Danau Ranau, Keindahan Danau Vulkanik yang Memukau

Post pertama saya di 2016,

Dan ini cerita tentang pertama kalinya saya menjejakkan kaki di tanah Andalas.

Sudah lama saya ingin mengunjugi rumah pakde saya di daerah Danau Ranau, Sumatera Selatan.

“Rumah pakde sudah deket dari Danau Ranau, udarnya dingin karena ada di daerah pegunungan, jalan menuju kesana berkelak-kelok tapi pemandangannya bagus, belakang rumahnya masih hutan, masih banyak monyetnya” begitulah kira-kira cerita Ibu ketika beliau menceritakan pengalamanya berkunjung kerumah pakde.

Baru pada akhir Desember 2015 lalu perjalanan ini terwujud, setelah mendengar kabar bahawa Pakde saya sakit dan minta untuk ditengok. Nyaris saja saya tidak jadi kesana karena terserang demam 4 hari, tapi syukurlah pada hari H keberangkatan demam saya tidak kambuh lagi walaupun tubuh masih terasa lemas. Saya, Ibu dan Kakak saya terlebih dahulu ke Bandung, untuk bersama-sama dengan Bude dan sepupu saya berangkat kesana, yap ini bisa dibilang family trip bukan backpackeran.

Kami naik bis Pahala Kencana tujuan Bandung-Prabumulih untuk kemudian turun di Martapura. Dari Martapura kami masih harus naik angkot elf 2 kali, ke Muara Dua dahulu lalu sambung lagi elf ke Danau Ranau. Ini perjalanan naik bis terlama saya seumur hidup, hampir 24 jam di jalan!! . Bis kami dijadwalkan berangkat dari Bandung pukul 09:00 pagi dari agen bis di Jl. Riau, Bandung, tapi ternyata bis baru datang pukul 12:00 siang dengan alasan macet di jalan. “Lho memang bis tujuan itu hanya satu?” kesal saya dalam hati. Arrrghhh sangat sangat kecewa dengan pelayanan bis ini, penumpang dibiarkan menunggu 3 jam. Apapun alasannya menurut saya untuk bis sekelas Pahala Kencana sungguh disayangkan mengalami keterlambatan jadwal selama itu.

Pukul 07:00 pagi hari esoknya kami sampai di Martapura, kami turun di sebuah perempatan entahlah apa namanya, tapi kata supir bis elf tujuan Muara Dua lewat jalan itu. OMG…!!! perempatannya antah berantah banget, nggak ada penunjuk jalan, hanya seperti perempatan di komplek perumahan. Sampai kencingpun kami harus menumpang di rumah penduduk sekitar. Untungnya sekitar 15 menit ada elf tujuan Muara Dua edisi elf L300 tahun 80an yang walaupun bentuknya meragukan tapi mampu menempuh jalan berkelak-kelok naik turun tanpa hambatan. Oh iya, dalam perjalanan sepanjang Martapura – Muara Dua kami menyusuri sungai komering, asiiik banget pemandangannya. Sesampainya di Muara Dua, yang merupakan ibukota kabupaten OKU selatan ini, kami lanjut naik elf tujuan Ranau yang nggak kalah jadulnya. Kata sepupu saya, elf ke Ranau hanya ada pagi ke siang, lalu ada lagi sekitar jam 3 sore, itupun bisa dihitung dengan jari, jadi nggak kebayangkan kalau sampai kemalaman di daerah ini, wassalam.

Tadaaaa!! Setelah melewati naik-turun jalan pegunungan, tepat pukul 10:00 WIB akhirnya sampai juga di daerah Simpang Sender, nama daerah rumah Pakde saya. Pertemuan keluarga inipun mengharukan, karena sudah hampir 10 tahun lalu sejak terakhir kami bertemu dengan si Pakde, ditambah kondisi beliau yang sudah menua dan sakit-sakitan. Setelah melepas penat, sayapun berjalan-jalan sebentar di sekeliling rumah Pakde saya.

DSC_9850 (Large) (Medium)
Ternyata benardi belakang rumah pakde terdapat jurang dan hutan lebat.

Lucunya jauh-jauh saya ke Sumatera Selatan, udah siap-siap mendengar bahasa roaming, ternyata di lingkungan rumah Pakde saya warganya menggunakan bahasa Jawa *gubraaakk,piye toh iki .Tapi Bahasa Jawa hanya digunakan warga pendatang dari Pulau Jawa, penduduk Pribumi asli tetap menggunakan bahasa Ranau (mirip bahasa Palembang).

Yap, jadi ceritanya Pakde saya ini dulunya mengikuti program transmigrasi pemerintah ke kawasan Danau Ranau ini, jadi tak heran jika para tetangganya adalah penduduk yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah. Karena berada di daerah pegunungan, rata-rata penduduknya bermata pencaharian sebagai petani Kopi, Aren, Lada dan hasil kebun lainnya.  Dulunya Pakde saya bertani Kopi, namun sekarang beralih ke Gula Aren, dan sekarang diteruskan oleh anaknya. Saya tidak sempat melihat kebunnya karena masuk-masuk hutan. *ah bilang aja takut pacet atau takut diculik monyet

Hari kedua, ayu kita piknik !!

Di hari kedua ini, kami piknik ke Danau Ranau sekeluarga bersama saudara-saudara lainnya menggunakan mobil bak terbuka sepupu saya. Jarak dari rumah Pakde saya ke Danau anau sekitar 10 KM. Untuk menuju Danau Ranau sebenarnya bisa naik elf L300 yang langka itu, tapi jadi nggak bisa keliling Danau, jadi sangat disarankan untuk bawa sendiri atau sewa kendaraan biar puas keliling Danau (tapi saya nggak tahu sewanya dimana, maaf ya).

DSCN0371
Berasa banget piknik ala orang kampung, jauh lebih seru dibandingkan naik mobil biasa

By the way, Danau Ranau itu dimana sih ??? soalnya dari 10 teman saya, 8 orang tidak tahu dimana Danau Ranau *iklan shampo kaliii. Saya bantu kasih info sedikit ya, nyontek dari web sebelah sih sebenernya.

“Danau Ranau adalah danau terbesar kedua Pulau Sumatera. Danau ini terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan dan sebagian masuk wilayah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi  Lampung. Danau yang memiliki luas permukaan 125.9 km persegi dengan kedalaman 174 meter ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Karena itu, secara geografis topografi, Danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah. Tidak heran jika di kawasan danau ini cuacanya sangat sejuk. Tepat di tengah danau, terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas yang sering digunakan para penduduk setempat atau pun para wisatawan yang datang.” Dikutip dari Tribun News Palembang.

MAPS DANAU RANAU (2)
Sekarang udah kebayang kan dimana letaknya, masih jauh dari bandara Lampug maupun Palembang.

Tujuan pertama kami ke dermaga Pusri yang memang dikelola secara resmi oleh PT. Pusri untuk fasilitas wisata. Di kawasan wisata ini tersedia semacam pondok/villa dipinggir Danau yang disewakan, selain itu ada dermaga juga dimana terdapat perahu motor yang bisa mengantarkan kita ke Pulau Marisa atau ke Kaki Gunung Seminung yang ada kolam air panasnya. Alternatif peginapan selain di Pusri ini menurut info dari sepupu saya ada sejenis motel di daerah Banding, lainnya bisa menyewa rumah penduduk sekitar, sayangnya saya kurang tahu pasti berapa tarifnya.

DSCN0283
Kawasan dermaga Pusri dari kejauhan
DSCN0338
Pondok-pondok yang disewakan
DSC_9802 (Large)
Dermaga Pusri di belakang saya
DSCN0291
Perahu yang akan kami tumpangi

Sesampainya di kaki Gunung Seminung, kami langsung menuju kolam air panas. Kolamnya tidak dalam sehingga banyak anak-anak yang berenang, kalau orang-orang dewasa hanya merendam kaki saja dipinggiran.  Sayangnya kolam air panasnya tidak terkelola dengan baik, terlihat kurang menarik menurut saya. Padahal potensinya sangat besar karena sekelilingnya pemandangan alam yang tidak ternilai.

danau-ranau-13 (2)
Kolam air panas yang mengandung sulfur

Setelah sekitar 1 jam kami kembali lagi ke dermaga Pusri, karena abang perahunya udah bawel, kata dia makin siang ombaknya makin besar. Oh iya, di kaki Gunung ini saya menjumpai rombongan pendaki yang sedang beristirahat, tampaknya mereka habis turun. Menurut info dari sepupu saya, Gunung Seminung bisa didaki dalam setengah hari. Pasti keren banget deh kalau bisa lihat pemandangan Danau Ranau dari puncak Gunung Seminung, semoga nanti bisa mendaki gunung ini, amiin.

DSCN0292
di dalam perahu bersama krucil-krucil
DSCN0320
Sefie sama si abang perahu yang bawel

Perjalanan dilanjutkan kearah Banding Agung, disana terdapat semacam dermaga juga tapi tidak sebagus yang di wisma Pusri. Untuk menuju kesana kami hampir menyusuri 1/3 luas danau, keren banget bisa melihat pemandangan danau dari berbagai sisi. Langsung lihat fotonya saja ya.

DSC_9820 (Large)
Naik mobil bak terbuka, menikamti pemandangan, ini baru liburan seruu!!!
DSCN0358
Sawah di sekitar danau yang terlihat dari jalan
DSC_9824 (Large)
view dari jalan di pinggiran danau
DSCN0354
 mau coba tinggal di rumah pak taninya pasti seru banget

Akhirnya sampai di dermaga Banding, dermaganya lebih sepi dibandingkan dengan dermaga Pusri, namun tidak dikenakan biaya untuk masuknya.

DSCN0366
Dermaga Banding
DSCN0363
Nelayan yang mencari ikan dengan kano tradisional di sekitar dermaga Banding

Hari Ketiga, hunting sunset Danau Ranau…

Karena masih terpesona pemandangan Danau Ranau, dihari ketiga ini kami mencoba kembali kesana, kali ini dengan meminjam motor teman sepupu saya. Tujuan kami hunting sunset karena pada kesempatan pertama kami tidak sampai sore hari. Di perjalanan menuju danau masih banyak terdapat rumah tradisional Sumatera Selatan berbentuk panggung, kalau di jaman dahulu bagian bawahnya digunakan untuk menyimpan hasil panen dan memelihara hewan ternak, sekarang sebagian besar dijadikan kios-kios / toko karena letaknya strategis di pinggir jalan utama.

DSCN0280
Rumah adat di sekitar kawasan Danau Ranau

Wah saya bingung mau cerita apalagi, liat hasil hunting foto saya saja yaa…

DSCN0399
jalanan desa menuju daerah Banding, perpaduan gunung, sawah & danau yang menyejukkan mata

DSC_9874 (Large)
Hamparan padi yang sedang menguning dimandikan cahaya matahari sore , berpadu dengan keindahan danau ranau. Sungguh lukisan alam yang tak ternilai, karunia Tuhan yang harus kita jaga.

DSC_000021
Jurus tendangan matahari, ciaaattt!!1

DSC_9887 (Large)
Sayangnya wisatawan dan warga kurang menjaga kebersihan, terlihat sampah bertebaran di bawah saya

DSCN0466
Matahari pun tenggelam di balik bukit, meninggalkan semburat kemerahan yang menghiasi langit.
DSCN0443
Di sore itu menuju senja
DSC_9911 (Large)
Menikati senja yang selalu akan membuat kerinduan 

Hari keempat, ke Jakarta ku kan kembali….

Perjalanan pulang kami tidak menggunakan rute saat berangkat lewat Martapura, karena kami menggunakan bis Ranau Indah tujuan Ranau – Jakarta (Kp.Rambutan) via jalur Lampung Barat. Sebenarnya waktu tempuhnya sama saja, tapi setidaknya kami tidak perlu naik turun angkot menuju Martapura. Bis berangkat dari agen Simpang Sender jam 11:00 WIB dan sampai di Kp. Rambutan pukul 10:00 WIB keesokan harinya. Duh rontok badan saya, karena bis Ranau Indah ini hanya ada kelas Ekonomi dan Ekonomi AC dengan bangku model 2-3 dan nggak bisa dimundurin, belum lagi seiisi bis penuh barang dan oleh-oleh penumpang, argggghh ke Purwokerto 12 jam aja udah pegel apalagi ini.

Jalanannya pun luar biasa, berkelok-kelok naik turun tanpa henti ditambah lagi bis dipacu ala supir trans Sumatera, you know lah beda tipis sama naik Roller Coaster. Untungnya sepanjang jalan pemandangannya bagus jadi bisa mengurangi rasa mual. Kami kembali ke Jakarta bersamaan dengan arus balik liburan natal sehingga kami terjebak antrian masuk kapal ferry selama 3 jam di pelabuhan Bakauheni. Sekali lagi, alam memang selalu menyajikan keindahan, rasa bosan pun sedikit terobati dengan pemandangan ini.

DSCN0474
Menjemput pagi di Merak, saat penyebrangan Ferry Bakauheni -Merak

Hebatnya sesampainya di rumah jam 11 siang, lalu istirahat sebentar, saya langsung masuk kerja lho dan nggak jatuh sakit lagi, mungkin efek refreshing 4 hari di pegunungan bikin tubuh kita fit. Makanya sering-sering refreshing ya teman-teman 😉 Kiranya sekian cerita saya kali ini,

DSC_9875 (Large)
Mari Jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling

Cost Trip (per 24 Desember 2015) :

  • Bus Pahala Kencana (Bandung-Martapura) Executive: Rp. 320.000
  • Elf Martapura – Muara Dua : Rp. 30.000
  • Elf Muara Dua – Danau Ranau (Simpang Sender) : Rp. 25.000
  • Bus Ranau Indah (Danau Ranau – Kp.Rambutan) Ekonomi AC: Rp. 190.000
  • Tiket masuk Dermaga Pusri : Rp. 5.000
  • Sewa perahu ke Air Panas PP : Rp 250.000 (muat sekitar 15-20 orang, jika ingin hemat silahkan gabung dengan rombongan lain)
  • Makan, tidur dirumah pakde, motor dipinjemin tinggal isi bensin *uups yang ini gausah ditulis kan edisi piknik keluarga.

Tips :

  • Siapkan mental dan fisik karena harus menempuh puluhan jam perjalanan
  • Dari Jakarta agar efisien dan hemat sebaiknya langsung naik bus Ranau Indah ada di Kp.Rambutan, Kalideres, Bekasi lalu turun di Dermaga Pusri atau Dermaga Banding. (Telepon Agen P.O Ranau Indah Simpang Sender 0813 7750 1031), saya lupa cari info agen yg di Jakarta mungkin bisa tanya nomornya via agen diatas.
  • Tidak ada info mengenai sewa kendaraan, mungkin bisa minta bantuan dengan pemilik penginapan.
  • Jika ingin menyebrang dengan perahu ke Pulau Marisa atau Kaki Gunung Seminung, sebaiknya pada siang hari, karena ombak besar pada sore hari

Catatan Kecil :

Inalillahi Wainnalillahi Rajiun, tepat di siang hari ini, saat sedang menyelesaikan cerita ini, saya mendapat SMS dari sepupu saya bahwa Pakde telah berpulang ke Rahmatullah. Mohon doanya agar arwah beliau tenang disisiNya, amiin. Mungkin itulah pertanda, saat beliau meminta untuk ditengok, syukurlah kami sekeluarga bisa bertemu untuk terakhir kalinya. Maka dari itu biarlah cerita sederhana ini mengabadikan kenangan saya bersamanya.

DSCN0473 (Medium)
Simpang Sender, 27 Desember 2016 (Bude, Alm Pakde, Ibu)

3 Comments

  1. Berlibur di Danau Ranau, kita dapat menyewa perahu untuk menelusuri danau sambil menikmati keindahan pemandangan alamnya dan kita juga bisa melihat sebuah pulau kecil yang ada di tengah danau, yakni pulau Mariza, namun warga sekitar sering menyebutnya dengan Pulau Marisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *