Menyinggahi Pulau Merak Besar di Ujung Barat Jalur Kereta Api Pulau Jawa

Sebagai pencinta kereta api,  menelusuri seluruh jalur kereta api di Indonesia apalagi di dunia adalah salah satu mimpi terbesar dalam hidup saya. Tahun ini saya punya target untuk melengkapi rute jalur kereta yang masih aktif di Pulau Jawa karena ada beberapa jalur yang belum saya pernah lalui, seperti jalur Semarang-Surabaya, Jogja-Semarang, Probolinggo-Banyuwangi, Bandung-Cirebon dan Jakarta-Merak. Walah masih banyak yaa, sayangnya waktu dan uang belum memihak. Awal Oktober lalu sebenarnya saya sudah membeli tiket kereta ke Banyuwangi untuk menelusuri ujung timur Pulau Jawa namun harus saya batalkan karena Ibu saya sakit. Sebagai pelipur lara akhirnya saya memutuskan untuk menelusururi ujung baratnya dengan one day trip ke Merak.

Beruntung saya ditemani Novi dan Erlin yang mau diajak jalan tanpa tahu apa yang mau dilakukan di tempat tujuan. Yap kami  Nothing to Lose saja untuk model trip seperti ini, yang penting bisa jalan murah meriah. Untuk menuju Merak kita bisa menggunakan KA Patas Merak dengan tarif Rp. 8.000 ,berangkat dari Stasiun Angke jam 7:09 WIB dan sampai di Merak sekitar pukul 11:00 WIB. Sayangnya Commuter Line tidak berhenti di St. Angke sehinngga kami harus turun di St.Duri yang menurut info disinggahi KA tersebut. Syukurlah sesampainya di St.Duri pukul 06:00 WIB, petugas yang kami tanya mengiyakan bahwa kami bisa naik KA Patas Merak dengan membeli tiket di loket khusus KA Lokal (buka pukul 06:30 WIB). Setelah membeli tiket kami menunggu di Jalur 2, menurut jadwal KA Patas Merak tiba pukul 7:15 WIB, tapi baru pukul 7:35 WIB kereta tiba.

DSC_9708
Jadwal Kereta Lokal di St.Duri

Kami kira kereta masih kosong, tapi ternyata salah, tempat duduk semua sudah terisi dari Stasiun Angke dan penumpang terus bertambah hingga stasiun Parung Panjang, sehingga kami harus berdiri berdesakkan. Kami sempat patah semangat ketika membayangkan harus berdiri selama 4 jam kedepan apalagi ditambah kondisi kereta yang sumpek. Kami jadi ingat pesan petugas di St.Duri yang mewanti-wanti agar menjaga barang bawaan, “oh jadi begini toh maksudnya” dalam hati saya, kami harus ekstra waspada di dalam gerbong.

Jika dibandingkan dengan KA Lokal Purwakarta (tarif Rp.6.000) kondisi KA Patas Merak ini sangat memprihatinkan. Di KA Lokal Purwakarta walau terkadang ada penumpang yang berdiri namun tidak berdesakan seperti ini, ada petugas pemeriksa karcis dan Polsuska. Namun hal itu tak saya temukan di kereta ini, bahkan air di toilet pun tidak ada, penumpang berdesakkan hingga ke pintu dan sambungan kereta. Sungguh memprihatinkan, seharusnya KAI menambah jadwal perjalanan untuk mengakomodir penumpang yang membludak, setidaknya saat weekend. Saya agak sangsi, menurut saya faktor yang membuat KA penuh sebenanya adalah karena tidak ada pemeriksaaan tiket, sehingga banyak penumpang gelap dan tidak ada pembatasan jumlah penumpang.

Untungnya setelah 2 jam berdiri penderitaan kami berakhir, di St. Rangkas Bitung banyak penumpang turun sehingga kami dapat duduk. Akhirnya kami bisa menikmati pemandangan lewat jendela yang di dominasi persawahan dan perbukitan. Baru setelah memasuki kota Cilegon mulai terlihat bangunan pabrik di kanan kiri jalur kereta.

DSC_9710
Pemandangan persawahan dari jendela kereta

Untuk mengusir kebosanan dan kegerahan kamipun duduk di pintu Kereta, hahahah kapan lagi bisa gelantungan di pintu kereta.

DSC_9721
Novi dan pengalaman pertamanya duduk di samping pintu *jangan ditiru ya *korban ajaran sesat saya
DSC_9723
Erlin yang sangat menikmati sensasi gelantungan *korban ajaran sesat kedua

“Waaaaaahhh itu lauttttt!!!” tiba-tiba Erlin dan Novi berteriak.

DSC_9724
Hamparan laut biru dihiasi kapal-kapal Ferry menyapa kami

Semangat kamipun menggelora kembali, jarang-jarang bisa melihat pemandangan laut dari jendela Kereta, seingat saya pemandangan seperti ini bisa kita temukan juga di jalur Kereta saat akan memasuki kota Semarang dari arah Jakarta. Pukul 12:00 WIB kereta tiba di tujuan akhir Stasiun Merak, telat 1 jam, tapi yasudahlah rasanya bukan KA lokal jika tidak telat.

DSC_9726
Akhirnya sampai juga di ujung barat jalur kereta Pulau Jawa dan ternyata ujung relnya benar-benar putus.
DSC_9728
Semoga kedepannya ujung rel itu bisa bersambung hingga ke tanah Adalas

Setelah turun di stasiun dan sholat Dzuhur, kamipun melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Merak yang memang bersebelahan dengan stasiun dan langsung terhubung dengan jembatan penyebrangan. Antara norak dan exited, itulah yang terjadi pada kami yang baru pertama kalinya ke pelabuhan Merak. Ternyata saya salah saya duga, pelabuhan yang saya kira kumuh, banyak calo dan penumpang berseliweran ternyata cukup tertata rapi dan tertib penumpangnya.

DSC_9730
Pemandangan di Pelabuhan Merak yang bersih dan rapih 

Di kejauhan tepatnya di seberang pelabuhan kami melihat pulau kecil dengan beberapa pengunjung. Kamipun bertanya pada kasir Indomaret bagaimana cara mengunjungi pulau tersebut, karena kami tidak riset sama sekali bahkan tidak tahu ada pulau tersebut. Untuk ke Pulau yang ternyata bernama Pulau Merak Besar, kami harus naik angkot merah dan turun di gang samping Polres pelabuhan Merak (sekitar 1-2 km dari Peabuhan) lalu kemudian naik perahu ojek menuju pulau tersebut. Menurut kasir Indomaret tarif ojek perahu ke Pulau Merak Besar biasanya Rp. 15.000 PP /orang, tapi karena yang naik hanya kami bertiga maka disepakati harga Rp. 20.0000 PP/org.

DSC_9731
Perahu Ojek yang siap mengantar pengunjung menyebrang ke Pulau Merak Besar dan Merak Kecil

DSC_9736
Prinsip saya dalam travelling “Nothing to Lose” karena kita akan lebih banyak menemukan hal tidak terduga 

Yap dimulailah pelayaran tak terduga ini, perahu kami langsung berlayar menuju Pulau tersebut, hanya butuh sekitar 10 menit untuk sampai. Setelah bertukar nomor HP dengan tukang perahu untuk minta dijemput kembali pukul 16:00 WIB, kami segera menelusuri bagian atas pulau ini melalui anak tangga.

DSC_9747
Bagian atas pulau yang didomiasi pepohonan kering karena kemarau
DSC_9744
Ternyata benar ada petilasan yang konon makam si Jampang, menurut tukang perhau pulau Merak Besar sering dikunjungi para peziarah.

Tak jauh dari makan si Jampang ada beberapa makam lagi, tapi karena cuma kami saja yang ada di sekitar makam dan hawanya udah nggak enak kamipun memtuskan segera turun ke bawah kembali.

DSC_9756
Tangga menuju petilasan agak curam, jadi hati-hati ya

Saya agak terkejut air laut cukup bening untuk ukuran sebuah pulau yang dekat dengan pelabuhan. Sayangnya kami tidak bawa baju ganti, sehingga tidak bisa berenang di laut, padahal iri sekali melihat beberapa pengunjung sedang asyik berenang.

DSC_9770
Rombongan keluarga yang sedang piknik sambil berenang

DSC_9767
Air lautnya bening, tapi sayang kami tak bawa baju ganti

DSC_9763

Akhirnya kami duduk-duduk saja sambil menikmati pemandangan laut yang diramaikan diaktifitas kapal-kapal Ferry yang sedang berlabuh. Di pulau tak berpenghuni ini ternyata masih ada monyet liar, entah masih bisa dibilang liar atau tidak, karena si monyet mendekati kami sambil pasang muka memelas, melihati makanan kami.

DSC_9771
Erlin tak segan-segan memberi astor bawaannya hingga habis setengah bungkus di makan si monyet

Angin laut sepoi-sepoi membuat saya terlelap, sungguh nikmat tidur siang diatapi rindang pohon dan dinyanyikan desiran ombak. Awalnya kami berencana untuk pulang naik KA Patas Merak arah balik ke Jakarta yang berangkat pukul 14:30 WIB, tapi karena kami menemukan Pulau ini kamipun memutuskan untuk pulang naik bis saja (waktu tempuh +/- 4 jam) agar bisa lebih lama bermain di sini. Cemas akan kena macet di jalan dan besok pagi harus bekerja kembali, pukul 16:00 WIB kami sudah naik perahu untuk pulang. Saat pulang kami tidak naik angkot lagi karena bapak tukang perahu dengan baik hati menurunkan kami di jalan tembus menuju terminal. Kebetulan sekali bis Primajasa tujuan Kp.Rambutan yang kami cari akan segera berangkat, sehingga kami tak perlu menunggu lama lagi. Dan berakhirlah petualangan singkat ini, sampai jumpa Merak, terima kasih atas atas cerita petualangan yang tak terduga ini.

IMG-20151109-WA0016
Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan travelling

Cost Trip (per 8 November 2015)

  • Tiket KA Patas Merak : Rp. 8.000
  • Angkot Pelabuhan-Polres : Rp. 3.000
  • Ojek perahu ke Pulau Merak Besar PP: Rp. 20.000
  • Bis Primajasa Merak-Kp.Rambutan : Rp. 28.000
  • Perbekalan, toilet dll digenapkan : Rp. 21.000

Total +/- : Rp. 80.000

Tips :

  • Sebaiknya diusahakan naik dari St.Angke biar dapat tempat duduk
  • Jika ternyata tidak dapat tempat duduk, langsung cari tempat berdiri di bawah AC
  • Perahu Ojek lebih murah kalau yang naik > 10 orang, jadi sebaiknya cari barengan ya
  • Kalau belum terbiasa berdesakan di KA lokal sebaiknya naik bisa Primajasa saja untuk menuju Merak
  • Jangan sampai kena calo bis ya, bayar tiket bis langsung dengan kenek bis berseragam ya.

 

One Comment

  1. Pingback: Peta Pulau Jawa Jalur Kereta Api - Kumpulan Quotes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *