Flash Trip Murah Seharian ke Purwakarta

“Apa yang kamu lakukan jika hanya punya uang 50 ribu untuk jalan-jalan keluar kota seharian? Kalau saya sih pilih ke Purwakarta.”

Berawal dari depresinya saya ketika long weekend, tapi nggak bisa ngetrip jauh karena ada pernikahan teman. Terpintaslah dipikiran saya untuk cari pelarian ke tempat wista yang tidak jauh dari Jakarta. Kemudian saya teringat stasiun Purwakarta yang eye catching saat naik kereta api ke Bandung karena ada tumpukan gerbong-gerbong kereta api tua disana. Sampai blog ini di publish sudah dua kali saya kesana, yang pertama bersama Erlin dan yang kedua bersama Miimi, Putri dan Lelly (ceritanya jadi guide). Nothing to lose, itulah yang kami sematkan di pikiran kami saat pergi kesana karena waktu yang sempit dan nggak tau ada wisata apa disana. Yang kami tahu, kami harus naik KA lokal ke Purwakarta jam 10:15 WIB dan kembali lagi naik kereta balik ke Jakarta pukul 15:50.

Pukul 07:30 WIB kami memulai perjalanan naik Commuter dari St. Tanjung Barat menuju stasiun Jakarta Kota. Kami sengaja jalan lebih awal, karena setahu saya tiket KA lokal cepat habis saat weekend. Benar saja sesampainya di St. Jakarta Kota pukul 08:45 WIB antrian KA lokal Purwakarta sudah mencapai 15 meter. Wah banyak juga penumpang yang akan naik yaaa. Kami harus sigap jika ingin dapat tempat duduk karena semua tiket yang dijual bebas tempat duduk. Jika ingin mencari tempat duduk yang kosong berjalanlah terus hingga ke gerbong paling depan :).

Ternyata KA lokal ini ternyata dijadikan transportasi alternatif menuju Bandung, kita bisa transit di St Purwakarta untuk kemudian lanjut naik KA lokal ke Cibatudengan tarif yang sama. Ternyata begini rasanya naik KA lokal. Saya tersentuh dan merasa bersyukur ketika orang lain bersusah payah menuju Bandung dengan membawa anak kecil dan rela berdiri demi menghemat biaya perjalanan. Bersyukurlah kita yang bisa dengan mudah menuju Bandung naik travel, mobil pribadi, bis AC maupun kereta api eksekutif.

Stasiun Purwakarta
Stasiun Purwakarta

Kereta tiba sekitar pukul 13:00 WIB, Tanpa pikir panjang kamipun menyelinap ke balik gerbong-gerbong bekas, sedikit petak umpet dengan petugas stasiun karena seharusnya kami harus keluar lewat pintu utama. Waktu perjalanan pertama saya tidak sempat foto-foto disini, sekarang saatnya hunting Tadaaaaa!!

Petugas sedang memeriksa kondisi kereta
Petugas sedang memeriksa kondisi kereta
Dipo kereta yang sudah tidak aktif lagi
Dipo kereta yang sudah tidak aktif lagi
Dipo kereta dari kejauhan
Dipo kereta dari kejauhan
Dari samping Dipo
Dari samping Dipo

Kereta dan gerbong tersebut adalah bekas kereta Jabotabek yang digunakan sekitar tahun 1980 s/d 2009 *setahu saya, sebelum digantikan dengan kereta Commuter Line seperti sekarang. Bagi generasi 90an kebawah pasti pernah punya kenangan dengan kereta tersebut, dari naik gelantungan dipintu, nggak beli karcis, naik dikabin masinis, shopping di dalam kereta sampai naik di atas gerbong. Hal itu udah jadi kenangan kenakalan masa kecil saya bersama teman-teman, tapi untuk yang terakhir saya menyesal belum pernah mencobanya.

Agak sedih sih ngeliat kereta-kereta tersebut jadi rongsokan, tapi mau bagaimana lagi mereka sudah tidak layak pakai. Saya hanya bisa berterima kasih atas jasa-jasa mereka dahulu dan berharap besi-besi tua itu bisa di recycle agar bermanfaat kembali.

Gerbong-gerbong tua yang masih mempesona siapapun yang melihatnya
Si Erlin dan Gerbong-gerbong tua yang masih mempesona bagi siapapun yang melihatnya
Saya, Lelly, Putri, Mimi (LtoR)
Saya, Lelly, Putri, Mimi (LtoR)
Di dalam gerbong yang tidak terpakai lagi
Di dalam gerbong yang tidak terpakai lagi
Let's go to Kansas !!! hahahaha
Let’s go to Kansas !!! hahahaha
Train lovers heaven!!
Train lover’s heaven!!

Untungnya di depan stasiun terdapat peta wisata Purwakarta, kamipun memutuskan mengunjungi situ Beuleud dan alun-alun yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari stasiun. Tunggu sebentar, di jalan depan stasiun terdapat keramaian.

image
Sedang ada pameran batu akik di Purwakarta

OMG teryata ada festival batu akik hahahaha, baru kali ini saya liat ada festival batu akik. Tujuan pertama kami menuju situ Beuleud, danau tengah kota yang berjarak sekitar 200 m dari stasiun, sayangnya sedang ada renovasi besar jadi kami hanya bisa melihat dari pinggir pagar.

Patung di dekat situ Beuleud
Patung di dekat situ Beuleud

Kemudian kami lanjut menuju alun-alun kota, sayangnya taman baru dibuka pukul 16:00 jadi dengan terpaksa tidak bisa menikmati semuanya. Rupanya memang sedang ada renovasi besar-besaran untuk mendongkrak pariwisata Purwakarta terlihat dari taman-taman dan jalan –jalan yang rapih.

Jalan-jalan yang tertata rapih di sekitar alun-alun Purwakarta
Jalan-jalan yang tertata rapih di sekitar alun-alun Purwakarta
Alun-alun Purwakarta
Alun-alun Purwakarta
Taman di sekitar alun-alun
Taman di sekitar alun-alun
Auuuummm!!!!
Auuuummm!!!!

Kesan saya kota Purwakarta ini seperti miniatur kota Bogor, banyak pohon rindang dan beberapa bangunan jaman kolonial. Capek jalan kamipun singgah makan sate Maranggi yang merupakan makanan khas Purwakarta.

Sate Maranggi Rp. 2200/tusuk
Sate Maranggi Rp. 2200/tusuk

Wah sudah pukul 15:15 saatnya kembali ke stasiun karena kereta ke Jakarta berangkat pukul 15:50 WIB. Sekian cerita perjalanan saya kali ini, walaupun sangat singkat tapi sangat berkesan.

Kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cinti negerimu dengan Travelling
Kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cinti negerimu dengan Travelling

Trip Cost per 1 Mei 2015:
Commuter Line Tj.Barat-Jkt Kota PP = Rp. 7.000
KA Lokal Purwakarta PP = Rp. 12.000
Sate Maranggi = Rp. 25.000
Jajan tahu gejrot = Rp. 5.000
Total biaya = Rp. 49.000

Tips:

  • Jalanlah lebih awal, karena tiket KA lokal harus beli on the spot dan cepat habis saat weekend
  • Tiket yang dijual bebas tempat duduk, jadi harus siap berebutan
  • Tiket pulang kami baru bisa dibeli sekitar 1 jam sebelum kereta berangkat
  • Kalau mau fotoin kereta lebih baik saat baru turun langsung menyelinap ke balik gerbong-gerbong, soalnya tidak boleh keluar masuk sembarangan. Kalau mau aman lebih baik izin baik-baik kali yaa 😛

One Comment

  1. Pingback: Ayo “Jalan Lagi” ke Gunung Lembu |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *