Dan Di Akhir Agustus Itupun Saya Datang Kembali (Part 1)

DSC_0455Oktober 2013..

Saat perjalanan pertama saya ke Dieng, saya langsung suka dengan daerah wisata ini dimulai dari orang-orang yang ramah di kota kecil nan apik Wonosobo, penjaga homestay di Dieng yang sangat baik hati dan terutama keindahan alamnya. Subuh itu saya dan kedua teman saya berangkat menuju bukit sikunir menembus angin dingin dengan diantar ojek sang penjaga homestay yang sekaligus jadi guide kami. Di tengah perjalanan kami mengeluh kedinginan, guide kami berkata dingin saat itu belum seberapa dibanding dingin saaat puncak kemarau di Dieng sekitar bulan Agustus yang suhunya bisa dibawah 10 derajat bahkan bisa minus hingga muncul embun upas. Saat itu di dalam hati saya,muncul keinginan untuk kembali ke Dieng menantang dinginnya suhu disana saat puncak kemarau.

Juli 2014…

Suatu siang di kantor, saya dan sahabat baru saya, Riri, merencanakan untuk liburan bersama dalam rangka merayakan ulang tahun kami yang kebetulan beda sehari. Kemudian teringatlah saya akan keinginan untuk ke Dieng saat puncak kemarau di Bulan Agustus, tanpa pikir panjang Riri-pun setuju. Awalnya kami berencana untuk pergi di tanggal 8 s/d 10 Agustus 2014, tapi setelah searching ternyata ada event Dieng Culture Festival di tanggal 30-31 Agustus 2014, kami-pun menunda perjalanan agar bisa sekaligus menyaksikan event tersebut. Tiket kereta sudah di booking dan kami tinggal menunggu waktu tiba.

Pertengahan Agustus 2014…

Tiket kereta sudah aman, tapi tiket Dieng Culture Festival kehabisan dan belum dapat homestay yang bisa di booking. Saat itu saya sempat ragu pergi karena belum dapat kepastian mau menginap dimana. Riri yang wataknya keras seperti saya bersikeras nekat tetap pergi kesana, kamipun sempat silang pendapat. Akhirnya kami mencoba semua link untuk mencari homestay yg bisa di booking,dari mulai twitter,kenalan saudara,teman dll, dikarenakan saat itu semua homestay telah fullbook. H-7 akhirnya kami mendapat homestay yang bisa di book, itupun di rumah penduduk dengan tarif hampir 2x lipat dari harga normal homestay di Dieng yang berkisar Rp.100.000/kamar. Tapi yasudahlah, tidak apa-apa kami harus mengocek kantong lebih dalam dibandingkan kami harus luntang-lantung di kelelahan di cuaca yang sangat dingin.

Rabu, 27 Agustus 2014, H-2 Keberangkatan…

Saat cek twitter ternyata ada notif dari seseorang yang sempat menawarkan share homestay di Dieng namun saat saya itu sudah penuh. Ternyata ia menawarkan kembali ke saya dan harganya lebih murah, tanpa pikir panjang saya dan riri-pun mengiyakan dan terpaksa harus mengcancel booking homestay sebelumnya dengan berat hati. Dan ternyata dari sinilah saya dan Riri mendapat teman-teman baru yang sangat asyik.

Jumat, 29 Agustus 2014.Hari Keberangkatan….

Perbekalan sudah siap, saya-pun berangkat ke kantor dengan membawa tas backpack ukuran sekitar 40L. Huufft ada saja halangannya, pas sekali hari itu, hari menstruasi pertama saya yang berhasil buat perut saya keram. Riri-pun juga kambuh sakit punggungnya saat pagi hari. Mungkin karena sugesti, rasa excited kami untuk liburan mengalahkan rasa sakit kami. Pukul 19:00 kami berangkat dari kantor kami dikawasan kuningan menuju stasiun Jakarta Kota untuk naik kereta Serayu Malam tujuan Purwokerto. Rute kami menuju Dieng adalah dengan naik kereta hingga Purwokerto diteruskan naik bis Purwokerto-Wonosobo kemudian dilanjutkan dengan mikrobis Wonosobo-Dieng. Di kereta malam itu banyak rombongan muda-mudi yang bertujuan sama dengan kami menuju Dieng, Riri sibuk mengotak-atik Modem Wifi barunya yang belum aktif dan saya sibuk ber-sms dengan kak Kristia yang nantinya akan share homestay dengan kami. Sesekali saya mennguping pembicaraan rombongan lain di gerbong itu. Senang rasanya bisa melihat dan mendengar orang-orang bertas carrier itu bercerita tentang pengalaman mereka naik gunung. Ahhh kapan saya bisa seperti mereka…

To Be Continued………..

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *