Dan Di Akhir Agustus Itupun Saya Kembali (Part 2)

Sabtu, 30 Agustus 2014,

Pukul 06:00 pagi
Ditemani secangkir teh hangat sisa bekal semalam, mata saya memandang hamparan sawah yang mulai tersinari matahari pagi dari jendela kereta. Lamunan saya terhenyak ketka ada telepon dari nomor tak dikenal. Oh ternyata itu bu Tuti, ibu dari si Riri, yang menanyakan keadaan anaknya saat itu karena hp anaknya tidak aktif. “Riri masih tidur pules tante,hpnya lg di charge jadi dimatikan” bincang saya dengan bu Tuti. Dalam hati saya tertawa kecil ternyata sahabat saya satu ini masih anak mami.hehehe.

Pukul 07:13

Harusnya kami sudah sampai ditujuan, namun ternyata kereta kami telat hampir 2 jam, yasudahlah yang penting kami selamat sampai tujuan. Sekitar pukul 9:00 kami turun di st.Purwokerto, setelah membersihkan diri sejenak kami melanjutkan perjalanan ke terminal purwokerto untuk naik bis tujuan Wonosobo. Satu tips ketika kalian di terminal purwokerto, banyak calo berkeliaran jadi sebaiknya langsung tanya petugas resmi atau ikuti arah panduan. Saat itu ada bapak yang ramah mengajak ngobrol kami dan mengantar ke bis tujuan tapi ternyata ujungnya dia minta ongkos rokok.*huufft Untungnya bis yg kami naiki langsung jalan, saya dan riri duduk di bangku belakang. Perjalanan 3 jam tersebut kami isi dengan sarapan ala kadarnya, tidur bergantian hingga tertawa karena menikmati goncangan bis yang seperti jetcoster ala pasar malam. Memasuki Banjarnegara kami disuguhi pemadangan sungai Serayu mengalir membelah hamparan sawah nan hijau, berlatar pegunungan dan beberapa rumah sederhana tampak berjauhan. Kami pun sepakat mengatakan itu adalah gambaran ideal dari imajinasi kami tentang pemandangan pedesaan yang biasa tersaji di buku pelajaran kami waktu SD.

Siang hari pukul 13:00
Kami sampai di kota Wonosobo, sambil menunggu bis jurusan Dieng penuh, kami menyempatkan untuk mengisi perut kami dahulu. Riri sibuk memilih toping leker ala-ala, sedangkan saya sibuk membeli mi ayam ala kadarnya. Pukul 13:30 bis kami-pun jalan, perjalanan ini kami manfaatkan makan siang, untung kami bawa alat makan sehingga bisa menghemat waktu. Lucunya ketika kami ingin cuci mulut dengan leker yg sangat dibanggakan Riri karena harganya murah dan banyak topingnya, kami kecewa, sang leker berubah wujudnya jadi tak berbentuk serta lengket tak karuan bahkan saya sampai ikut memakan kertas pembungkusnya. Dan tentunya orang yg paling bersedih adalah….anda tau sendiri. Normalnya perjalanan ke dieng dari Wonosobo hanya 1 jam tapi karena ada acara pawai budaya warga setempat alhasil membuat jalanan macet panjang bahkan sampai membuat Riri yang enerjik mati gaya. Yahhh lagi-lagi kami harus belajar bersabar, untungnya sepanjang jalan menuju Dieng kami disuguhi pemandangan indah khas dataran tinggi. Kami sedikit cemas karena tidak enak membuat kak Kristia yg akan kami tebengi homestaynya menunggu lama. Untungnya dia bersama grupnya baru akan pergi jam 17:00 jadi masih ada waktu, secara kami tidak tahu letak homestaynya. Sekitar pukul 15:30 kami sampai patak banteng, daerah homestay kami berada. Sesampainya di homestay, kami disambut teman-teman kak kristia lainnya, bang Basar, kak Cae, bang Impol, kak Dianne, kak Arif, kak Kinoy yang berasal dari Bandung.  Ada juga Ian & dina yang berasal dari Tangerang namun sedang kuliah di Purwokerto dan Solo dan yang terakhir mas Rahmat dari Purbalingga. Dan semuanya resmi menjadi teman-teman baru kami.

Saya dan Riri masih jetlag, tapi jadwal kami yang hampir menyaingi sibuknya artis Ibukota mengharuskan kami menunda istirahat. Kami semua akan berangkat menuju acara Jazz atas awan di kawasan Candi Arjuna. Karena acara baru mulai pukul 19:00, kami menyempatkan untuk makan malam dahulu sambil mengobrol agar bisa mengenal lebih jauh.

Malam hari, Pukul 19:00

Matahari baru saja tenggelam tapi dingin mulai menusuk. Suasana sudah sangat ramai ketika kami sampai di kawasan Candi Arjuna tempat berlangsungnya acara. Ian,Dina dan Mas Rahmat yang memiliki tiket ikut bergabung ke acara bakar jagung yang telah dijadwalkan panitia DCF saya dan lainnya yang tidak punya tiket hanya mengamati sambil foto-foto dan melihat para penjual disekitar. Suara chek sound musik sudah terdengar, kamipun merapat ke panggung utama. 1-2 lagu mulai dimainkan, panitia membagikan lighstick kepada penonton sehingga membuat suasana malam itu terasa semakin berwarna. Langit malam terindah yang pernah saya lihat, mungkin istilah itu sangat pantas diberikan ketika kalian bisa melihat langit malam bertaburan ribuan bintang bersamaan dengan ratusan lampion berterbangan, diwarnai lampu sorot panggung dan cahaya kembang api yang berwarna-warni. Rasanya lagu What a Wonderfull World yang dimainkan para musisi jazz dipanggung dan kebetulan juga lagu favorit saya, sangat tepat menggambarkan keindahan malam itu. Subhanallah……

Sorot lampu mewarnai panggung Jazz Atas Awan dan Candi Arjuna sebagai latarnya.
Sorot lampu mewarnai panggung Jazz Atas Awan dan Candi Arjuna sebagai latarnya.
Indahnya langit malam itu..
Indahnya langit malam itu..
Saya, Riri dan Kembang Api
Saya, Riri dan Kembang Api

Pukul 22:00

Pesta kembang api telah usai, satu persatu pengunjung mulai membubarkan diri. Untungnya Ian,Dina dan Mas Rahmat punya lampion, setidaknya kami yang tidak punya lampion bisa ikut merasakan asyiknya menerbangkan lampion. Saat melepas lampion keudara, di dalam hati kami masing-masing tersimpan harap semoga doa dan keinginan kami bisa terbang tinggi dan di dengar oleh Tuhan di atas sana. Udara dingin makin menusuk sampai saya menggigil dibuatnya. Kamipun memutuskan untuk balik ke homestay untuk beristirahat, mengingat kami harus bangun subuh untuk melihat sunrise di Puncak Sikunir.

Terbanglah bersama harapan kami
Terbanglah bersama harapan kami
_MG_0220
Lampion dan Harapan                                           *Dari Kiri: Mas Arif, Bang Basar, Kak Tia, Riri, Kak Cae, Dina, Kak Dianne, Saya, Mas Rahmat, Ian (Yg fotoin Kak Impola sama Kak Kinoy)

Minggu, 31 Agustus 2013, Pukul 03:00 Dinihari

Alarm HP saya berbunyi dan langsung spontan mematikannya. Mata saya terlalu berat dan udara terlalu dingin untuk bangun saat itu. Baru pada pukul 03.30 kami bangun itupun karena driver yang akan mengantar kami ke Sikunir membangunkan kami. Ya subuh itu kami akan melihat sunrise di Puncak Sikunir, namun tidak semuanya ikut hanya saya, Riri, Kak Tia, Kak Dianne, Kak Cae dan Ian sedangkan Kak Kinoy dan Mas Arif memilih untuk ke Puncak Prau dan yang lainnya melanjutkan tidur. Baru sampai setengah perjalanan jalanan sudah macet parah karena saking banyaknya pengunjung yang ingin menuju Sikunir namun akses jalannya tidak memadai sehingga kamipun memilih untuk membatalkannya. Untuk menghilangkan kekecewaan saya dan mengajak Riri melihat sunrise dari bukit pandang Ratapan Angin (Bukit Pandang untuk melihat Telaga Warna), kebetulan di tahun lalu saya sudah mengunjunginya dan menurut saya itu menjadi tempat wajib yang  harus dikunjungi ketika ke Dieng. Kak Tia dan lainnya pun ikut dengan kami karena mereka juga merasa sia-sia jika harus balik ke homestay.

Saat itu langit gelap, kami harus mencari jalan masuk ke bukit pandang dari sekitar kawasan Dieng Plateu Theatre. Diterangi senter kamipun berjalan beriringan mengikuti jalan setapak, Riri yang memiliki headlamp saya suruh jalan di depan, tapi dengan modusnya sibuk mencari kamera dia berhasil membuat Kak Tia yang memegang senter dan berjalan paling depan. *Dasar Riri Penakut,bilang aja ngga berani paling depan :P. Kami sempat salah ambil jalan, tapi untungnya belum terlalu jauh. Sekitar jam 5 kurang kami tiba diatas, langit masih gelap tapi semburat sinar mulai terlihat dari balik bukit, Riri sibuk memasang tripod, saya dan yang lainnya juga sibuk mencoba kamera HP masing dan mencari angle yang bagus untuk mengambil foto. Dan Inilah foto-foto seru kami disana :

Semburat Sunrise mulai muncul di balik bukit
Semburat Sunrise mulai muncul di balik bukit
Kami dan Telaga Warna
Kami dan Telaga Warna
Me and The Golden Sunrise
Me and The Golden Sunrise
Kalo kata Riri namanya gaya imut kedinginan ala Afika.hooouuftt
Kalo kata Riri namanya gaya imut kedinginan ala Afika.hooouuftt

PS: hp Sony saya sempat jatuh, 4 hari kemudian dia mati tiba-tiba L, hanya di Bukit Ratapan tersedia sinyal HSDPA Telkomsel, akhirnya saya sukses nge-Path.hehehe

Pukul 06:30

Puas foto-foto, kami melanjutkan ke destinasi selanjutnya yaitu Kawah Sikidang. Dengan berbekal nama Pak Didik kami berhasil masuk tanpa bayar. Bau belerang mulai tercium, dan terlihat banyak lubang-lubang ditanah yang mengeluarkan uap panas, jadi kita harus berhati-hati ketika jalan disana. Di sekitar kawah juga tedapat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, ya kawasan Dieng memang kaya sumber panas bumi karena terbentuk dari patahan lempeng bumi, silahkan cari tau sendiri ya. Puas berfoto disana kami memutuskan untuk balik ke homestay karena untuk bersiap packing dan menuju acara pemotongan rambut gimbal pukul 10:00 nanti. Kami meminta driver untuk memutar jalan lewat candi Arjuna, diperjalanan tersebut kami bisa melihat pemandangan desa Dieng masih terselimuti awan tipis, hmmm jadi sekarang saya mengerti kenapa Dieng dinamakan Negeri di atas awan.

Di Kawah Sikidang
Di Kawah Sikidang
Negeri di Atas Awan
Negeri di Atas Awan

Pukul 10:00

Setelah mandi, sarapan dan packing kami berangkat meuju kawasan Candi Arjuna tempat akan diselenggarakan upcara pemotongan ranbut gimbal dan acara kesenian lainnya. Namun sayang jalanan ke Dieng macet parah sehingga kami harus berjalan kaki sekitar 2,5 km. Kawasan Candi Arjuna sudah dipadati pengunjung, ada yang menyaksikan pentas kesenian, melihat-lihat barang yang dijual dan lainnya. Ternyata di saat bersamaan juga sedang dilaksanakan acara pemotongan rambut gimbal namun di tempat berbeda. Kami pun jadi terpencar karena masing-masing sibuk mencari objek menarik untuk di foto. Oh iya mengenai upacara pemotongan rambut gimbal silahkan klik disini. Sekitar pukul 12:30 kami memutuskan untuk kembali ke homestay dan tidak mengikuti acara sampai habis karena sebagian dari kami termasuk saya dan Riri akan meneruskan perjalanan ke Jogja. Dan lagi-lagi kami harus berjalan 2,5 km, ditambah saya kebelet pipis.hufffttt menyiksa.

Saya, Riri dan Penari Festival
Saya, Riri dan Penari Festival
IMG_1910
Anak berambut gimbal yang minta dihadiahi sepeda
DSC_0530
Suasana upacara pemotongan rambut gimbal

Pukul 14:00

Kami tiba di homestay dan langsung bersiap-siap utuk pulang. Sedih rasanya harus meninggalkan Dieng secepat itu, terutama Riri yang belum sempat melihat sunrise di Sikunir. Mas Rahmat yang membawa motor pulang duluan, sisanya bersama-sama menuju Wonosobo. Ian turun duluan ia akan menginap dirumah temannya di Wonosobo. Sesampainya di terminal sebagian dari kami harus berpisah, Kak Tia akan melanjutkan perjalan ke rumah Neneknya di Kebumen, Dina akan pulang ke Purwokerto, Kak Kinoy dan Mas Arif akan pulang ke Bandung dan sisanya saya, Riri, Bang Basar, Kak Dianne, Kak Cae dan Kak Impola akan meneruskan liburan ke Jogja. Saat itu sedih rasanya harus berpisah disaat suasana sedang seru-serunya.

Pukul 15:00

Sambil menunggu bis menuju Magelang, kami sempatkan makan mi ongklok dan sate yang ada diterminal, rasanya enak dan harganya pun terjangkau. Anehnya si Riri merasa mi ongklok tidak enak, ahhh entahlah kenapa bisa begitu. Hampir sepanjang perjalanan ke Magelang saya dan Riri tidur mungkin efek kurang istirahat. Bang Basar dapat kenalan baru di bis, sepanjang perjalanan mereka saling bercerita tanpa henti hingga sampai Jogja, ya itulah sisi positif dari backpacker kita bisa mempelajari hal baru dari tempat dan orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan. Baru sekitar pukul 18:30 kami sampai di terminal bis Magelang dan langsung naik bis Eksekutif tujuan Surabaya yang lewat Jogja. Saya sempat khawatir ketika menaiki bis tersebut karena takut tarifnya mahal, tapi ternyata tarifnya hanya Rp. 13.000.hahahaha untunglah.

Pukul 19:30

Kami tiba di terminal Giwangan dan akan melanjutkan perjalanan ke kawasan Malioboro dengan trans Jogja, rencananya kami akan menginap di homestay rekomendasi dari Bang Basar. Karena berjalan terburu-buru saya tersandung plat besi hingga telapak tangan saya luka, huhuhuhu lumayan sakit tapi untungnya saya tidak apa-apa, mungkin itu peringatan dari Allah agar saya lebih berhati-hati. Setelah sampai di Malioboro , kami langsung menuju homestay tersebut namun sayangnya sudah penuh. Kami pun mencari agak lebih dalam dan akhirnya memutuskan untuk menginap di Homestay Happy. Setelah menaruh barang kami memutuskan untuk langsung mencari makan malam dan pilihan jatuh pada warung nasi rames milik Bu Joko di Jalan Dagen yang rasanya uennaaak tenan pastinya dengan harga sangat terjangkau.  Puas makan kami jalan-jalan menelusuri jalan maliboro sambil menikmati susasana malam yang kalian tahu sendiri selalu membuat rasa damai,senang dan rasa selalu ingin kembali lagi. Menurut saya kota Jogja terutama kawasan Malioboro punya daya magis yang selalu membuat pengunjungnya ingin kembali lagi kesana,hmmm mungkin kalian juga merasakan hal yang sama. Kamipun duduk-duduk di sekitar simpang Malioboro sambil mengobrol dan foto-foto. Karena saya sudah mengantuk sekali saya mengajak yang lainnya untuk balik ke homestay. Maaf ya teman-teman kalian jadi ikut balik, karena saya ngga kuat begadang. Oh iya ada hal lucu disini, Bu Tuti a.k.a mamanya Riri kirim pesan ke saya katanya titip salam untuk Riri katanya beliau kangen dan minta tolong cubitin pipinya Riri. Huahahahahahaha otak saya pun langsung melaksanakan pesan tersebut dan sayapun puas nyubit pipi tembem Riri.dudududududu…….

Menikmati malammu Malioboro
Menikmati malammu Malioboro

Pukul 23.30

Landing di kasur dan ZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…………..to be continued

5 Comments

  1. Basar Daniel Jevri Tampubolon

    Sayang subuh itu aku nggak ikut kalian yah. Liat foto-fotonya, nyesal dalam hati. Ahahaha.

    Kapan-kapan maulah kalau mamanya Riri titip cubit pipinya Riri lagi. Aku aja yang cubit yah. Hahaha.

    Tin, jadi pengen liburan bareng lagi nih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *