(Epilog) Backpacker ke Nepal dalam 9 Hari : Persiapan, Tips & Ittinerary

Sebagai penutup postingan jurnal perjalanan backpacker ke Nepal selama 9 hari (25 Agustus – 2 September 2017), saya merangkumnya dalam satu post ini agar lebih mudah di baca dan diterima informasinya, terutama bagi kalian yang berencana kesana tanpa ikut tour atapun pakai guide. Check it out :

THINGS TO DO  :
Trekking ke Poon Hill di Annapurna Are (4-5 hari)
Eksplore kota Pokhara : Phewa Lake, cycling, Worldpeace Stupa via Phewa Lake, Shoping ( 2 hari)
Eksplore kota Kathmandu :Thamel Area, Boudhanath Temple, Durbar Square, Swayambunath Temple ( 1 hari)

nepal_annapurna_map

PERSIAPAN :

Riset : Backpacker ke Nepal itu tidak susah asal kamu mau riset tentang segala hal mengenai kebutuhan kamu selama bertualang. Penting bagaimana kamu membuat ittinerary perjalanan agar efisien secara waktu dan biaya. Catat kisaran harga untuk penginapan, transportasi, makanan dll agar tidak kena scam atau calo. Pelajari peta tujuan dan kondisi medan agar tidak hilang arah. Kamu bisa riset dari postingan para travel bloger dalam dan luar negeri.

Visa On Arrival : Sangat mudah mengurus visa on arrival di imigrasi bandara Kathmandu. Selain Passport, kita hanya perlu mengisi form visa on arrival, membayar di loket 25 USD untuk 14 Hari. Untuk pass foto 4×6 atau 2×3 sudah tidak diperlukan karena foto kita langsung diambil oleh alat sejenis web camera. Tapi tak ada salahnya tetap bawa untuk berjaga-jaga.

Trekking Permit : Untuk trekking di kawasan konservasi Nepal seperti ke Annapurna, Everest dan kawasan lainnya lainnya wajib megurus Trekking Permit dan TIMS (Trekker Information Management System), termasuk trekking ke Poon Hill yang masuk kawasan Annapurna. Trekking Permit bisa diurus di Tourism Office yang ada di Kathmandu, Pokhara dan Lukla. Kalau di Indonesia mirip Simaksi naik gunung. Untuk lebih lengkapnya silahkan Baca disini .

IMG_20180715_130721

Fisik : Bagi yang berniat trekking tentunya wajib persiapan fisik, minimal jogging rutin dalam 2 minggu sebelum perjalanan. Pastikan kondisi kesehatan sedang fit.

Mata Uang: Rupiah tidak diterima di money exchange. Jadi siapkan uang dalam USD. Kita bisa menukarnya di bandara Kathmandu karena rate yang diberikan cukup baik dan lebih terpercaya. ATM ada di kota Kathmandu dan Pokhara, namun saya tidak mencobanya.

Perlengkapan Trekking :
Bagi yang ingin trekking saat backpacker ke Nepal tentunya harus ada persiapan alat tersendiri. Walaupun di Kathmandu dan Pokhara banyak yang jual peralatan outdoor tapi kan sayang juga kalau harus beli disana padahal kita sudah punya. Untuk trekking ke Poon Hill selama 4 hari ini yang saya siapkan :

  • Sepatu gunung/trekking/trail. Sepatu running tidak direkomendasikan, jalurnya licin dan banyak batu.
  • Tas Keril/Day Pack. Saya memakai tas semi keril ukuran 40L, Riri pakai keril ukuran 60 L. Tas hanya terisi setengah total bawaan kami dari Jakarta, karena bawaan yang tidak perlu untuk trekking kami tinggal di penginapan Pokhara agar bawaan trekking tidak berat.
  • Trekking pole, selain membantu menyangga tubuh di jalur batuan yang berlumut ternyata berdasarkan pengalaman kami ini sangat berguna untuk mengusir pacet-pacet yang menempel di sepatu!!!. Jadi tidak perlu diambil pakai tangan. Oh iya, trekking pole tidak bisa masuk kabin pesawat, jadi harus masuk bagasi. Jangan ditaruh di bagian luar tas keril karena berisiko jatuh saat perpindahan bagasi. Masukkan dalam tas, pastikan ujungnya tertutup (jangan biarkan terbuka runcing karena bisa merusak tas).
  • Jaket gunung tipis yang windbreaker & waterproof (Terpakai di saat gerimis atau lagi berkabut dan angin kencang)
  • Jaket thermal / inner jacket (Terpakai saat udara dingin malam hari)
  • Jas hujan plastik.
  • Kaos kaki thermal dan kaos kaki untuk trekking.
  • Handuk kecil.
  • Baju ketat lengan panjang & celana legging bahan dry fit. Masing-masing bawa 2 pcs. Selain membantu melawan udara dingin dan ringkas dibawa. Pakaian ini berfungsi melindungi tubuh dari serangan pacet!!!. Kalo tidak ada baju lengan panjang yang ketat bisa juga bawa manset tangan. Kenapa bawa 2, karena yang 1 pasang saya pakai buat trekking siang hari dan satunya untuk tidur. Sehabis trekking biasanya saya cuci di penginapan lalu langsung jemur, paginya sudah lumayan kering untuk dipakai.
  • Kaos dry fit, celana panjang/pendek bahan tipis yang mudah kering. (Jadi Untuk trekking 4-5 hari, kalo saya cukup bawa 3 pasang pakaian, 1 pasang untuk tidur, 2 pasang untuk trekking)
  • Logistik : biskuit, abon, susu sachet, kopi instan, roti, Indomie. Air mineral saya beli pas masih di Pokhara sisanya mengandalkan dari mata air yang ada disepanjang jalan (baca tipsnya disini) karena makin tinggi harga air makin mahal. Tak perlu bawa banyak logistik karena sebenarnya kita bisa makan di resto/warung makan yang banyak terdapat di desa pemberhentian. Tapi karena berhemat dan tidak suka masakan berbumbu kari jadi saya banyak bawa biskuit dan roti.
  • Rain cover untuk tas keril
  • Alat survival (headlamp, kompas, peta trekking (nanti dikasih pas urus TIMS), snackbar/coklat)
  • Obat-obatan untuk : flu, demam, tolak angin, diare, maag, betadine, hansaplast, vitamin C, suplemen, neurobion, koyo/counterpain. Tiap malam sebelum tidur biasanya saya minum neurobion sama vitamin C agar tetap fit dan menghilangkan pegal. Sehabis sarapan saya minum suplemen makanan untuk menambah tenaga.
  • Termos air panas & tempat makan, memang agak berat sih tapi ini bisa untuk menyeduh kopi, susu atau Indomie di jalan.
Backpacker ke Nepal
Bawaan kami saat trekking

TRANSPORTASI :
Tiket Pesawat: Tidak ada penerbangan direct dari Indonesia ke Kathmandu, semua transit dulu entah di Kuala Lumpur, Changi, atau Bangkok tergantung pilihan maskapainya. Untuk tiket termurah coba pantau Air Asia dan Malindo Air, namun info terakhir Air Asia sudah tidak beroperasi ke Kathmandu. Kalau saya kemarin sedang dapat promo dengan Malaysia Airlines, pulang pergi sekitar 4 jt. Harga tiket normal ke Kathmandu sekitar 4-5 jt PP, Kalau dapat low fare bisa dibawah 3 jt untuk PP.

Tiket Tourist Bus ke Pokhara: Bisa beli on the spot (baca post ini) sama kenek bisnya di Shelter Tourist Bus Thamel Area atau pesan via pengelola penginapan (biasanya dimahalin sedikit).

IMG_3163

Bus Umum Lokal : Transportasi publik di Kathmandu belum bagus, bus lokalnya mirip kopaja di jaman dulu. Kami tidak berani coba karena takut tersasar dan tidak punya akses GPS. Untuk di Pokhara lebih ramah bus lokalnya mungkin karena tidak se-crowded dan sebesar Kathmandu. Kamu bisa coba terutama untuk transport dari terminal tourist bus Pokhara menuju ke penginapan yang biasanya ada di Phewa Lake area.

Sewa Motor : Nah transportasi yang paling seru saat backpacker ke Nepal adalah dengan Sewa Motor, bisa ditemukan di Thamel Area. Tidak butuh SIM internasional, mereka cuma lihat SIM C kita (kan ada tulisan driving license tuh). Hanya cuma jaminannya paspor kita di tahan. Posisi berkendara sama kaya di Indonesia jadi nggak susah. Yang susah adalah nggak ada lampu merah!!! Jadi pas persimpangan harus super hati-hati.

Sewa Sepeda : Kami juga sempat sewa sepeda untuk berkeliling kota Pokhara, bisa ditemukan di kawasan Lake Area. (baca disini)

Taxi : Karena transportasi umum di Nepal masih belum bagus, Taksi jadi pilihan paling cepat dan praktis tapi otomatis akan menaikkan budget kalian. Taksi di Nepal belum memakai argo jadi kalian harus nego terlebih dahulu. Kalian bisa bertanya lebih dahulu ke pemilik hotel berapa kisaran harga ongkos taksi ke tempat yang kalian ingin tuju. Di trip kali ini kami menggunakan taksi untuk transport ke Aiport dan dari Pokhara menuju Base Camp Nayapul.

PENGINAPAN :
Banyak sekali penginapan murah untuk backpacker ke Nepal, dari model dorm sampai hotel bintang 4. Di Kathmandu carilah penginapan di kawasan Thamel area yang tidak jauh dari bus stop Tourist Bus. Di Pokhara carilah dekat Phewa Lake dan yang bisa liat view gunung dari jendela kamar. Adapun untuk penginapan selama trekking di jalur Poon Hill, penginapannya lebih sederhana ala rumah pedesaan. Cukup booking untuk hari pertama di Kathmandu dulu karena biasanya tempat tinggal akan ditanya pas di Imigrasi, (Kamu tinggal dimana dan dimana alamatnya). Untuk di Pokhara kamu bisa cari on the spot, begitupun selama trekking (di desa Birentahnti, Tadapani, Ghorepani, Ghandruk dll). Booking online yg rekomen bisa via hostel.com, hostelworld.com, booking.com, agoda dll. Ini tempat menginap kami selama di Nepal :

ITTINERARY & BUDGET :
Membuat ittinerary untuk backpacker ke Nepal tergantung mana prioritas tempat yang ingin dituju dulu. Kalau saya dan Riri prioritasnya trekking dulu baru city tour karena butuh fisik prima untuk trekking. Ittinerary lengkap dan detail harga bisa dilihat disini, kalau link tidak terbuka bisa DM Instagram saya di @antin.agustin ,semoga membantu. Pesan saya sisakan waktu kosong 1 hari untuk jaga-jaga trekkingnya molor (misal terjebak hujan lebat, badai, nostalgia), kalo saya dan riri kemarin terjebak macet!! Untuk budget total saya habis 6,4 juta untuk semua pengeluaran tidak termasuk oleh-oleh. Budget terbesar tentunya di tiket pesawat 4jt PP.

KOMUNIKASI

Kebetulan saya dan Riri nekat tidak beli SIM card lokal dengan alasan irit budget dan hanya mengandalkan Wifi gratis yang ada di penginapan. Namun buat kamu yang ingin tetap lancar berkomunikasi selama Backpacker ke Nepal bisa membeli SIM card lokal di Bandara maupun di Kathmandu.

MAKANAN

Di kota besar seperti Kathmandu dan Pokhara segala jenis menu makanan dari western food hingga chinese food bisa ditemukan. Bahkan di rumah makan sepanjang jalur trekking pun juga tersedia menu tersebut selain masakan lokal. Untuk makanan lokal Nepal sendiri bercita rasa rempah kari India. Untuk makanan halal agak sulit ditemukan (kami hanya menemukan 1 di Pokhara), alternatifnya bisa cari restoran Arab atau pesan nasi putih dengan menu telur, ikan, ayam dan sayur. Oh iya porsi makanan di Nepal sangat besar, kalau mau irit bisa untuk makan 2 orang. Tips dari saya bawa tempat makan untuk menyimpan makanan sisa, jdai tidak perlu beli makan lagi.

DSC07656c

BAHASA & BUDAYA
Mostly para pekerja pariwisata (pengelola hotel/penginapan, supir taxi, petugas imigrasi dll bisa bahasa inggris dengan baik. Pengucapan mereka juga jelas walau beraksen India. Para penduduk desa yang kami temui juga cukup mengerti bahasa Inggris, at least bisa ditanya arah pake bahasa tubuh. Banyak juga calo-calo penginapan, taksi dan bus yang berkeliaran di terminal bus Pokhara, tolaklah dengan sopan.

Mayoritas penduduk di kota beragama Hindu dan Budhha. Jangan sekali-kali menganggu sapi yang berkeliaran di jalan karena sapi dianggap suci oleh umat Hindu. Berpakaianlah yang sopan, jika berkunjung ke kuil, temple, pagoda dan sebagainya.

Masyarakat Nepal sangat ramah dengan wisatawan, baik yang berwajah Hindustan maupun yang berwajah Tibetan. Kalau kamu murah senyum, saya yakin pasti mereka akan tersenyum balik. Jadi jangan ragu untuk Backpacker ke Nepal. Bawalah teh bungkusan kecil dari Indonesia sebagai hadiah kecil buat mereka. Saya menyebutnya diplomasi teh, biasanya mereka akan makin ramah sama kita. Para penduduk desa sangat senang diberi makanan apapun, kamu bisa beri biskuit, coklat, apapun yang kamu punya untuk mereka. Penduduk desa hidup sangat sederhana, kamu bisa memberikan Jaket atau pakaian kamu yang kiranya masih layak dan tidak terlalu mahal harganya.

KAPAN WAKTU TERBAIK KESANA ?

  • Oktober – April (High Season) Plus : cuaca cerah, view gunung lebih jelas, diatas 3000 mdpl bisa bersalju. Minus : harga tiket, akomodasi lebih mahal, penginapan mungkin penuh, lebih dingin.
  • Mei – September (Low Season – Monsoon) Plus : cuaca cukup cerah cenderung turun hujan, tidak terlalu dingin, harga akomodasi lebih murah bisa ditawar karena sedang sepi. Minus : banyak pacet ! resiko view gunung tertutup awan.

EPILOG

Backpacker ke Nepal ini adalah pengalaman keluar negeri pertama saya. Saya bersyukur bisa mengunjungi Himalaya yang jadi impian saya dan tentunya Riri. Sungguh bersyukur dan beruntung juga bisa kesana bersama sahabat yang membuat perjalanan ini penuh warna dan tawa. Walaupun di dalam hati ada sedih yang tak terucap diantara kami. Kami tahu perjalanan ini seakan menjadi penutup sementara kisah petualang-petualangan kami berdua sebelumnya. Selepas perjalanan ini Riri akan segera menikah memulai lembaran hidup barunya dan saya masih terus berjuang bekerja sambil menyelesaikan studi S2 saya. Entah itu kapan, tapi kami berjanji akan bertualang bersama kembali di waktu yang “tepat”.

Perjalanan selama 9 hari ke Nepal ini sangat memberikan pelajaran hidup berarti. Saya belajar lebih berani, berpikiran positif dan optimis, belajar bersosialisasi dengan Bahasa Inggris pas-pasan. Belajar percaya dengan orang yang baru dikenal. Dan yang terutama belajar semakin dekat dengan Tuhan. Di perjalanan inilah saya merasa Tuhan selalu ada mengiringi langkah saya, selama yakin di hati kita selalu ada namaNya. Ia melindungi kami lewat orang-orang lokal yang menolong kami di jalan. Ia memberikan kasihNya lewat mata air melimpah yang menghilangkan dahaga kami, lewat udara segar yang menghilangkan lelah kami. Hingga suara gemericik air dan suara burung yang menenangkan hati kami kami ketika takut berada di tengah hutan berdua.

Sungguh, kebahagiaan melakukan perjalanan itu bukan hanya sekedar bisa mencapai tempat impian yang diperjuangkan dengan biaya dan upaya. Namun, kebahagiaan sebenarnya didapat dari hal-hal kecil yang kita temui di jalan menuju ke tempat tujuan, tergantung pada kepekaan kita mengenalinya tanda-tanda karuniaNya.

Kami sangat bahagia ketika melihat pegunungan es walau dari sudut jendela bus yang sempit. Bersyukur ketika bertemu warga yang menunjukan jalan di persimpangan jalan yang membingungkan, di hutan yang sepi, hingga saat tersesat di tengah kota. Siapa yang mengira di penginapan yang sangat sederhana kami bisa melihat Annapurna bertabur bintang di malam hari dan gagah tersinari mentari keesokan paginya. Atau siapa yang tahu ketika kami lelah dan tak kuat melangkah, ternyata di belakang kami terhampar pemandangan gunung es, lembah hijau dan samudera awan yang membangkitkan semangat kami.

Terima kasih pada teman-teman yang sudah setiap mengikuti cerita perjalanan ini. Semoga cerita perjalanan backpacker ke Nepal ini bisa jadi kisah berarti untuk diceritakan di masa depan, syukur-syukur bisa menginspirasi dan membantu mengantarkan para jiwa petualang lainnya bertemu sang Himalaya.

“Let the beauty of what you love, be what you do” – Rumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *