Melayang Bersama Elang di Gunung Munara

Jakarta, 8 Agustus 2015

Tepat di hari ini saya merayakan hari jadi ke 24 tahun. Tiap orang pasti ingin mengisinya dengan kebahagiaan begitupun dengan saya. Dari jauhari saya, Riri dan Kak Oye (teman kantor) merencanakan paralayang di Puncak di tanggal 8 Agustus sekaligus merayakan ulang tahun saya dan Riri (Riri ultah tanggal 7 Agustus, beda sehari dengan saya). Sayangnya H-7 kami dapat kabar paralayang untuk umum ditutup dikarenakan ada kejuaraan nasional, mau tidak mau rencana ini harus di pending dulu.

The Show must go on, nggak ada waktu untuk merencanakan dan mengganti ke destinasi lain, akhirnya saya dan Riri memilih one day trip ke Gunung Munara, Rumpin, Bogor.

Hmmm Ada apa sih disana?

Gunung Munara atau tepatnya dikatakan bukit, sebenarnya sama seperti bukit-bukit lainnya, namun karena letaknya yang tidak jauh dari Jakarta sering dijadikan tempat hiking. Yang saya tahu sih ada puncak batu yang lagi nge-hits buat foto-foto di Instagram. Hitung-hitung cuma bermodal bensin dan kaki kenapa nggak kita coba, iya kan…

Dengan berbekal riset seadanya dari blog-blog orang lain, tepat jam 5:30 WIB pagi kami memulai perjalanan dengan sepeda motor dari rumah Riri di Ps.Rebo melalui Depok-Sawangan-Parung-Ciseeng-Rumpin dengan waktu tempuh +/- 2 jam. Sejam pertama masih hahaha hihihi, sejam kemudian pantat kami rasanya antara ada dan tiada.

Tepat pukul 7:30 WIB kami sampai di pos pendakian, dengan membayar tiket masuk Rp.5000/org, kami dijelaskan oleh petugas mengenai rute pendakian.

Ini peta pendakiannya, buat yang belum pernah hiking jangan takut karena jalurnya jelas kok.
Ini peta pendakiannya, buat yang belum pernah hiking jangan takut karena jalurnya jelas kok.

Kebetulan di depan kami ada rombongan anak SMA, langsung saja kami mengekor mereka karena takut salah jalan. Dan benar saja , baru 5 menit berjalan, kami harus melintasi aliran kali. Tanpa babibubebo kami ikut aja menyebrangi kali bersama anak SMA itu. Dalam hati, “wiiiihh seru juga belum apa-apa udah mesti nyebrangin sungai”. Hingga kami meyadari kebodohan kami saat ditegur seorang Ibu.

“Neng, mau pada keatas? kok lewat kali, kan disitu ada jembatan, kan bisa lewat sama”

Jengjengjengjeng!!! Saat saya dan Riri nengok kearah yang ditunjukan si Ibu, bener dong ada Jembatan dengan gagah membentang. “Hehehehe nggak tau Bu ada jembatan disitu”,kata saya dan Riri, sambil  nyengir lebar, antara mau menyalahkan anak SMA, menyalahkan diri sendiri yang terlalu polos atau menyalahkan jembatan yang suka main petak umpet, yasudahlah, sudah terlanjur basah.

Ini nih jembatan yang  nggak kita lihat, pulangnya kita lewat sini kok, nggak polos lagi.
Ini nih jembatan yang nggak kita lihat, pulangnya kita lewat sini kok, nggak polos lagi.

Jalur trekking yang kami lewati lumayan rapi (tidak ada semak belukar seperti yang saya bayangkan), mungkin karena sering dilewati dan dirawat warga sekitar.

Di trek awal kita bakal melewati kebun bambu yang adem ayem.
Di trek awal kita bakal melewati kebun bambu yang adem ayem.
Beberapa bagian treknya berbatu jadi usahakan pakai alas kaki yang nyaman ya.
Beberapa bagian treknya menanjak dan berbatu jadi usahakan pakai alas kaki yang nyaman ya.

Trekknya sangat bersahabat, hanya ada satu yang tidak bersahabat “nyamuk kebon”. Demi apapun si nyamuk itu mengiringi kami kemanapun kami jalan seperti kenangan masa lalu sambil ngeledek dengan suara mendengungnya. Tidak butuh lama tangan dan kaki saya sudah bentol dimana-mana efek pake kaos & celana. Kayanya kami harus serius menghadapi serangan nyamuk yang gigitannya bisa menembus legging si Riri. Sialnya kami nggak bawa lotion anti nyamuk, saya hanya bawa hot n cream, *upps nggak boleh sebut merk sejenis balsem krim gitu. Nyamuknya pada pergi sih tapi trekkingnya jadi makin hot karena pake balsem pas kaki keringetan kepanasan.

trekknya mesti melewati celah batu yang agak spooky
trekknya mesti melewati celah batu yang agak spooky

Akhirnya kami sampai puncak pertama setelah +/- 1,5 jam, kami langsung menuju puncak kedua karena di puncak satu sudah agak ramai. Walaupun tidak terlalu tinggi, tapi deg deg serrr pas naik manjat-manjat bukitnya.

Akhirnya sampai puncak
Akhirnya sampai puncak
Di antara 2 generasi, generasi bendera dan generasi tongsis.
Di antara 2 generasi, generasi bendera dan generasi tongsis.
Hiking sekaligus merayakan hri kemerdakaan, hormat graaak!!!
Hiking sekaligus merayakan hri kemerdakaan, hormat graaak!!!

Saat kami foto-foto kami melihat ada orang naik ke puncak batu sebelah, njiiiirrr keren banget kalo foto dari sana. Tanpa pikir panjang kami pun bergantian foto disitu walaupun butuh effort tinggi dan meski uji nyali banget melawan ketinggalan.

Dag dig dug der daiiiaaa liat si Riri duduk disana
Dag dig dug der daiiiaaa liat si Riri duduk disana
Hati-hati ya kalo mau coba karena tidak ada pengaman sama sekali.
Hati-hati ya kalo mau coba karena tidak ada pengaman sama sekali.
Yeeeaayyy pas banget ada elang lewat, untung saya nggak diculik ke sarangnya *fiuuh
Yeeeaayyy pas banget ada elang lewat, untung saya nggak diculik ke sarangnya *fiuuh

Sudah jam 11 siang, cuaca makin terik, kami memutuskan untuk turun ke bawah sambil mampir ke puncak dua. Wow ternyata di puncak dua sudah ramai sekali orang, kami hanya foto sebentar disitu.

Climbing menuju puncak pertama
Climbing menuju puncak pertama

Nggak butuh waktu lama untuk tekking turun +/- 45 menit. Saat mendekati pos keluar si Riri melupakan sesuatu. Dia lupa kasih kue ultah ala-ala, niatnya dia mau kasih di puncak tapi kelupaan.

Roti kereta yang dibuat Riri sampai begadang, makasih ya Riii
Roti kereta yang dibuat Riri sampai begadang, makasih ya Riii

Sekianlah kisah perayaan ulang tahun yang sederhana ini, saya bersyukur bisa merayakan bersama si sahabat teman pecicilan kesayangan. Pibedey juga yaa Riii terima kasih sudah menghabiskan waktu bahagia bersama. Semoga cita-cita kita merayakan Ultah bersama di Puncak Rinjani tercapai yaa Rii. Aamiin YRA.

Semoga kita bisa terus merayakan ulang tahun bersama di tempat indah lainnya.amiin

Tips :

  • Mulai trekking dari pagi/subuh agar tidak terik dan terlalu ramai saat di puncak
  • Bawa lotion nyamuk, ingat nyamuk kebon di Munara ganas sekali Bung !
  • Di sepanjang trekking banyak terdapat warung, jadi nggak perlu cemas kehabisan air minum
  • Di atas nggak ada sumber air, jadi kalau mau camping mesti siapin air dari bawah.
  • Tidak rekomend kalau naik angkot, dari terminal Depok harus sambung 3x, mending ajak teman yang bisa bawa motor/mobil.

Trip Cost (per 8 Agustus 2015) :

  • Tiket masuk Rp. 5000/org
  • Parkir motor Rp. 5000
  • Patungan Bensin Rp . 15.000
  • Makan siang, perbekalan Rp. 25.000
    Total : Rp. 50.000

2 Comments

  1. R

    Hahahahahaha pantat antara ada dan tiada :’D itu bener banget! Ga paham kuatnya pantat orang-orang yang mudik naik motor berjam-jam :’)
    Sampai jumpa di perjalanan menggapai puncak Rinjani! Mari persiapkan diri dari sekarang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *