Nepal’s Journey Day 1: Nyaris Gagal Bertualang ke Nepal

Setelah musim berganti dari musim Insta Story ke musim Tiktok, akhirnya latepost tertunda ini di upload juga. Sebelumnya mohon maaf baru di post sekarang karena penulis lagi sibuk cari uang buat beli kuota internet demi main tiktok menghidupi blog ini, (*cari alasan, tapi demi Allah saya nggak main tiktok). Untuk teman-teman yang sudah baca post sebelumnya “Drama ke Nepal dan Mimpi Ingin Berjumpa Himalaya” atau sudah mantau perjalanan saya ke bertualang ke Nepal dari Instagram pasti penasaran kan ngapain aja sih saya bersama sahabat saya Riri selama disana. Tak usah panjang lebar basa-basinya, nanti basi beneran, selamat membaca dan bantu saya mengabadikan kisah ini.

—————————————–

Jakarta, 25 Agustus 2017.

KRL tujuan Sudirman sudah melintas dua kali saat itu, tapi saya dan Riri masih belum bisa naik karena kereta yang penuh sesak.Yaiyalah, masih jam 7:30 pagi, masih jamnya sikut-sikutan rombongan KRL, untung saja nggak kena sikut beneran karena lihat kami bawa gembolan ransel gunung di jam sesibuk itu.

“Nih, mba-mba menuh-menuhin aja sih, bawa gembolan segede gaban pulak” (mungkin ini isi dalam hati mba-mba KRL saat itu)

Takdir kerasnya Jakarta pun akhirnya memisahkan kami, Riri nggak bisa masuk kereta yang saya naiki, hingga harus menunggu kereta selanjutnya.

Terjebak Macet !

Lepas berjuang dari sesaknya KRL, kami dilanda panik karena terjebak macet di jalan menuju bandara. Sudah jam 10:45 WIB, tapi taksi online yang kami tumpangi masih stuck padahal pesawat kami akan take off pukul 11:15 WIB.

“Ri, lo udah online check in kan ?, coba telepon CS Maskapainya lagi suruh tunggu kita udah deket bandara.”

(Riri sibuk menghubungi CS Maskapai)

“Ri, apa kita turun cegat gojek atau opang aja ya ?” (Antin panic mode on)

“Duh nggak ada yang angkat nih CSnya.” (Riri pucat pasi mode on)

Celakalah jika sampai ketinggalan pesawat, berarti harus beli tiket lagi ke KL buat kejar pesawat ke Kathmandu!, itupun kalau masih ada dan nggak mahal. Kami saling bertatap cemas, perut rasanya mules walau tadi pagi udah poop. Gojek atau Opang pun tak ada yang terlihat untuk kami bajak ke Bandara. Sang supir pun jadi sasaran kebawelan kami.

“Pak ini macetnya sampai mana ?”

“Pak, emang macetnya sering kaya gini tiap hari atau lagi ada apa ya di depan ?”

“Pak, ada jalan tikus nggak buat motong jalan ?”

Dan sekian ratus pertanyaan lainnya……

Mungkin kalau pak supir bisa nge-rate penumpang, kita udah dikasih bintang 1 kali ya.

Secercah harapan tiba ketika jalur masuk bandara Soetta lancar, tapi itu sudah pukul 11:00 WIB !. It’s means we just have 15 minutes remains.

Ri, pokoknya pas turun kita langsung lari ya, nggak mau tahu !

Ok, siapin passport, tiket dan pakai ranselnya dari sekarang” kata Riri sambil mengencangkan tali ranselnya.

Mobil berhenti dan kami langsung lari tunggang langgang bak kesetanan menuju counter check in. Muka petugas maskapai cemas melihat kami yang baru datang. Ia langsung menelpon petugas on board terkait status penerbangan kami, apakah masih bisa masuk atau tidak. Rasanya ketegangan saat itu mengalahkan ketegangan masuk rumah hantu di pasar malam. Doa dalam hati saya pun terus mengalir deras, semoga rencana backpacker ke Nepal ini dilancarkan.

“Ok mba, bagasi nya langsung disini ya, silahkan segera ke imigrasi dan boarding” Kata si petugas counter check in.

Allahuakbar !, inikah yang namanya semesta mendukung. Tanpa pikir panjang saya dan Riri langsung lari pontang panting ke bagian imigrasi dan boarding gate. Saya yakin penumpang lain yang melihat pasti punya pikiran sama, “Wah pasti mereka lari-lari mengejar pesawat !” dan mustahil ada yang berpikir “Wah pasti mereka lari-lari mengejar jodoh !”

Kaki Hobbit dan paru-paru korban polusi Jakarta, membuat nafas kami terengah-engah sesampainya di ruang tunggu boarding. Hingga kemudian petugas maskapai menyambut kami dengan senyum ramahnya.

“Mba silahkan tunggu sebentar ya, pesawatnya delay 25 menit karena ada delay di Kuala Lumpur tadi”

Apa ?! Delay ?! (kaget sambil terengah-engah)

Sekujur tubuh pun terkulai lemas tapi hati ini lega karena delay terkadang membawa berkah. Pantas petugas check in masih memperbolehkan kami masuk tapi tidak bilang kalau pesawatnya delay. Ini adalah delay paling membahagiakan seumur hidup. Berkat delay kami jadi pergi backpacker ke Nepal.

backpacker ke Nepal
Muka bahagia kena delay

“Terus buat apa kalian berdua lari dari gate check in kalau begitu ???”

Hmmm, namanya juga efek panik, nggak kepikiran tanya pesawatnya delay atau enggak. Yaaah, hitung-hitung latihan fisik persiapan untuk trekking nanti. Semenjak saat itu saya berjanji tidak akan bersantai lagi jika ingin naik pesawat.

Transit di Kuala Lumpur

Ngomong-ngomong, kami terbang menuju Kathmandu Nepal dari Jakarta menggunakan Malaysia Airlines dengan transit dahulu di Kuala Lumpur. Ya, memang belum ada penerbangan langsung Jakarta – Kathmandu via maskapai manapun. Jadi kami harus transit dulu 5 jam di Kuala Lumpur, dan rencananya akan sampai di Kathmandu pukul 23:00 waktu setempat.

backpacker ke Nepal
Let’s go to Nepal
di dalam kabin Malaysia Airlines
di dalam kabin Malaysia Airlines

Penerbangan menuju Kuala Lumpur berjalan lancar. Di dalam pesawat kami masih menertawakan kejadian tadi sekaligus super excited petualangan dadakan ini akhirnya terlaksana. Pesawat landing di KLIA 1, lima jam transit kami habiskan dengan pusing-pusing keliling bandara, internetan pakai wi-fi gratis dan tidur di rest area.

“Kenapa kami tak pusing-pusing  ke KL city center saja pakai monorail bandara ?”

Hmm, kami sebenarnya ingin sekali, tapi melihat antrian imigrasi yang panjang sekali waktu itu, kamipun urungkan niat karena takut kejadian nyaris ketinggalan pesawat tadi terulang.

KLIA 1 yang modern
KLIA 1 yang modern (credit to : @superirio)
Senangnya Riri bertemu pujaan mulutnya, coklat !
Senangnya Riri bertemu pujaan mulutnya, coklat !
Senja di KLIA 1
Senja di KLIA 1 (credit to : @superirio)

Lima jam penantian berakhir, kami pun bergegas menuju boarding gate pesawat. Setelah menunggu sekitar 15 menit , pihak maskapai kemudian mengumumkan bahwa pesawat delay sekitar 1 jam dan harus pindah gate.

Delay lagi !??

Yasudahlah, untungnya saya tak pergi sendiri, walaupun mati gaya ada Riri yang tidak pernah bisa diam walaupun sedang tidur (a.k.a ngorok bernafas). Kami pun membunuh waktu sambil tebak-tebakan rombongan ini dari negara mana, mas bule yang itu mau hiking apa cuma backpacker ke Nepal aja. Mba-mba yang itu dari Filipina atau Thailand. Dan kira-kira ada yang bisa di prospek atau tidak untuk patungan taksi bareng dari Bandara Tribhuvan ke Thamel Area.

Di tengah penantian delay, saya masuk angin (ternyata penyakit ini Go Internasyenell~~ juga ya). Mungkin karena kurang tidur dan kena AC terus-terusan, atau mungkin kebanyakan minum air mentah (free drinking water) di bandara. Maklumlah, kami tak bisa bawa minum ke pesawat dan sayang uang kalau harus jajan di duty-free shops (mahal boss!). Apapun itu, nikmati saja toh ini petualangan bukan liburan.

Antri, delay dan pindah-pindah gate. huuft
Antri, delay dan pindah-pindah gate. huuft

4 jam penerbangan saya habiskan dengan tidur, makan, tidur lagi karena masih mual efek masuk angin. Untungnya saya orang pintar jadi bawa Tolak Angin obat (korban iklan). Seorang Bapak paruh baya berwajah Indiahe yang duduk di sebelah saya, sempat menanyakan keadaan saya yang kata dia seperti orang sakit.

“Are you okay ?” I will call the stewardes if you need some medicine.

“Oh, no, I’m ok sir.  thanks sir, I’m just lacking of sleep, I’ll be better if going back to sleep”.

“Okay, just get some rest”

Ternyata beliau tinggal di Kathmandu, ia seorang yang baik hati, kami sempat mengobrol sebelumnya. Ia bercerita habis mengajak anaknya mengunjungi Malaysia dan Singapura agar anaknya punya pengalaman melihat dunia. Ia juga menanyakan agenda perjalanan saya, dan memberi sedikit tips tentang wisata di Nepal.

Akhirnya Kesampaian Bertualang ke Nepal

“Flight attendants, prepare for landing please.”

“Cabin crew, please take your seats for landing.”

Suara sang pilot membangunkan saya, awan kelabu dan langit gelap tentunya masih menghiasi flight malam ini. Sayang sekali tak bisa memilih flight siang, saya penasaran melihat jajaran pegunungan Himalaya dari atas pesawat. Tapi syukurlah flight malam kami aman walaupun beberapa kali mengalami turbulensi.

CVOW8995

backpacker ke Nepal
Udara sejuk menyambut kami bandara Tribhuvan

Sekitar pukul 00:30 waktu Kathmandu pesawat kami landing disambut patung emas bertulis “Welome to the land of Lord Budha” di Bandara Tribuvhan. Sepertinya kami adalah penumpang dari pesawat terakhir hari ini. Ruang area imigrasi di bandara ini sudah sepi sekali saat kami datang, kami pun bergegas mengurus Visa On Arrival. Oh iya, mengurus VOA ini jadi satu hal yang saya khawatirkan ketika ingin backpacker ke Nepal, pastinya karena takut dipersulit apalagi English saya juga seadanya. Namun kekhawatiran saya sirna karena petugas sangat ramah membantu kami mengurus Visa On Arrival.

Suasana di bagian imigrasi bandara Tribhuvan
Suasana di bagian imigrasi bandara Tribhuvan
Interograsi dengan petugas imigrasi
Interograsi dengan petugas imigrasi, pertanyaan seputar “How many days you will stay?”, “Where do you want to go?”, What do you want to do in Pokhara?” Intinya seputar aktifitas apa yang mau kita lakukan selama backpacker ke Nepal.

Visa sudah ditangan, kami bergegas mengambil bagasi menuju money changer Bandara Tribhuvan untuk menukar USD dengan Nepal Rupees. Ingat rupiah tidak berlaku disini, jadi kalian harus bawa USD/Euro atau mata uang lainnya seperti yang tertera di bawah.

backpacker ke Nepal
Rate money changer di Bandara Tribhuvan

Setelah ambil bagasi, kami langsung disambut beberapa supir taksi di pintu keluar bandara. Mereka menawarkan tarif  sekitar Rs 800 dengan alasan sudah diatas jam 23:00. Tarif ini sedikit lebih lebih mahal dari harga normal sekitar Rs 500- Rs 700 di jam normal (tergantung nego). Tak apalah setidaknya ini taksi bandara resmi, kami tak khawatir kena tipu. Sang driver langsung menanyakan alamat hostel kami di Thamel, lalu dengan sukarela menelpon pemilik hostel untuk mendapat lokasi pasti. Sebaiknya untuk backpacker ke Nepal ini, kalian sudah booking penginapan di Thamel Area dari Jakarta agar tidak repot lagi cari penginapan dan bisa langsung diantar taksi.

Oh iya, jangan harap taksi yang kalian naiki seperti sedan Blue Bird, taksi-taksi di Khatmandu sangat kecil seperti mobil Hyundai Atoz /Suzuki dan pastinya non AC dan plus semilir debu !

Hingar Bingar Thamel Area

Saat memasuki kawasan Thamel sekitar jam 2 dinihari kami kira sudah sepi. Ternyata kami salah, jalanan masih sangat ramai, pemuda-pemudi berseliweran. Ada rombongan anak muda tertawa sambil menenteng minuman keras, ada pula pasangan kekasih yang sedang bertengkar di pedestrian ala drama Bollywood. Musik Hip Hop, Hindi, Rock berdentum keras di beberapa cafe, pub, bar yang bertebaran di Thamel Area, seakan tak mau kalah dengan bunyi klakson motor, taksi dan rickshaw yang berebut jalan.

Ahh, ternyata tiap Jumat malam kawasan Thamel selalu macet sperti ini. Driver taksi memberi tahu bahwa hari libur di Nepal adalah Jumat setengah hari dan Sabtu. Jadi malam ini adalah malam berpesta warga Nepal melepas penat kerja sehari hari.

“Namaste ! Welcome to Mandala Hotel” sambut sang pengelola hotel dengan ramah.

Untungnya kami sudah mengirim email saat di KLIA 1 bahwa pesawat kami delay dan akan datang telat, jadi pengelola masih menunggu kami. Setelah mengisi data tamu, kami pun bergegas tidur karena mesti check out jam 6 pagi untuk mengejar tourist bus ke Pokhara pukul 7.00 pagi. OMG, jadi kami sewa hotel Cuma untuk tidur 4 jam !. Hahahaha biarlah, bukankah petualangan sudah menanti esok pagi? 🙂

Penamapakan Mandala Hotel, Thamel, Kathmandu
Penamapakan Mandala Hotel, Thamel, Kathmandu

Tunggu-tunggu saya dapat pesan dari editor saya (Riri) untuk review Mandala Hotel Thamel ini. Overall sih cukup baik pelayanannya, nggak spooky dan murah untuk kantong backpacker (USD 7 /malam). Kami booking via Hotel.com dan bayar on the spot. Letaknya juga nggak jauh dari halte tourist bus ke Pokhara. Cuma saja si Riri kessyelllll~~~~ karena kondisi hotel yang berdebu dibagian furniture-nya dan gelas yang ratusan juta tahun nggak dicuci. So, we are not recommend this hotel, apalagi yang alergi debu. Untungnya sih cuma 4 jam doang disini jadi nggak masalah bagi kami.

Ok, sekian dulu, Selamat pagi Kathmandu dan selamat tidur 🙂

*PS: Untuk detail harga, ittinerary, tips n trick selama backpacker ke Nepal bisa dilihat di postingan ini.

2 Comments

  1. Ya ampuuun mba, ikut deg2an pas nyampe bandara jam 11 hahahaha. Aku blm pernah separah itu telatnya sih :p. Untung aja masih bisa masuk yaaa..

    Duuuh nepal itu msk wishlistku jugaaa. Moga2 thn depan bisa kesana. Pgn banget pas winter kesananya.. Banyak yg bilang, nepal itu walo msh sedikit oldies dan jadul negaranya, tp nth kenapa kalo difoto semua terlihat indah :D.

    1. Antin

      hahahaha iya mba Fanny, aku sama temenku sok mau ngirit malah jadi nyaris ketinggalan, untung masih rezekinya jadi malah ada cerita lucunya. Terima kasih ya sudah mampir, akupun kalau ada rezeki masih pengin balik lagi kesana, tenang aja semua oldiesnya akan ketutup sama keindahan alamnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *