Papandayan, Gunung Sahabat Para Pendaki Pemula

Mendaki gunung itu bukan tentang belajar menaklukan alam, tetapi tentang belajar menaklukan diri sendiri.

Setelah beberapa kali dipending, akhirnya jadi juga ke Papandayan. Yup ini pendakian pertama saya yang bener-bener naik gunung, bukan treking naik bukit semacam di Dieng atau di Bromo. Trip kali ini saya bersama teman-teman Ayo Jalan Lagi Club a.k.a nama geng teman backpackeran saya. Berhubung setengah geng AJLC berasal dari Bandung, jadi kamipun yang dari Jakarta (saya, Riri, Erlin dan Novi ) langsung janjian di Terminal Guntur Garut dengan mereka. Hmm tapi sebelumnya, berhubung saya bukan anak gunung expert, saya nggak mau cerita tentang rute, tips atau apalah itu, saya cuma mau share suka duka perjalanan saja sebagai pendaki pemula.

Perkenalkan kami Ayo Jalan Lagi Club (AJLC). duduk LtoR: Arif, Mas Kinoy, Linus, Kak Cae Berdiri LtoR: Riri, Kak Tia, Erlin, Novi, Saya, Kak Impola
Perkenalkan kami Ayo Jalan Lagi Club (AJLC). duduk LtoR: Arif, Mas Kinoy, Linus, Kak Cae
Berdiri LtoR: Riri, Kak Tia, Erlin, Novi, Saya, Kak Impola

Jumat, 22 Mei 2015

Seperti biasa, kalau mau ke garut paling enak naik Bis Primajasa dari Pool PGC Cililitan, karena armadanya banyak dan tarifnya jelas. Bis kami berangkat pukul 21:00 WIB, Alamdulillah perjalanan lancar dan kamipun sampai di Garut sesuai estimasi pukul 02:00 WIB dinihari.

Sabtu, 23 Mei 2015

Untung sebelumnya kami sudah pernah trip ke Garut jadi sudah kenal medan disana. Langsung saja kami menuju mushola mencari lapak tidur di terasnya berhubung kami harus menunggu geng Bandung yang baru akan datang pagi hari. Lumayan bisa tidur sebentar untuk mengumpulkan tenaga, duh tapi gawat entah karena Garut yang dingin atau saya nggak fit, tiba-tiba saya terserang flu.hikkksss semoga tetap kuat mendaki.

Sekitar pukul 07:00 WIB rombongan geng Bandung datang (Kak Tia, Kak Impola, Linus), 3 orang lainnya (Kak Cae, Arif dan Mas Kinoy menyusul). Si Kak Cae ketinggalan kereta rupanya, sedangkan Aris dan Mas Kinoy langsung menyusul ke Papandayan. Sambil menunggu Kak Cae, kami membeli logistik yang kurang sambil cari sarapan. Dari terminal garut kami naik elf ke Cisurupan dengan tarif Rp.20.000/org dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Dari Cisurupan kami lanjut naik pick up yang memang dikhususkan bagi pengunjung papandayan dengan tari Rp. 20.000/org. Sebenernya sih mahal karena kami tidak carter melainkan gabung dengan rombongan/penumpang lain. Ya begitulah nggak enaknya wisata ke tempat komersil yang masih minim sarana transportasinya.

Trek menuju kawah, harareudang euuy!!
Trek menuju kawah, seperti di planet lain, harareudang euuy!!

Setelah lapor ke pos penjagaan, pukul 10:00 WIB kami mulai start mendaki, woalaaah panas apalagi ketika lewat kawasan kawah gersang. Untungnya masih terobati dengan semilir angin pegunungan.

The Long and Winding Road~~~~~
The Long and Winding Road~~~~~

Karena kebanyakan dari kami baru pertama kali naik gunung, banyak sekali berhentinya,hehehhe. Maklum fisiknya belum terlatih. Hingga akhirnya kami baru sampai di camp selada pukul 14:00 WIB.

Exhausted tapi tetap sadar kamera hahaha
Exhausted tapi tetap sadar kamera hahaha

Teman-teman langsung mendirikan tenda, karena badan saya sudah sangat lemas sayapun makan duluan nggak bantuin bikin tenda.maaaf ya teman-teman.

Waktu baru menunjukkan pukul 15:00 WIB tapi dinginnya udah nggak karuan, alhasil saya cuma bobo-boboan di tenda sama Novi & Erlin. Kalau Riri sama kak Tya sih batrenya nggak habis-habis mereka pecicilan foto kesana-kesini.

Sang matahari pun mulai terbenam, dan akhirnya Mas Arif dan Mas Kinoy datang. OMG mereka cuma membawa tas daypack, pakai celana dan kaos. Maklumlah 2 orang ini memang anak alam sejati, tendanya pun cuma pakai flysheet yang diikat ke pohon. Malam pun kami isi dengan masak makan malam ditemani hangatnya api unggun dan ribuan bintang di angkasa. Di kejauhan terdengar para pendaki lain bernyanyi riang gembira diiringi gitar, sungguh menyenangkan sekali suasana camping disini.

Paduan sempurna api unggun & langit bertabur bintang
Paduan sempurna api unggun & langit bertabur bintang. Foto by Kak Impola, kecelah kameranya dia.

Makin malam dinginnya makin nggak karuan, saya nggak bisa tidur semalaman padahal sudah minum tolak angin dan pakai minyak putih tp tetap kedinginan. Hmmm mungkin efek meriang kena flu kali ya. Tapi ternyata menurut Novi yang badannya sehat waktu itu, camp di Papadayan lebih dingin dibanding camp di Bromo, waduh apakabar dinginnya Semeru ya??.

Keesokan paginya kami terbangun oleh para pendaki yang ingin mengejar sunrise di hutan mati dan di puncak. Saya kira rombongan kami juga akan hunting sunrise seperti mereka, tapi sayangnya tidak. Rombongan kami memilih untuk menuju puncak setelah sarapan dan tenda di packing sehingga bisa langsung turun ke bawah.

Semburat sunrise terlihat dari depan tenda
Semburat sunrise terlihat dari depan tenda

Semua bawaan beres di packing kami pun segera bergerak menuju hutan mati. Langkah saya makin berat dan hidung saya makin perih, sesampainya di hutan mati sayapun memutuskan turun duluan kebawah karena tidak ingin memaksakan diri. Untungnya ada Linus yang ikut menemani turun duluan karena katanya dia sudah pernah ke puncak, Erlinpun ikut turun karena nampaknya juga sudah tidak kuat.

Walau menyerah di hutan mati, setidaknya sudah meninggalkan jejak disini
Walau menyerah di hutan mati, setidaknya sudah meninggalkan jejak disini
Hutan mati di musim kemarau
Hutan mati di musim kemarau
Semoga next time bisa hunting sunrise disini
Semoga next time bisa hunting sunrise disini

Teman-teman lainnya terus melanjutkan sampai puncak, saya pun cuma bisa liat puncak dari foto-foto mereka.

Edelweis yang mulai berbunga
Edelweis yang mulai berbunga
di Puncak Papandayan
di Puncak Papandayan

Walaupun perjalanan turun lebih cepat dan mudah, tetap saja saya kesusahan karena badan yang tidak fit, apalagi di kawasan kawah treknya licin karena berkerikil. Kalau grip sepatu/sandal tidak baik bisa terpeleset kaya saya, jadi harus hati-hati yaa kalian.

Pemandangan yang bikin semangat jalan walau kaki sudah lelah
Pemandangan yang bikin semangat jalan walau kaki sudah lelah

Jam 12:00 WIB akhirnya sampai pos bawah, langsung saya cari posisi di bawah pohon untuk tidur. Sementara saya tidur, Linus dan Erlin masak sisa perbekalan. Wahhhh enak banget bangun tidur udah ada mi goreng, makasih banyak yaa Linus dan Erlin.

Sekitar pukul 14:00 WIB teman-teman lain yang dari puncak akhirnya sampai pos bawah dengan muka-muka kelelahan (tidak berlaku bagi Arif dan Mas Kinoy). Setelah bersih-bersih kamipun bergegas melanjutkan perjalanan pulang karena bis Primajasa ke Jakarta hanya sampai jam 17:00 WIB. Ada pertemuan maka ada perpisahan, kami pun berpisah di terminal Guntur, saya, Riri, Novi dan Erlin menuju Jakarta sedangkan yang lainnya menuju ke Bandung.

Walaupun pendakian pertama saya bisa dibilang gagal karena sakit dan nggak sampai puncak, tapi bukan itu inti dari perjalanan ini. Perjalanan ini menyadarkan saya betapa saya masih harus banyak belajar untuk bisa mencapai puncak gunung indah lainnya di Indonesia tercinta.

Terima kasih Papandayan atas alammu yang indah
Terima kasih Papandayan atas alammu yang indah. Mari kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cintai negerimu dengan travelling.

Tips        :

  • di camp Pondok Saladah, ada toilet umum (super antri), sumber mata air dan penjual makanan. Jadi nggak usah pusing-pusing bawa logistik banyak. Makanya gunung Papandayan sangat rekomend untuk pendaki pemula.
  • Sebaiknya mulai mendaki dari subuh agar tidak terlalu panas
  • Untuk pendaki pemula seperti saya, siapkan fisik dari jauhari dan harus fit saat pendakian

Trip Cost :

  • Bis Jakarta (PGC) – Garut PP @Rp. 52.000 = Rp. 104.000
  • Elf Guntur-Cisurupan PP @Rp. 20.000 = Rp. 40.000
  • Pick up Cisurupan – Pos 1 PP@ Rp. 20.000 = Rp. 40.000
  • Logistik (bekal makan, tenda dll) +/- Rp. 70.000

Total : Rp. 257.000

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *