Nepal’s Journey Day 9 : Happy Ending di Boudhanath Temple

Akhirnya sampai juga saya di postingan terakhir mengenai jurnal perjalanan saya ke Nepal di Agustus 2017. Ternyata menulis dengan gaya jurnal harian cukup menyita waktu. Butuh waktu yang panjang dan mengumpulkan niat yang kuat untuk menyelesaikan cerita perjalanan ini sedetailnya. Tapi tak mengapa, saya tak ingin melewatkan hal sekecilpun dalam perjalanan mengesankan ini, karena saya tahu saya akan menjadi seorang pelupa.

Selesai mengeksplore Durbar Square kami memutuskan untuk makan siang dulu. Karena kami berdua sama-sama tidak suka masakan kari, restoran junk food lokal jadi incaran kami. Syukurlah kami menemukannya dan harganya juga terjangkau. Kami pesan burger dan momo (snack tradisional Nepal sejenis pastel/panada kalo di Indonesia) isinya daging ayam cincang yang dilengkapi saus kari.

momo
Momo, camilan/snack khas Nepal

Ada kejadian lucu disini ketika saya pesan minuman Fresh Lemon Soda, sepertinya enak dicuaca panas dan berdebu seperti ini minum air lemon. Penampakannya sih sama seperti lemon soda umumnya, tapi pas saya minum rasanya…..asin!!!

Ok, ini memang rasanya seperti ini atau kokinya salah masukin bahan ?. Saya beri tahu Riri dan suruh ia mencobanya. Icip sedikit dia langsung menyudahi. “Ihhh ini kokinya singit kali ya, garam dikira gula”. HAHAHAHA kena deh si Riri. Akhirnya kami pun bertanya secara sopan kepada pemiliknya apakah memang rasanya seperti ini ataukah kokinya salah masukan bahan. Si ibu pemilik pun memberi tahu bahwa memang minuman fresh lemon soda menggunakan garam himalaya yang kaya mineral. Katanya itu baik bagi tubuh dan cepat membuat tubuh fresh kembali. Akhirnya terpaksa saya minum juga walau cuma setengah daripada mubazir. Lucu sih rasanya minum lemon soda asam asin kaya permen nano-nano.

Kenyang mengisi perut, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Boudhanath destinasi ketiga kami yang terletak di pinggiran timur Kathmandu. Si Ibu pemilik resto  yang cukup fasih berbahasa Inggris memberi tahu kami arah jalan. Jalanan masih panas dan berdebu, walaupun tidak macet tapi karena banyak persimpangan jalan yang tidak ada lampu merah, kesannya jadi semrawut. Suasana makin terasa semrawut karena di jalan raya kabel listrik terpasang sembarangan. Ajaibnya banyak monyet yang berkeliaran dan bergelantungan di kabel listrik. Duh-duh itu kalo mereka kesetrum bisa jadi monyet panggang, nggak kebayang liatnya!

Karena berkendara tanpa GPS, hampir di persimpangan jalan kami bertanya arah ke Boudhanath, selain mengandalakan papan penunjuk jalan ke Boudhanath. Untungnya orang-orang Nepal sangat helpfull. Saya juga agak bingung bagaimana akhirnya kami bisa sampai di depan Boudhanath tanpa kesasar.

debu

semrawut
Kusam, berdebu dan semrawut itulah kesan  dari Kota Kathmandu

Lagi-lagi kami tidak tahu dimana tempat parkir resmi dan pintu masuk utama. Berbekal pede dan baca Bismillah kami parkir saja motor sewaan di dekat motor-motor warga lokal yang juga sedang di parkir. Lalu kami melihat pintu kecil dimana banyak warga lokal keluar masuk. Kami ikuti saja kerumunan warga lokal itu dan berhasil masuk tanpa beli tiket !! Entah ini rezeki atau keberuntungan. Jadi di 3 destinasi tujuan di Kathmandu kami sama tak mengeluarkan biaya tiket masuk.

Sesampainya di area dalam Boudhanath ternyata ramai sekali seperti pasar. Selain warga lokal dan wisatawan yang berkunjung, banyak juga terlihat biksu-biksu yang sedang berziarah. Jadi memang Boudhanath ini adalah stupa terbesar di Nepal dan kuil Buddha Tibet paling suci di luar Tibet. Ini adalah pusat budaya Tibet di Kathmandu dan kaya akan simbolisme Buddha.

DSC03993
area di sekeliling Boudhanath
Boudhanath
salah satu kuil di area luar Boudhanath
Boudhanath
Peziarah yang sedang berdoa
Boudhanath
Peziarah dari jauh yang menghabiskan siang dan malam di Boudhanath
Boudhanath
lonceng yang dibunyikan secara berkala

DSC03999

Menurut SacredDestination.com Stupa Boudhanath dibangun pada abad ke-5, dan merupakan salah satu Stupa paling kuno, terbesar, dan termegah di dunia. Ini adalah tempat ziarah dan penyembahan yang paling penting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Diyakini bahwa siapa pun yang bersujud dan berkeliaran dengan hati yang murni di stupa besar ini akan menciptakan karma yang baik yang menghasilkan memenuhi semua keinginan mereka.

Boudhanath
Stupa emas Boudhanath

Bentuk bangunan Boudhanath mirip dengan Swayambunath yang kami kunjungi sebelumnya, bagian atasnya berbentuk menara persegi bertuliskan mata Buddha yang ada di keempat sisi. Elemen menara persegi tersusun dari 13 piramida yang mewakili tangga menuju pencerahan. Di puncak menara terdapat kanopi berlapis emas. Bendera doa/prayer flag yang diikat ke stupa berkibar tertiup angin, yang diyakini para penganut Buddha mampu membawa mantra dan doa sampai ke surga.

Boudhanath
Prayer flag yang berkibar

DSC08192

DSC08194

Boudhanath akan semakin cantik jika dikunjungi kala senja karena stupa emas akan berkilau terkena cahaya senja. Sayangnya sore itu langit agak mendung jadi kami tidak bias mengabadikannya.

Saat menatap langit biru yang mulai meredup, kami sadar bahwa ini langit biru Nepal terakhir di perjalanan kami. Tentunya kami berharap bias menemui langit Kathmandu kembali, kota yang menjadi titik awal perjalanan para petualang besar dan kami harap bisa menjadi bagiannya.

Puas mengabadikan lewat foto, kami pun mengabadikan suasana sore itu dalam ingatan kami. Suasana dimana banyak burung dara beterbangan mengiringi langkah peziarah yang berkeliling stupa. Suasana dimana terdengar suara lonceng bergema menyatu dengan riuh suara para pengunjung dan suara lantunan mantra doa yang terdengar samar.

Sudah jam 5 sore, saatnya kami kembali ke Thamel untuk mengembalikan motor sewaan dan mempersiapkan kepulangan kami ke Jakarta. Kami sempat berkeliling Thamel sekali lagi untuk membeli oleh-oleh. Pukul 8 malam taksi yang sudah dipesan pun tiba, kami berpamitan dengan pemilik hostel. Di dalam taksi saya menatap ke jendela sambil menikmati suasana kota Kathmandu terkahir kalinya. Dari dalam hati saya juga berpamitan dengan orang-orang dan tempat baru yang kami pernah temui dan kunjungi. Sampai jumpa Dai Raj, Dai Danesh, Lakpa, Mr.Purna, Mr.Serge, Lorenzo, Dino. Sampai jumpa Thamel, Kathmandu, Pokhara, Tikedhunga, Gorephani, Poon Hill, Gandhruk dan tentu saja Himalaya. Jakarta telah memanggil kami pulang, kata pulanglah menjadi tujuan akhir yang kami sesungguhnya. Saya mencoba membesarkan hati dengan mengingat perkataan Riri, jika tidak perjalanan tidak diakhiri maka tidak ada yang dimulai kembali.

Mari membangun mimpi kembali ke Himalaya dan mewujudkan dengan tekad. Himalaya akan selalu ada menunggu saya, kami, kamu dan kita untuk berjumpa dengannya.

*PS: Untuk detail harga, ittinerary, tips n trick selama backpacker ke Nepal bisa dilihat di postingan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *