Camping Ceria di Pantai Goa Cina (Part 3 – Edisi: Malang, Setali 3 Tujuan)

Ayo bangun-bangun, pukul 09:00 kita harus packing buat ke Pantai Goa Cina. Oh iya udah tau belum Pantai Goa Cina dimana? Yap pantai Goa Cina ada di Malang Selatan, letaknya tidak jauh dari pantai Sendang Biru (akses ke Sempu) ada juga Pantai Bajulmati, Pantai Clungup dll. Banyak banget pantai bagus di Malang, saya nggak sanggup jelasin satu-satu, silahkan tanya mbah Google ya :P. Sambil sarapan kami berdiskusi apakah akan camping di Goa Cina atau PP lalu extend di homestay. Setelah hitung perbandingannya dan di vote, akhirnya kami sepakat untuk camping di Pantai Goa Cina. Untuk menuju kesana sebenernya bisa dengan ngeteng naik angkot via Gondang Legi-Turen-Sumber Manjing. Namun dikarenakan pengalaman sebelumnya yang dimahalin supir angkot dan info kalau angkot kearah pantai jarang, jadi kami coba nego carter angkot kenalan dari Ibu pemilik homestay. Setelah tawar-menawar akhirnya sepakat bayar 620rb untuk PP (supir ikut menginap). Pukul 10:30 akhirnya Mas Kantong (supir angkot) datang, ternyata dia agak lama karena urus izin keluar trayek. Hmmm ternyata surat izin keluar trayeknya memang ada, nggak kaya di Jakarta yang semau gue.

20150404_121308 (1)
Di dalam angkot carteran, perjalanan ditempuh sekitar 3,5 jam  (istirahat sholat Jumat 30 menit), lumayan jauh jalannya banyak lika-liku sampai Novi dan Mayang  pusing pala barbie mabok.

Yeaayy sampai juga di pantai, kami istirahat sebentar karena kebetulan juga sedang gerimis. Setelah agak reda kami makan siang perbekalan dengan menu telor dadar, kerupuk dan abon sisa, hehehe maklum persediaan uang menipis. Untungnya dapet sokongan teri kacang dari Mba Vicka yang super eundeuzz.

20150404_100523 (1)
Walaupun bekal kami sederhana, tapi rasanya jadi enak karena makannya menghadap lautan biru.
20150404_100601
Pantai Goa Cina di hari kedua. Bukit sebelah kanan itulah yang kami naiki.

Tenda selesai di pasang dan hari mulai senja, sayangnya sang matahari terbenam tertutup awan. Oh iya di sekitar pantai tempat kami mendirikan tenda banyak warung-warung makan dan toilet umum, jadi ngga usah pusing-pusing untuk camping disini. Lucunya kami dikasih harga paket toilet, bayar 40rb/8 orang untuk mandi dan buang air sepuasnya.hihiihihi lumayan bisa hemat.

Pemandangan di depan tenda kami
Pemandangan di depan tenda kami

20150404_100521Malam hari kami habiskan dengan main games tebak lagu dan tebak kata sambil bikin api unggun, sederhana sekali hanya ditemani suara deburan ombak, tapi bukankah ini cara terbaik menikmati alam. Ok saatnya tidur karena besok subuh kami berencana naik keatas bukit untuk hunting sunrise. As always, tidur dalam tenda pas di pantai serba salah, ditutup gerah, dibuka takut ada serangga masuk.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04:00, kami bangun lalu bersiap berangkat. Jalan setapak menuju atas bukit cukup lebat dengan semak dan agak licin karena diguyur hujan kemarin. Harus extra hati-hati agar tidak terpeleset karena di beberapa tempat adalah pinggir tebing yang bawahnya lautan lepas. Setelah 15 menit berjalan di tengah kegelapan, akhirnya sampai diatas bukit. Cahaya pagi mulai tampak namun lagi–lagi sang surya masih tertutup awan.

Sunrisenya tertutup awan :(
Sunrisenya tertutup awan 🙁
Laut dari atas bukit
Laut dari atas bukit
Hihihi pagi-pagi belum mandi
Hihihi pagi-pagi belum mandi
Walau tak dapat sunrise tapi kami tetap ceria
Walau tak dapat sunrise tapi kami tetap ceria

Hmmmm sepertinya memang harus ke Malang part 2 nih kayanya, belum puas hunting sunrise/sunsetnya. Puas berfoto kami turun kembali dan lanjut mengeksplor pantai lainnya. Di sebelah kanan pantai Goa Cina terdapat pantai Watuleter, pantainya lebih sepi namun agak rawan karena sandal saya dan novi hilang diambli orang ketika kami tinggal untuk main air. Mau tau bagaimana pantainya langsung liat fotonya aja yaa :

Pantai Watuleter 1, bisa lari-larian disini
Pantai Watuleter 1, bisa lari-larian disini
Ceritanya mau foto lari sambil gandengan, tapi gagal karena si Novel jatuh :D
Ceritanya mau foto lari sambil gandengan, tapi gagal karena si Novel jatuh 😀
Dari dalam air laut yang bening
Dari dalam air laut yang bening
Ombak disini besar jadi hati-hati kalau mau main air
Ombak disini besar jadi hati-hati kalau mau main air
Ini Goa Cinanya, dinamakan Goa Cina oleh masy setempat karena dulu ditemukan keramik dari Cina ada juga yg bilang karena dulu ada orang Cina yg bertapa disini,hmm entahlah
Ini Goa Cinanya, dinamakan Goa Cina oleh masy setempat karena dulu ditemukan keramik dari Cina ada juga yg bilang karena dulu ada orang Cina yg bertapa disini,hmm entahlah mana yg benar

Puas mengexplore pantai kami kembali ke tenda untuk sarapan, baik sekali Mba Vicka dan Kak Fristy buatin Indomie untuk kami. Pukul 10:00 kami sudah siap untuk pulang, karena harus mengejar kereta ke Jakarta pukul 17:00 dari Malang Kota. Perjalanan pulang ternyata lebih singkat, pukul 13:00 kurang kami sudah sampai stasiun malang. Karena kereta masih lama, kami memutuskan untuk menikmati kota Malang sebentar. Mba Vicka, Kak Fristy dan Mayang makan di Mall (lupa namanya) sedangkan saya dan lainnya main ke Alun-Alun Malang.

Jalan-jalan sebentar ke depan balai kota Malang
Jalan-jalan sebentar ke depan balai kota Malang

Pukul 16:00 kami berkumpul kembali di stasiu, hujan deras langsung turun ketika kami masuk stasiun, teman-teman duduk lesehan di peron lalu saya pergi ke toilet. Saat kembali, tas-tas sudah berpindah tempat. Ternyata kami kebanjiran saudara-saudara, alhasil teman-teman saya pontang panting menyelamatkan tas agar tidak basah. Ahahaha agak sedih apalagi saat tahu ternyata kereta kami terlambat karena ada longsor di Semarang.Ternyata kami benar-benar merasakan “Malang” dalam arti sebenarnya.

Stasiun Malang kebanjiran
Stasiun Malang kebanjiran

Awalnya pihak stasiun memperkirakan kereta kami tiba Pukul 19:00. Namun ternyata kami di PHP-in kereta baru datang pukul 21:00 dan baru bisa berangkat lagi pukul 22:00. OMG delay 5 jam “Sakitnya tuh disini”.Taukan mati gayanya kaya apa, walau begitu harus tetap bersyukur, bayangkan mereka yang dari Jakarta harusnya tiba pukul 08:00 pagi namun baru tiba pukul 21:00 malam. Beginilah suka dukanya backpackeran, sambil nunggu kami ngobrol tentang kesan-kesan horor di perjalanan kami, dari toilet mistis di campground Bromo, suara “ssst” pas nungguin Novi di toilet sampai kebon lebat di Pantai Goa Cina yang cuma diliat Dita. Alhamdulillah walaupun mereka “ada” tapi kami nggak di ganggu, *duh untung Mba Vicka sama Dita ceritanya pas udah pulang*. Perjalanan pulang kami cukup lancar walau rutenya harus memutar via Purwokerto. Terima kasih teman-teman perjalanan saya yang sudah memberikan kenangan yang indah. Sekian cerita perjalanan saya edisi Malang, Setali 3 Uang, nantikan kisah perjalanan saya lainnya ya, salam bolangers 🙂

Mari kenali negerimu, jelajahi negerimu dan cintai negerimu dengan traveling.

Cost Trip (per 4 April 2015) :

  • Carter angkot (Batu-Goa Cina menginap 620rb) = Rp. 77.500
  • Tiket masuk Pantai Goa Cina (bermalam) = Rp. 8.000
  • Parkir Mobil Goa Cina = Rp.15.000
  • Paket pipis & mandi sepuasnya terusan (sumpah ini kocak)= Rp. 5.000
  • Tiket KA Matarmaja = Rp. 115.000

* Total biaya yang saya habiskan dengan Biaya lainnya (sewa tenda, logistic,wc umum,makan,minum, pengeluaran pribadi dll) untuk trip ini Rp.830.000,

Tips :

  • Pantai Goa Cina aman nyaman buat camping, kalo lapor mau camping, malamnya ada yg patroli. Selain itu nggak perlu cemas soal toilet, makan dll karena banyak warung makan. Homestay juga ada tapi masih jarang, jadi harus tanya-tanya. Kalau ingin naik bukitnya wajib bawa senter dan pakai alas kaki dengan grip yang baik ya.
  • Nomor angkot carteran (Mas Kantong: 085748410825)
  • Pantai Watuleter agak kurang aman karena ngga dikelola resmi, jadi hati-hati sama barang bawaan kalo kesana ya.
  • Dipenitipan motor dekat stasiun Malang Kota Lama, kita bisa menitipkan carrier dengan tarif 5rb/tas, jika ingin jalan-jalan sekitar stasiun atau cari oleh-oleh.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *