Nepal’s Journey Day 2 : Menuju Pokhara, Melangkah Lebih Dekat ke Annapurna

Alarm berbunyi saling bersautan ketika udara dingin dan rasa kantuk masih menggelayuti kami. Sudah pukul 05.30 pagi waktu Kathmandu, kami harus bangun dan bergegas check out pagi ini. Agenda kami hari ini akan menuju kota Pokhara, pintu gerbang utama jika kalian ingin trekking di kawasan Annapurna Circuit. Butuh sekitar 5 jam perjalanan dari Thamel Area dengan menumpang tourist bus tujuan Pokhara. Sambil check out, kamipun meminta bantuan pengelola hotel untuk menunjukkan jalan menuju tempat pemberhentian (shelter) tourist bus tujuan Pokhara.

“Mr, can you show us the way to Tourist Bus Shelter ? We want to go to Pokhara. As we know, its about 2 KM from here.”  tanya kami bergantian.

“Ah, you can go to Green Line Bus Shelter, there are so many Bus who can bring you to Pokhara. Just take to the right and then keep going straight until you meet the crossing road, and then bla bla bla bla………., after that, take to the left and you can see that bus.” Jawab si Mr pengelola hotel.

(Antin dan Riri berusaha mengingat petunjuk tersebut, dan 5 detik kemudian lupa !)

“Ok, I see…we should go to Green Line Bus Shelter right?” Thank you for your information Mr.”

(dalam hati, Mr saya belum ngerti, nanti pakai GPS manual aja deh di jalan a.k.a Gunakan Penduduk Sekitar)

“Ok, you are welcome, take care ! Namaste~~~~”

“Namaste ~~~~” jawab kami kompak.

Cuaca cerah dan sejuk pagi itu, kami berjalan melewati lorong-lorong dan gang Thamel Area yang becek akibat hujan semalam. Berjumpa dengan beberapa warga lokal yang mulai beraktifitas di pagi hari. Melewati jalanan Thamel pertama kali ini lumayan bikin amaze, antara berasa lagi di Cina karena banyak melihat warga dengan wajah etnis Tionghoa tapi sekaligus terasa lagi di India karena bentuk bangunan rumah dan juga warga dengan wajah etnis India.

Jalanan Thamel di pagi hari
Jalanan Thamel di pagi hari

Baru persimpangan pertama kami kami lupa petunjuk arah jalannya, seperti yang sudah diprediksi sebelumnya. Kami pun celingak-celinguk cari orang yang mungkin bisa ditanya. Akhirnya GPS manual pun harus dijalankan saat ini.

Namaste Mr, could you help me, do you know the way to Green Line Bus Shelter ?

Namaste Mr, excuse me, is this the way to Green Line Bus Shelter ? or that way ? 

Kenapa nggak pakai GPS atau Google Maps aja sih Tin ?

Jadi, begini teman-teman, atas ide Riri untuk menghemat pengeluaran, kami tidak membeli simcard lokal, otomatis nggak bisa akses internet pas di jalan.

“Ri, serius nih nggak beli simcard lokal ? Nanti lo ngabarin Bu Tuti gimana ?”

“Iya gausah, biar kita irit, gue udah riset kok orang-orang juga pada ngandelin wifi gratisan di penginapan, tenang aja di Guest House pas trekking nanti juga ada wi-fi kok”. Terang Riri dengan riang gembira karena menemukan trik untuk berhemat.

“Okelah kalau begitu, buat jaga-jaga gue mesti screnshot peta, bookingan hotel, alamat hotel dll di HP, biar aman kalau misal kesasar nggak bisa akses GPS, lo juga ya buat back up, Prepare for the worst pokoknya!”

“Ok Tiny, 86 boss !”

Ide yang sedikit nekat dari Riri, gawat juga kalau sampai terpisah karena nggak ada alat komunikasi kecuali kami menemukan wifi gratis atau pakai telepati. Ide nekat ini cocok untuk yang pacaran karena nggak akan pisah walau lagi marahan kan, apalagi pas di gunung yang sepi, gandengan terus deh. so sweet !~

Ah tapi kok ini sama Riri, whatever … So, Riri never let me walk alone !!

Perjalanan dengan Tourist Bus ke Pokhara

Sekitar 15 menit berjalan, akhirnya kami melihat deretan tourist bus tujuan Pokhara, Cithwan dan kota lainnya. Semacam terminal nggak resmi di pinggir jalan seperti di Jakarta dimana ada deretan bus ngetem sampai belasan jumlahnya.

tourist bus menuju Pokhara
Deretan tourist bus menuju Pokhara dan kota lainnya

Dari hasil riset tarif normal bus ke Pokhara sekitar Rs 500, jadi kami mondar-mandir dulu nego dengan beberapa bus. Ada yang minta Rs 800, Rs 600 tapi akhirnya ada yang kasihan juga dan mau di tawar Rs 500. Mungkin karena lagi low season kali ya, kalau lagi peak season mungkin lebih baik booking dulu via pengelola hotel. Yaaa, walau sebenarnya tersedia hampir sekitar 10 tourist bus tujuan Pokhara yang berangkat bersamaan tiap hari sekitar jam 7 pagi. Ingat hanya jam 7 pagi ya, bukan ada tiap jam  kaya di Indonesia.

backpacker ke Nepal
Foto sama bus dan mas-mas kernet biar nggak salah naik bus kalau lagi di rest area.
baclpacker ke Nepal
Yang mau cari sarapan dan minum, banyak kok yang jual di deket shelter busnya.

Sekitar jam 7 lewat, bus berangkat walau penumpang belum penuh. Beberapa kali ngetem sebentar di suatu daerah entah apa namanya untuk ambil penumpang. Busnya berukuran sedang sekitar 20an penumpang. Cukup nyaman untuk dengan harga Rs 500 menurut saya, karena sudah AC dan bisa recleaning seat juga. Hmm, kalau di Indonesia sekelas bus Primajasa seat 2-2 kali ya.

tourist bus menuju Pokhara
Interior tourist bus menuju Pokhara
tourist bus menuju Pokhara
Enjoy the bus trip

Satu jam pertama kami masih dibuat amaze sama penampakan kota Kathmandu yang kalau kata Riri kaya foto kota jaman dulu pakai filter shepia. Hahahahaha, setuju! Walau banyak di cat berwarna-warni tapi efek jalanan berdebu membuat bangunannya terkesan kusam.

tourist bus menuju Pokhara
Aktivitas warga Khatmandu
tourist bus menuju Pokhara
Lalu lintas kota Kathmandu
tourist bus menuju Pokhara
Kota warna-warni namun tampak kusam (credit to @superirio)

Kami sempat ketiduran di dalam bus, tapi kemudian terbangun oleh guncangannya yang keras. Dan ketika membuka mata , Jeng Jeng Jeng !!!!

Rii, bangun !! lihat gunung saljunya kelihatan.

Haaahh mana ?! Ahhh iyaaaaa !!!

Foto, foto, foto , video juga jangan lupa !

(berdua heboh sendiri sampai dilihatin penumpang bus lainnya)

Jantung ini berdebar ketika melihat Himalaya untuk pertama kalinya, walau hanya terlihat sedikit di kejauhan. Thanks God, my dreams come true, Himalaya yang dulu hanya imajinasi maya dari buku cerita kini ada nyata di depan mata.

tourist bus menuju Pokhara
Pegunungan salju yang terlihat dari dalam tourist bus menuju Pokhara, cuma terlihat sedikit tapi bikin senang setengah mati.

4 jam selanjutnya pun jadi perjalanan naik bus paling menyenangkan seumur hidup saya. Lika-liku jalur pegunungan di kelilingi bukit dan lembah nan hijau. Sungai berbatu dengan air jernihnya mengalir terus mengiringi perjalanan kami. Walau kondisi jalan banyak berlubang dan berdebu ditambah ada adegan salip-salipan sama truk transformer Bollywood, tapi itu malah menambah seru perjalanan.

tourist bus menuju Pokhara
View dari dalam tourist bus menuju Pokhara, dan ini penamakan truk transformer Bollywood. (You know what I mean ? 🙂 )
tourist bus menuju Pokhara
Sungai berbatu yang mengalir deras
tourist bus menuju Pokhara
Lika-liku jalur pegunungan meunuju Pokhara
tourist bus menuju Pokhara
Rumah-rumah warga di sekitar aliran sungai

Bus sempat berhenti 2 kali di restoran sejenis rest area, penumpang bisa buang air dan membeli makan jika mau. Kalau saya sih nggak mau karena harga makanan di rest area cukup mahal, kami harus berhermat!. Untungnya bekal biskuit dan kopi susu cukup mengganjal perut kami selama perjalanan naik bus ini. Tapi akhirnya Riri goyah membeli eskrim yang rasanya???, tanya langsung Riri aja, saya nggak nyobain soalnya.

tourist bus menuju Pokhara
Suasana di rest area tourist bus menuju Pokhara
tourist bus menuju Pokhara
Sejenak mencari udara segar di sekitar rest area

Pukul 13:00 akhirnya kami sampai di terminal tourist bus Pokhara, para calo penginapan berjejer menawarkan penginapan dengan berbagai macam iming-iming dan logat India-english yang sangat kental.

Our Hotel near the Lake Phewa, you can see the mountain, bla bla bla

My Hotel have LED TV, free wi-fi, bla bla bla

I give you 50% discount for bla bla bla

(Jangan lupa, bacanya pake logat India ya, sambil goyangin kepala)

Pokhara Bus Station
Para calo pebinapan di Pokhara Bus Station (credit to : justglobetrotting.com)

Kami belum tahu akan menginap dimana, katanya sih tidak susah mencari penginapan murah di Pokhara. Tapi kami jaga-jaga saja dengan riset beberapa guest house murah dengan budget Rs 300 – Rs 500 per orang/malam. Awalnya kami berencana untuk urus izin pendakian dulu di tourism office yang tidak jauh dari terminal sebelum cari penginapan. Tapi seorang calo memberi tahu kami bahwa tourism office tutup hari sabtu. Damn!, ini kan hari sabtu, kami lupa riset kapan buka tutup tourism office di Pokhara.

“Are you sure, the office closed today Mr, you are not lying right ?” Cause we have plan to trekking tomorrow.” tanya saya.

“Sure, of course !,  for what I’m lying ? You can go tomorrow, The office open in Sunday” jawab si Bapak calo dengan meyakinkan.

Kami pun mengkonfirmasi kembali ke orang lainnya bahwa hari itu tourism office tutup, dan ternyata memang benar infonya. Bapak calo pun kembali menawarkan untuk melihat dulu penginapannya yang seharga Rs 800 sekamar (atau Rs 400 seorang). Temannya akan mengantarkan dengan mobil, jika kami suka silahkan, jika tidak kami cukup bayar Rs 20 untuk biaya antar, lalu kami boleh memilih penginapan lain di sekitarnya. Kami pun berdiskusi, dan pikir tidak ada salahnya untuk lihat dulu, toh harganya masih masuk budget dan kami cuma bayar Rs 20 daripada harus jalan kaki 2 KM ke area penginapan di sekitar danau.

Satu kesan saya pada calo-calo bus dan penginapan di Nepal, mereka ramah dan tidak memaksa. Jika kita bilang maaf secara baik-baik mereka akan pergi, tidak seperti calo bus di terminal Pulo Gadung yang &^%*%$^#$^%$^. Intinya modal senyum ramah khas Indonesia saja, mereka pun terkesan dengan kami  yang rajin senyum 3 jari (emang anaknya cengengesan sih sebenarnya). Kata mereka kami ramah dan tidak sombong seperti turis dari negeri Asia Timur lainnya. Katanya sih, nggak tau mereka yang gombal atau saya yang geer-an.

Ni Hao, Ni Hao ? Sawadekap ? Where you come from ? China , Thailand, Vietnam ??

Ahhhh, No ! We are from Jakarta, Indonesia, Mr. (sambil senyum pastinya)

Indonesia, Indonesia ! welcome, no wonder you look friendly and love to smile like Italian.

Ahahahhaa, Thank You Mr, nice to meet you !

Dalam 5 menit, mobil si Bapak calo berhenti di Pokhara Palace Hotel, kami disambut ramah seorang pria paruh baya yang tampaknya pemilik penginapan. Kamipun langsung diajak melihat-lihat kamar. Kamarnya cukup bagus dan banyak jendelanya, jadi tak terkesan pengap. Dia bilang di pagi hari kami bisa lihat gunung dari jendela kamar. Sang pemilik tampaknya tahu kelemahan kami, terobsesi lihat gunung !

Pokhara Palace Hotel
Penampakan Pokhara Palace Hotel dari depan
Backpacker ke Nepal
Kamarnya banyak jendela, kasurnya besar, we love it!
Pokhara Palace Hotel
TVnya gemes, Toiletnya bersih, ada balkon dan rooftop, Pokhara Palace Hotel recommended pokoknya.

Tanpa pikir panjang kami pun deal dengan si Bapak Calo dan pemilik hotel. Oh pria paruh baya pemilik hotel ini bernama Rajendra Adhikari, kami memanggilnya Dai Raj (Dai = abang/sebutan untuk pria lebih tua). Ia pernah kerja di Malaysia 3 tahun, sehingga dia bisa bicara bahasa melayu walau tidak fasih. Kami pun jadi cepat akrab dan bertanya ini itu tentang info yang kami butuhkan kepadanya.

Tunggu-tunggu, kalau Dai Raj ngerti bahasa melayu, berarti dia tau dong saya sama Riri ngomogin hotelnya ini-itu pas pertama datang???. hihihihihi untung orangnya baik, sampai sekarang kami masih komunikasi lewat Facebook.

backpacker ke Nepal
Dai Danesh, Dai Raj, Saya dan Riri (kiri ke kanan).

Duuh, Antin sama Riri laper banget nih belum makan, kami makan dulu ya, sore nanti mau ke Lake Phewa soalnya. Stay tune terus untuk post selanjutnya.

*PS: Untuk detail harga, ittinerary, tips n trick selama backpacker ke Nepal bisa dilihat di postingan ini.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *