Santolo, Pantai Cantik di Swiss van Java

Yang pertama kali terlintas dibenak kita kalau mendengar nama Swiss pasti bentangan padang rumput hijau dikelilingi pegunungan Alpen dengan puncak bersalju. Tapi kalau di Swiss van Java a.k.a Garut tidak hanya bentangan sawah hijau dikelilingi pegunungan, namun ada juga pantainya. Yap perjalanan kali ini saya mengunjungi pantai Santolo dan Sayang Heulang di Garut, Jawa Barat. Rencana awal ke Garut adalah untuk naik Gunung Papandayan dalam rangka reunian dengan teman jalan saya waktu ke Dieng lalu. Sayangnya Papandayan ditutup karena musim hujan, akhirnya tujuan dialihkan menjadi camping di pantai Santolo.

Teman jalan saya: (Left to Right) Linus, Erlin, Saya, Riri, Kak Tia, Kak Impola
Teman jalan saya: (Left to Right)
Linus, Erlin, Saya, Riri, Kak Tia, Kak Impola

Saya, Riri (temen kantor) dan Erlin (temen SD) berangkat dari Jakarta dengan menggunakan bus Primajasa tujuan Garut. Kami janjian di pool Primajasa Cilitan untuk naik bus jam 21:00 WIB namun hingga bis akan berangkat si Riri belum datang karena terjebak macet. Saya dan Erlin pun harus turun bus lagi untuk menunggu Riri. Untungnya masih ada bus terakhir, tepat 5 menit sebelum bis terakhir jalan Riri datang diantar tukang ojek. Hufft nyaris saja.

Perjalanan menuju garut ditempuh +/- 5 jam, sekitar jam 02:00 WIB dinihari kami tiba di terminal Garut. Tujuan kami langsung mencari masjid disekitar terminal untuk beristirahat sambil menunggu Kak Tia, Kak Impola dan Linus yang berangkat dari Bandung subuh hari. Di mesjid ada beberapa kelompok traveler yang akan naik ke Gunung Cikuray, hmm semoga next trip bisa kesana juga. Ini pengalaman pertama saya numpang tidur di teras mesjid, dingin menusuk pula, tapi tak apalah demi irit ongkos.hehehe.

Terminal Guntur Garut di pagi hari
Terminal Guntur Garut di pagi hari
Lokasi mesjidnya, biasanya dipakai buat meeting point rombongan yg mau naik gunung juga.
Lokasi mesjidnya, biasanya dipakai buat meeting point rombongan yg mau naik gunung juga.
Menunggu pagi di mesjid
Menunggu pagi di mesjid, sumpah dingin banget dan saya malu kalau ada orang lewat jadi ditutupin pakai payung :p

Akhirnya pukul 7:30 rombongan Kak Tia datang. Oh ya kalo dari Bandung menuju garut teman-teman bisa naik KRD dari St Bandung turun di Cicalengka ongkosya Rp 1.500, kemudian sambung elf ke garut dengan ongkos Rp. 15.000. Setelah cari sarapan dan bekal makanan kamipun naik Elf tujuan Pameungpeuk dengan ongkos Rp. 35.000 dan diantar sampai pantai Sayang Heulang. (Harga normal Garut-Pameungpeuk Rp 30.000). Hampir 4 jam perjalanan kami naik elf, sampai berhenti dulu untuk isitirahat di rumah makan. Nyaris saja saya mabok perjalanan karena jalan naik-turun penuh liku-liku, tapi untungnya pemandangan sepanjang jalan bagus dan udaranya sejuk jadi sedikit terobati.

Sepanjang jalan penuh lika-liku menuju pantai, siap-siap mabok ya
Sepanjang jalan penuh lika-liku menuju pantai, siap-siap mabok ya

Tepat pukul 12:30 kami diturunkan di Jembatan menuju Pulau Santolo, tempat kami camping nanti. Huaaahhhh mata saya langsung berbinar melihat hamparan lautan samudra Hindia.

Jembatan dari pantai Sayang Heulang menuju Pulau Santolo
Jembatan dari pantai Sayang Heulang menuju Pulau Santolo, nyebrangnya satu-satu ya karena banyak yang rapuh

IMG_8166

Hutan di pulau Santolo yang harus dilewati menuju sisi pantai yang bisa untuk dirikan tenda
Hutan di pulau Santolo yang harus dilewati menuju sisi pantai yang bisa untuk dirikan tenda
Lokasi tenda kami, sengaja cari yang dekat warung, balai-balai dan ada hammocknya
Lokasi tenda kami, sengaja cari yang dekat warung, balai-balai dan ada hammocknya
View dari tempat camp kami, eh ada neng geulis di pohon tuh
View dari tempat camp kami, eh ada neng geulis di pohon tuh

Setelah mendirikan tenda makan siang dan isitirahat sejenak, kamipun mulai untuk explore pantai. Tujuan pertama kami ke Cilautereun. Cilautereun yang dalam bahasa Sunda airnya air laut turun, sejenis muara sungai di laut namun uniknya airnya mengalir menuju daratan bukan sebaliknya. Hal ini terjadi karena di Pulau Santolo terdapat pertemuan dua ombak yang berbeda arah sehingga menimbulkan arus baru yang mengalir memutar menuju daratan. Hahahaha bingung ya, liat fotonya aja ya atau ngga datang langsung deh.

Terlihat kan ada ombak dari arah kanan dan kiri yang bertemu
Terlihat kan ada ombak dari arah kanan dan kiri yang bertemu
Muara Cilautereun
Dua ombak bertemu dan menyatu bersama mengalir ke arah daratan melewati di Muara Cilautereun. *ciee ombak aja mampu bersatu, masa kita engga 😛

Sehabis dari Cilautereun kami lanjut ke Pantai Santolo dengan naik perahu sampan dengan ongkos Rp. 2000/orang karena harus menyebrangi sungai, ngga terlalu lebar sih cuma ya lumayan dalam.

Menyebrangnya tidak jauh tapi ngga mungkin juga untuk berenang
Menyebrangnya tidak jauh tapi ngga mungkin juga untuk berenang. Tempat yang ramai kapal di depan adalah tempat pelelangan, kita bisa beli ikan disitu untuk dibakar.
Naik rakit menuju Pantai Santolo
Naik rakit menuju Pantai Santolo, sok bantuin ngedayung.

Kalau Pantai Santolonya sediri lebih ramai karena ada pasir pantainya yang aman utuk berenang, beda dengan pantai di Pulau Santolo, walaupun ada pasirnya tapi dikelilingi karang jadi ngga bisa buat berenang. Di Pantai Santolo ada banana boat, sewa papan seluncur dll. Disini kami hanya minum es kelapa jadi tidak terlau banyak mengeksplore.

Duo Leo yang dipaksa beli baju geng serigala*salah fokus. Depan kita ini panti santolo yg ramai wisatawan
Duo Leo yang dipaksa beli baju geng serigala*salah fokus. Depan kita ini panti santolo yg ramai wisatawan

Kamipun memutuskan kembali ke Pulau Santolo untuk berburu sunset disana karena pantainya lebih sepi.

Mari kita teruskan explorenya
Mari kita teruskan explorenya
Pantai di Pulau Santolo dikelilingi karang, jadi hari-hati kalo mau berlarian ya
Pantai di Pulau Santolo dikelilingi karang, jadi hari-hati kalo mau berlarian ya
Menunggu sunset
Menunggu sunset

??????????

Lembayung senja
Lembayung senja

Sunset hampir habis, saya dengan Erlin pun menikmatinya sambil duduk-duduk di pasir, sampai saat suasana menjadi mencekam,JENG JENG JENG.. saat Erlin bilang “Tin, tengok ke belakang deh, bener ngga sih ada yang pake baju putih di pepohonan belakang”. Saya langsung bilang “Bodo amat, gw ngga mau nengok”. Tiba-tiba Linus datang, Erlin kembali bertanya dengan pertanyaan sama. Jawab Linus “Ngga ada siapa-siapa ah, udah hiraukan saja”. Entah yang dilihat Erlin itu apa, segera saja saya ajak Erlin balik ke tenda, karena memang dibelakang kami adalah hutan tak berpenghuni. hiiiiyyy

Pantai di Pulau Santolo dikelilingi karang, jadi hari-hati kalo mau berlarian ya
Hutan di sekeliling pantai. Oh iya pantai di Pulau Santolo dikelilingi karang, jadi hari-hati kalo mau berlarian ya

Setelah mentari turun ke peraduan kami mulai masak makan malam dengan menu Sayur Sop ala Kak Tya dan lauk Sarden ala Erlin. Hmmmm enaknyooo untuk itungan makan saat camping begini. Sehabis makan, yang lainnya pun bersih-bersih ganti baju, ngga ada air tawar jadi kami ngga mandi, ada sih WC umum tapi harus jalan gelap-gelap ke ujung pulau,hoaaahh mager. Jam 21:00 WIB akhirnya masuk tenda karena besok subuh mau berburu sunrise. Ya Tuhan, di dalam tenda gerah banget, tapi mau gimana lagi karena kalau dibuka takut ada serangga masuk dan si Erlin ngga mau karena takut “yang lain” masuk juga.hiiiy

Pukul 04:30 WIB alarm kami berbunyi, duh nyawa saya belum ngumpul tapi si Riri udah bawel takut ketinggalan sunrise, apadaya sayapun jalan gelap-gelap dengan mata mengantuk. Kami menyusuri pinggir pantai yang dipenuhi karang kearah jembatan awal kami datang. Sekitar pukul 05:00 WIB lewat sudah mulai terlihat semburat cahaya di kegelapan. Okayy ini saatnya berburu foto:

Menanti fajar
Menanti fajar

DSC_0431

Mirror sea, cantik ya
Mirror sea, karena lautnya dangkal jadi seperti cermin, cantik ya

DSC_0435

Walking on sunshine
Walking on sunshine

Puas hunting foto, kamipun pulang ke tenda untuk sarapan kemudian packing pulang. Rencana awal sih di hari kedua kami ingin ke Talaga Bodas, tapi mengingat jarak kembali ke garut kota sangat jauh dan harus balik ke Jakarta jam 17:00 WIB, jadi kami urungkan rencana itu. Pukul 10:30 WIB kami sudah selesai packing, kami menuju kawasan pantai Santolo karena angkot menuju Pameungpeuk hanya ada dari Santolo. Sekitar 15 menit naik angkot kami sampai di Pameungpeuk untuk kemudian lanjut naik Elf kembali ke terminal Guntur.

Angkot Desa Pameungpeuk-Santolo
Angkot Desa, tujuan Pameungpeuk-Santolo pp

Untungnya perjalanan pulang lebih cepat, hanya butuh waktu 3 jam, selain itu si aa supirnya nyetel lagu band-band 90an, yang ada kami bukannya tidur malah asik karaokean ahhaha jadi ngga mabok deh. Oh iya di tengah perjalanan kami melewati curug Neglasari yang terlihat dari pinggir jalan.

Keliatan kan curugnya, itutuh yang diantaranya 2 bukit.
Keliatan kan curugnya, itutuh yang diantaranya 2 bukit.

Sesampainya di terminal garut, kami sempatkan makan siang dan kemudian berpisah, Kak Tia, Kak Impola dan Linus menuju Bandung sedangkan saya, Riri dan Erlin kembali ke Jakarta. Selamat jalan teman-teman, semoga kita bisa bertualang bersama lagi. Sekian cerita perjalanan saya, semoga bermanfaat!!. Salam bolangers, kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cintai negerimu dengan traveling 🙂

FriendsTRIP Forever
FriendsTRIP Forever

P.S: *2 hari setelah darisini, saya tanya ke temen saya yang bisa lihat begituan, katanya memang ada di dekat ayunan dan belakang warung. syallalalala dudududu pura-pura ngga inget.

Cost Trip Camping Pantai Santolo 2H1M (14-15 Feb 2015):

  • Bis primajasa Jakarta-Garut PP @Rp. 52.000 : Rp. 104.000
  • Elf Garut – Pameungpeuk PP @Rp. 30.000 : Rp. 60.000
  • Angkot Pameungpeuk-Santolo/SayangHeulang PP @Rp. 5.000 : Rp. 10.000
  • Tiket Masuk Sayang Heulang: Rp. 5.000
  • Rakit Pulau Santolo – Pantai Satolo 3x@Rp. 2.000: Rp. 6.000
  • Es Kelapa: Rp. 6.000
  • Makan di Garut 2x : Rp. 20.000
  • Patungan logistik (alat camp, bahan makan, uang keamanan buat jaga tenda): Rp. 33.000
  • Pengeluaran pribadi (beli bekal makan, air mineral, wc umum, angkot ke cililitan dll): Rp 50.000
  • Total: Rp 294.000

Tips:

  • Bis ke garut, sebaiknya naik Primajasa karena armada banyak, ada hampir tiap jam dan harganya murah, bisa dari Lebak Bulus, Kp Rambutan atau di pool Cililitan. Tapi paling hanya sampai sekitar jam 21:00, tergantung banyak sedikitnya penumpang. Untuk lebih malam lagi ada bis lain dari Kp.Rambutan tapi ngga rekomended karena suka ngetem dan suka ngga jelas harganya.
  • Untuk Elf ke Pameungpeuk baru ada pagi hari, jadi kalau sampai dinihari di Garut tunggu di Mesjid saja dahulu. Tapi kalau rombongan kalian banyak mungkin bisa langsung carter Elf yg banyak tersedia di terminal *harus pintar nawar ya.
  • Untuk yang ngga mau camping, banyak kok homestay di santolo harganya berkisar 100rb s/d 200rb permalam tergantung fasilitasnya.
  • Tidak ada air tawar di Pulau Santolo, jadi bawalah air minum sebanyak mungkin dari Garut/Pantai Santolo. Harga aqua 1,5L di Pulau mencapai 10rb perbotol, hiks. Atau pas kalian berkunjung ke Pantai Santolo dan ke WC umum, ambil air untuk masak dengan botol aqua.
  • Kalo untuk makanan kalian bisa beli nasi di Warung yang bertebaran di Pulau, jadi tinggal bawa/masak lauk saja. Harganya untuk seorang dikenakan Rp. 30.000 untuk 6 org, dapatnya banyak jadi bisa untuk makan 2x.
  • WC umum banyak di pulau Santolo tapi airnya payau dan ngga buka malam hari *kecuali mau ketok-ketok rumah yg punya, tarifnya Rp. 2000 sekali pipis, jadi jangan sering-sering beser yaa 😛

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *