Dan di Akhir Agustus Itupun Saya Kembali (Part 3 – end)

Jogjakarta, Pukul 07:00

Mata masih berat dan badan masih pegal-pegal karena kecapean, tapi omelan Riri terpaksa membuat saya bangun. Kata dia “Kalo mau tidur dirumah aja, gausah pas lagi liburan”. Hufft bener juga sih. Habis mandi saya dan lainnya mencari sarapan di pinggiran kaki lima Malioboro, Bang Basar merekomendasikan Pecel Madiun yang katanya kalo jam 8 sudah habis. Dan ini pecel madiunnya..maknyuss

Sepincuk pecel Madiun maknyusss
Sepincuk pecel Madiun maknyusss
Antri takut kehabisan
Antri takut kehabisan

Hari ini kami berencana ke Candi Prambanan, destinasi yang paling mudah dituju, karena sorenya kami harus pulang ke Jakarta. Selesai sarapan, saya dan Riri mampir dulu ke Pasar Beringharjo untuk cari oleh-oleh sambil menunggu yang lainnya mandi.

Menuju Pasar Beringharjo
Menuju Pasar Beringharjo

Pukul 09:00 pagi

Kami berangkat menuju Prambanan dengan Trans Jogja, saya tidak hapal naik koridor berapa, intinya rajin bertanya aja ke petugas biar ngga nyasar. Sesungguhnya di perjalanan ini kami sangat terbantu, karena Bang Basar sangat rajin bertanya sehingga kami tidak repot-repot lagi. Perjalanan sekitar 45 menit, cukup jauh menurut saya dengan kondisi jalan yang lancar. Dari halte Prambanan kami memilih berjalan sekitar 1 km menuju pintu masuk daripada harus naik andong, ya namanya juga ala backpacker kantong tipis. Di perjalanan kami menemukan toko yang dijadikan bahan guyonan.

Sekarang Mas-mas Jawa ada yang jual lho, ayoo siapa minat *salahfokus
Sekarang Mas-mas Jawa ada yang jual lho, ayoo siapa minat *ngelirik Riri *salahfokus

Pukul 10:30

Kami sampai tujuan, ini kedua kalinya saya ke Candi Prambanan setelah terakhir waktu study tour jaman SMP. Taman-tamannya sekarang lebih hijau, cukup menyejukkan di siang panas yang terik. Oh ya sama seperti di Candi Borobudur, disini pengunjung yang menggunakan celana pendek diwajibkan menggunakan kain batik bawahan yang disediakan pengelola untuk menghormati situs Candi Hindu ini. Kegiatan selanjutnya kalian tahu sendiri…foto-foto. Ada satu hal masih mengganjal, saya tidak pernah bisa menghayati/memahami keseluruhan relief-relief candi yang saya dikunjungi, padahal itu niat awal saya. Hmm mungkin next time harus ngintilin guide buar nguping kali yaaa *tetep ngga mau modal.

Taman Candi yang rindang
Taman Candi yang rindang
Nunggu siapa sih tin? Dia udah sibuk dengan dunianya kali *lhokokjadigalau
Nunggu siapa sih tin? Dia udah sibuk dengan dunianya kali *lhokokjadigalau
lompat bersama
lompat bersama
kami imut-imut yaaa :p
kami imut-imut yaaa :p
Saya ngga kuat naik hehehe
Saya ngga kuat naik hehehe
Sefie Time 1
Sefie Time 1
Selfie Time 2
Selfie Time 2
Mencimit si Riri, Hey Rii don't call me Tiny okay!!
Mencimit si Riri, Hey Rii don’t call me Tiny okay!!
Ceritanya ketiup angin *ceritanya
Ceritanya ketiup angin *ceritanya
Bercengkrama *lagi-lagi ceritanya
Bercengkrama *lagi-lagi ceritanya
Gadis cantik pemilik blog *heuheuheu
Gadis cantik pemilik blog *heuheuheu

Pukul 12:30

Yahhh kami harus pulang, karena jam 14:30 saya dan Riri harus berangkat ke stasiun Lempuyangan. Sampai di Malioboro kami menyempatkan cari oleh-oleh bakpia dulu baru kemudian makan siang. OMG jalan kaki di Jogja saat kemarau sangat menguras tenaga *lagi-lagi ngga mau modal naik becak. Tepat pukul 14:30 kami siap untuk pulang, ahhhh sedih rasanya harus berpisah dengan teman-teman baru dari Bandung. Sebelum pulang kami menyempatkan foto ala-ala backpacker keberatan tas carier *ini ide Riri.

Duo keong di gang happy
Duo keong di gang happy

Terima kasih kak Cae dan Bang Impol yang mengantar ke depan gang sambil bawain oleh-oleh yang super berat. Di becak yang penuh muatan, Riri masih sempat mengabadikan momen-momen terakhir kami.

Becak kelebihan muatan dan saya pun tenggelam
Becak kelebihan muatan dan saya pun tenggelam

Saat pulang di kereta Progo kami satu bangku dengan 3 orang mas-mas yang habis naik Merapi… *Wowww. Sempet nanya-nanya dikit, hmm semoga next time bisa juga mersakan berdiri di puncak Merapi bukan hanya melihatnya dari pos pantau di Keteb Pass atau dari bis saat menuju Magelang. Dan semoga juga di kesemapatan lain bisa mengexplore Jogja Selatan (Gua dan Pantainya), hal yang saat ini hanya sekedar wacana.

Mengakhiri liburan adalah hal yang paling sedih buat saya, tapi mengutip kata Riri “Kalo tidak ada yang di akhiri, maka tidak akan ada yang dimulai selanjutnya”.

Oh iya ini info biaya perjalanan saya kemarin, semoga bermanfaat :

  • tiket kereta Serayu Malam (Jkt Kota – Purwokerto): Rp 35.000
  • tiket kereta Progo (Lempuyangan – Ps.Senen): Rp 50.000
  • bus Purwokerto-Wonosobo Rp 30.000
  • bus Wonosobo-Dieng Rp 15.000
  • bus Wonosobo-Magelang Rp 20.000
  • bus Magelang-Jogja Rp 13.000
  • transjogja Rp 3.000 x 3: Rp 9.000
  • angkot stasiun-Terminal Purwokerto: Rp.300
  • angkot dari pinggir kota wonosobo-tempat ngetem bis Dieng: Rp.3000 *bis ke Dieng tidak ada yg langsung dari terminal, pokoknya bilang aja mau naik Bis Dieng, nanti kenek bis Wonosobo kasih tau kita turunnya.
  • Share home stay+transport Dieng/orang: Rp 125.000
  • Share home stay Malioboro Rp 50.000 (1 kamar Rp 100.000)
  • tiket candi Arjuna: Rp 10.000
  • tiket candi prambanan Rp 30.000
  • becak Malioboro-Lempuyangan Rp 25.000 (patungan Rp 12.500)

Total semua pengeluaran+makan standar kaki lima+bekal perjalanan ngga sampai Rp 500.000 (diluar oleh-oleh ya).

Ngomong-ngomong seminggu setelahnya, kami akan bolang nonton konser Pecah di Bandung….the journey still goes on and see you in the next post 😉

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *