ini *bilang aja takut kalo datang malam-malam. Karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa lama-lama mengeksplore jadi langsung saja kami ke tujuan selanjutnya Kota Lama.

Halaman Tengah Lawang Sewu
Halaman Tengah Lawang Sewu
Beberapa miniatur Lokomotif di Museumnya
Beberapa miniatur Lokomotif di bagian Museumnya
Lokomotif buatan Jerman yang jadi koleksi di Lawang Sewu
Lokomotif buatan Jerman yang jadi koleksi di Lawang Sewu

Menurut info yang saya dengar Kota Lama di Semarang lebih luas dari kota Tua Jakarta, dan ternyata benar, bangunan ala kolonialnya lebih banyak dan masih terawat /digunakan, tata kotanya juga lebih rapi dibanding kota Tua. Hmmm mungkin karena disini lalu-lintasnya ngga seramai Kota Tua Jakarta kali ya. Semarang Tawang, Gereja Blenduk, Pabrik Rokok Praoe Lajar sukses kami temukan. Oh iya ada kejadian lucu disinI ketika kami sedang cari jalan menuju gedung Jiwasraya kami melewati gang yang seada-adanya isinya orang-orang lagi nongkrong buat sabung ayam, alhasil ada ayam yang kaget dan nabrak motor kami. *Ayamnya yg nabrak lho,bukan saya. Kami hanya bisa terdiam pas si ayam nabrak dan dengan segera langsung bilang maaf mas permisi numpang lewat, kabur dari ribuan pasang mata yang melototi kami *lebay

Stasiun Semarang Tawang, bentuk kubahnya mengingatkan akan Lawang Sewu
Stasiun Semarang Tawang, bentuk kubahnya mengingatkan akan Lawang Sewu
Gereja Blenduk,
Gereja Blenduk, “Blenduk ” diartikan besar, karena bentuk kubahnya yang besar.
Pabrik Rokok Praoe Lajar, ejaan lama semakin membuat kesan oldies di bangunan ini
Pabrik Rokok Praoe Lajar, ejaan lama semakin membuat kesan oldies di bangunan ini
Salah satu sudut jalan di kota lama, sayang saluran airnya kurang terawat
Salah satu sudut jalan di kota lama, sayang saluran airnya kurang terawat

Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang dan kamipun pulang, packing dan bersiap berangkat ke ambarawa. Sementara sampai disini dulu yaa ceritanya, sampai ketemu lagi di Ambarawa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *