Menunggu Kembali Bangkitnya Gunung Padang

Kalau kalian yang suka mengenai bangunan peninggalan jaman dahulu pasti sudah tahu kan sama penemuan situs megalitikum Gunung Padang yang berita penemuannya cukup menggemparkan karena diperkirakan usianya jauh lebih tua dari Candi Borobudur. Sayapun penasaran mengunjunginya langsung karena selama ini saya hanya tahu dari pelajaran sejarah di sekolah. Tanggal 17-18 Januari 2015 lalu, saya dan 2 orang teman SMA saya, Manda dan Titi memutuskan untuk ngebolang kesana.

Sebenarnya Gunung Padang bisa dikunjungi dengan oneday trip, tapi untuk lebih menikmati alam kami memilih bermalam disana. Untuk menuju Gunung Padang kami memilih untuk naik kereta KA Pangrango (Bogor – Cianjur) agar bisa lebih menikmati pemandangan. Setelah menempuh sekitar 3 jam perjalanan, kami turun di stasiun Lampegan yang merupakan stasiun terdekat dari Gunung Padang. Dari Lampegan kami teruskan dengan naik ojek.

Oh iya sesampainya di stasiun Lampegan jangan langsung ke Gunung Padang karena ada tempat menarik yang bisa kalian jelajahi yaitu terowongan kereta Lampegan.

Terowongan Lampegan, yang konon agak horor karena waktu pembuatannya menelan korban.
Terowongan Lampegan, yang konon agak horor karena waktu pembuatannya menelan korban.
??????????
Bersiap menelusuri Terowongan
Di dalam terowongan
Di dalam terowongan

Terowongan ini tercatat sebagai terowongan kereta tertua di Indonesia yang dibangung tahun 1879-1882. Dari yang saya baca di majalah NatGeo Traveler, nama Lampegan berasal dari bahasa Belanda “Lampen Aan” yang artinya nyalakan lampu. Jadi ketika mau masuk terowongan si masinis berteriak seperti itu, namun terdengar oleh penduduk menjadi Lampegan dan kemudian terkenal seperti itu. Seru sih menjelajah terowongan seperti itu, secara kami cuma bertiga dan hanya bermodal flashlight di HP kami.

Setelah naik ojek dengan jarak +/- 8km kami sampai di depan gerbang masuk Gunung Padang. Karena bertujuan untuk menginap kamipun mencari homestay dahulu dan kami dapat tidak jauh dari pintu gerbang dengan harga 100rb/malam, bisa muat hingga 4 orang.

Pintu gerbang kawasan Gunung Padang
Pintu gerbang kawasan Gunung Padang

Sore hari sengaja kami habiskan untuk bersantai di penginapan dan kemudian jalan-jalan disekitar desa Gunung Padang. Oh ya, kalau malam hari saat langit cerah langitnya banyak bintang, sayang kamera saya kurang canggih. Hmm mungkin next time seru kali ya camping diatas bukitnya sambil menikmati bintang dan gemerlap cahaya lampu kota Cianjur di malam hari.

??????????

Area persawahan di sekitar Gunun Padang
Area persawahan di sekitar Gunung Padang

Baru pada subuh harinya jam 5 pagi kami naik ke puncak Gunung Padang berharap bisa melihat sunrise disana. Tangga menuju puncak terbagi 2, ada tangga Purba dan buatan baru. Tangga Purba lebih pendek jaraknya namun lebih curam sedangkan tangga baru lebih landai namun memutar lebih jauh. Sekitar 30 menit kami naik keatas, dikejauhan masih terlihat kerlip lampu kota Cianjur.

Sampai juga di teras teratas di teras lima, perlahan sang surya mulai tampak, di kejauhan juga nampak Gunung Gede Pangrango namun sayang tak seberapa lama tertutup awan dan kabut karena masih musim hujan.

??????????
Menhir di teras teratas yang masih dalam proses penataan kembali
??????????
Manda sedag hunting Foto
??????????
Gunung Gede-Pangrango jadi background kami
??????????
Kabut mulai turun

Selesai dari teras kelima kami turun ke teras keempat. Akhirnya bisa liat langsung Menhir bukan di museum, bukan di buku tapi langsung di tempat penemuannya dan saya bangga jika suatu saat nanti Gunung Padang sudah berdiri kembali dan famouszzz a.k.a ngehitzz bingits, saya bisa cerita ke anak cucu saya bahwa saya pernah melihat langsung proses penemuannya. Yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah, Arkeolog hebat banget bisa nyusun batu-batu yang berserakan itu menemukan pasangannya (*ciee, Menhir aja punya pasangan, masa kamu engga :P).

??????????

Puas menikmati sejuknya udara pegunungan dan berfoto-foto kamipun kembali ke bawah. Nampak beberapa pengunjung batu mulai berdatangan, rajin sekali ya kami mereka datang kami pulang. Demi menghemat anggaran kami tidak pakai jasa guide, jadi ya penjelasannya kami cari tahu saja dari internet.

??????????

Setelah istirahat dan makan siang kamipun kembali ke Jakarta via Elf Cianjur-Bogor karena kami kehabisan tiket kereta pulang. Jadi rutenya dari Gunung Padang ngojek ke Babedahan, lalu naik angkot ke Warung Kondang, kemudian baru naik Elf ke Bogor via jalur puncak, kemudian dari Bogor lanjut deh naik Commuter Line. Okay sekian cerita perjalanan saya, mari kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cintai negerimu. Semoga bermanfaat!!

??????????Cost Perjalanan ke Gunung Padang 2h1m :

  • Commuter Line Ps.Minggu – Bogor PP: Rp. 8000
  • Tiket KA Pangrango: Rp. 40.000
  • Ojek Lampegan – Gn Padang: Rp. 35.000
  • Penginapan 100rb/3org: Rp. 33.000
  • Tiket Masuk Gn Padang: Rp. 4.000
  • Makan 2x : Rp. 20.000 (bawa bekel jg biar ngirit)
  • Ojek Gn Padang – Babedahan: Rp. 35.000
  • Angkot Babedahan – Warung Kondang: Rp. 5.000
  • Elf Warung Kondang – Bogor: Rp. 20.000
  • Angkot Bogor (Botani Square) – Stasiun: Rp. 3.000
  • Total: Rp. 203.000

Tips:

  • Pas di Lampegan atau mau pulang dari Gn Padang siap-siap diserbu tukang ojek, kalian harus jago nawar karena mereka nawarinnya bisa 3x lipat.
  • Begitupun dengan homestay, harus tawar serendah mungkin, karena awalpun saya ditawari 200rb/malam. Mungkin kalo mau lebih murah bisa jalan menjauhi loket masuk karena cukup banyak rumah penduduk, kali-kali aja jauh lebih murah kan.
  • Kalo subuh-subuh mau naik keatas buat liat sunrise kan loketnya belum buka tuh, nanti masuk aja gpp bayarnya pas turun pulang, kalo ditawari guide bilang aja udah pernah kesana, jalannya ngga susah kok tinggal ikutin tangga. Kecuali kalo kalian mau dijelaskan sejarahnya.
  • Makanan nasi ramesnya lumayan mahal, ngelebihin harga warteg di jakarta, jadi paling aman dikantong makan beli Indomie Telor terus sama nasi deh.
  • Kalo kalian pergi diatas 5orang mending carter angkot atau mobil aja sekalian, coba searching ya, kontak saya hilang

One Comment

  1. Pingback: Serunya Sensasi “Terjebak” di Dalam Terowongan Kereta Api Lampegan |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *