Gunung ini memang tak seterkenal Merapi atau seindah Merbabu, tapi pendakian Gunung Ungaran ini penuh tantangan apalagi untuk pendaki pemula seperti saya. Kalau kamu pernah ke Semarang, pasti pernah dong daerah Ungaran ? yap benar, Gunung Ungaran ini memang terletak terletak di daerah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Gunung yang berada di ketinggian 2.050 mdpl ini memiliki jalur yang sangat menantang, khususnya bagi pendaki pemula seperti saya. Mungkin terdengar cukup pendek, namun ternyata sepertiga jalurnya terdiri dari tanjakan bebatuan yang curam, sayapun hampir menyerah dibuatnya.

Awalnya saya sedikit meremehkan gunung ini karena rencana sebelumnya saya beserta dua teman lainnya Riri dan Linus berencana naik gunung Merbabu yang jauh lebih tinggi, sekitar 3.145 mdpl. Tapi rencana mesti batal karena Linus sebagai guide kami mengalami cedera engkel. Akhirnya H-7 saya dan Riri memutuskan bergabung dengan rombongan teman lain yang akan naik ke gunung Ungaran.

“cuma dua ribuan ini tingginya, masa nggak bisa sampai puncak sih”

Sombongpun datang dan kami tidak berolahraga untuk persiapan pendakian, hingga akhirnya sang ujian pun datang.

Uji Nyali Menginap di Hotel Tua

Kami berangkat 1 hari lebih cepat dengan menggunakan bis menuju Tegal lalu lanjut naik KA Kaligung ke Semarang, sedangkan rombongan lainnya menggunakan kereta. Ya namanya juga long weekend, tiket kereta ekonomi pasti sudah habis dari 2 bulan lalu.

Interior KA Kalijaga
Asyiknya naik kereta lokal, kosong melompong cyiin~~ KA Kaligung ini bisa dijadikan alternatif saat kehabisan tiket ke Semarang tapi ya mesti naik bis ke Tegal dulu

Sore hari pun kami sudah tiba di Semarang dan segera mencari penginapan murah meriah untuk beristirahat mempersiapkan pendakian Gunung Ungaran besok. Kami coba searching di Internet dan telepon beberapa penginapan 100 ribuan disekitar stasiun Semarang Poncol, ternyata sebagian besar sudah habis. Hanya ada Hotel Singapore yang available, murah lagi cuma 50 ribu sekamar. Namanya sih keren tapi penampakannya……jeng jeng jeng

singapore-h
So you can guess what inside in ? No Comment

Kami pun coba menengok langsung dan benar saja bulu kuduk langsung berdiri pas liat bangunannya.  Menginap gratis pun rasanya enggan. Pantas saja saat di telepon pengelolanya langsung bilang “hotelnya jelek lho mba”. Tanpa maksud menjelekkan hotel ini, semoga pemerintah kota Semarang memberi perhatian pada kelestarian bangunan hotel jaman dulu demi menunjang pariwisata Kota Semarang.

Setelah menghampiri beberapa penginapan di Jl. Imam Bonjol, ternyata juga habis. Akhirnya kami dapat kamar di Hotel Oewa Asia Semarang, bangunannya sih tidak kalah tua dari Hotel Singapore, tapi masih lebih baik. Berhubung kami sudah lelah dan harganya pun murah (Rp. 75.000 dengan AC jaman dulu), kami pun memberanikan diri, menginap disini. Kamarnya bagaimana tin ? Gausah diceritain lah ya, kalau kalian bukan backpacker sejati pasti enggan untuk menginap disini. But everythings it’s going well, kami berdua pulas tidur disini.

loewa
Bangunan sudah ada dari jaman Belanda, ya kapan lagi kan menginap di hotel jaman Belanda

Hari Pendakian Gunung Ungaran

Jumat, 6 Mei 2016 kami merapat ke rombongan lain yang sedang sarapan di Stasiun Semarang Poncol pukul 09:00 WIB. Oh iya rombongan ini dipimpin oleh Mas Jo, Mas Ben dan Febri, kenalan kami waktu naik Gunung Lembu. Mereka membawa rombongan dari kantor mereka di Bank BRI, total ada 12 orang termasuk saya dan Riri.

Jalur Pendakian Gunung Ungaran

Terdapat tiga jalur pendakian Gunung Ungaran yang bisa dipilih pendaki, yaitu Jalur Gedong Songo, Jalur Sidomukti (Jimbaran) dan  Jalur di Boja di sebelah utara. Jalur Gedong Songo dan Jalur Sidomukti (Jimbaran) masih berdekatan, sama-sama berada di satu jalur kawasan wisata Bandungan-Sumowono. Kali ini pendakian kami akan melalui Jalur Sidomukti atau dikenal juga dengan jalur base camp Mawar yang menjadi titik awal pendakian Gunung Ungaran.

Bagaimana Cara Menuju Base Camp Mawar

Dari kota Semarang kami menuju ke arah Bawen/Salatiga, kemudian setelah masuk ke jalur kawasan Bandungan/Candi Gedong Songo. Setelah melewati Pasar Jimbaran dan Umbul Sidomukti berarti kalian sudah tidak jauh dari Base Camp Mawar. Oh iya untuk keperluan logistik pendakian kita bisa membelinya di Pasar Jimbaran. Base Camp Mawar sendiri adalah sejenis bumi perkemahan, disini tersedia camping ground dengan fasilitas lengkap dan banyak terdapat warung penjual makanan.

Rombongan kami sendiri langsung menuju Base Camp Mawar dengan menggunakan 2 mobil carteran dari Stasiun Semarang Poncol (1 mobil dicarter Rp. 250.000). Tapi ada sedikit masalah, biasa ulah calo, si supir hanya mau mengantar sampai Pasar Jimbaran saja dengan alasan mobil tidak kuat. Alhasil kami mesti carter angkot lagi untuk sampai keatas, padahal 1 angkot kuat membawa kami semua plus semua carrier kami. Jadi, hati-hati ya yang ada rencana ke Ungaran dengan carter mobil.

Peserta Pendakian Gunung Ungaran
Para peserta pendakian Gunung Ungaran, dari kiri ke kanan: Berdiri: Adit, Sandra, Uci, Azis, Jerry ; Duduk: saya, Mas Trisno, Riri, Ridha, Febri, Mas Jo, Mas Beni, Alvina
peta jalur pendakian gunung ungaran
peta jalur pendakian Gunung Ungaran via Base Camp Mawar

Pos 1 ke Pos Bayangan 2, Damainya Alam Ungaran

Beres urus simaksi (Rp. 3.000) dan packing ulang kami pun memulai pendakian tepat pukul 13:00 WIB. 1 Jam pertama menuju pos 1 (Pronojiwo) jalanan masih menyenangkan, udara sejuk dan rindang pepohonan menyambut kami diramaikan cicit burung dan suara serangga yang bersautan. Di pos ini kita bisa menemukan aliran sungai kecil yang bisa digunakan untuk cuci muka menyegarkan tubuh yang mulai lelah.

3 ranger kami *maafkan gayanya ya
3 ranger kami, Mas Jo, Mas Beni dan Febri *maafkan gayanya ya

Lepas dari sungai kecil, jalur menuju pos selanjutnya mulai terbuka dan lebar, dimana kiri-kanannya terdapat kebun teh. Sesampainya di kebun kopi, kami menjumpai beberapa rumah penduduk pemilik kebun. Area Kebun Kopi pos dijadikan para pendaki sebagai pos bayangan 2 karena terdapat sumber air melimpah dan tempat untuk beristiraht. Kami pun mengisi ulang persediaan air karena di sinilah sumber air terakhir yang bisa ditemukan.

trek dari pos 1 ke pos 2
Jalur pendakian dari pos Kebun Kopi ke pos 2

Pos Kebun Kopi Ke Pos 2, Tenaga pun Mulai Terkuras

Lanjut perjalanan dari pos Kebun Kopi menuju pos 2, jalanan sudah mulai menanjak curam, ditambah lagi perut kami yang sudah keroncongan. Melihat rombongan yang sudah kelelahan, mas Jo pun memutuskan untuk istirahat makan siang sambil istirahat memulihkan tenaga.

pendakian ungaran
Apapun makanannya kalau di gunung pasti enak, hmmm yummy

Selesai makan kami langsung bergegas jalan karena sudah mulai sore. Jalur menuju Pos 2 pun kami tempuh dengan susah payah, maklumlah sebagian besar dari kami masih pemula. Saya pun mulai kewalahan karena membawa tenda ukuran 4 orang, padahal bagian frame tenda dibawa Riri agar tidak terlalu berat. Yahhh beginilah kalau nggak persiapan olahraga.

Wolfie & Boltya (nama keril Riri & Saya)
Wolfie & Boltya beraksi (nama carrier Riri & Saya)

Sesampainya di Pos 2 kami langsung menggeletak semua, hanya mas Jo dan Mas Benny yang tampaknya hanya lelah biasa. Disaat seperti ini kamu akan merasakan betapa nutrisari yang diseduh dengan air sungai jadi minuman paling enak sedunia. hihihihi . Hari makin sore, Mas Jo pun menyuruh kami untuk bergegas dan ujian sesungguhnya pun dimulai. Jalur didepan kami makin curam, 10 langkah berhenti atur nafas, 10 langkah berhenti duduk, 10 langkah berhenti minum *ini kapan sampai ya Allah, Antin lelah.

Pos 2 ke Pos 3, Tantangan Sesungguhnya !

Di depan kami belum ada tanda-tanda akan sampai puncak padahal hari sudah mulai gelap dan angin gunung yang super dingin mulai berhembus. Mas Jo pun memutuskan jalan duluan untuk mencari lahan mendirikan tenda karena melihat kondisi kami semua yang sudah tidak bisa diajak jalan cepat. Suasana makin gelap, kami semua harus bergegas agar tidak semakin sulit mendaki jalur bebatuan. Ya, semakin keatas jalur menuju puncak Ungaran sudah tak mungkin dilewati dengan langkah biasa, kami harus memanjat selangkah demi selangkah sambil mengumpulkan kekuatan di tiap langkahnya.

Ini nih trek yang bikin mau nangis, sampai saya nggak ada keinginan lagi buat foto-foto (sumber : ardyanta.com)
Ini nih jalur pendakian gunung Ungaran yang bikin mau nangis, sampai saya nggak ada keinginan lagi buat foto-foto, jadi izin ambil foto dari sebelah (sumber : ardiyanta.com)

Rasanya saya hampir menyerah karena rasanya kaki ini tidak sanggup melangkah lagi. Teman-teman pun menyemangati saya. Mas Beni dengan Handy Talkie nya akhirnya memanggil bantuan Mas Jo untuk membawakan carrier saya. Huahhhhhhhhhhhhhhh, setelah carrier saya dibawakan Mas Jo rasanya beban hidup pergi semua, makasih ya mas Jo. Untungnya perjalanan sekitar 15 menit lagi untuk menuju camping ground. Thanks God inilah enaknya naik gunung bersama rombongan, bayangkan kalau hanya berdua sama Riri, yang ada kami hanya berpelukan jika sampai berhenti di tengah jalan.

Lahan mendirikan tenda sebelum puncak ungaran
Lahan yang dijadikan Camping Ground oleh para pendaki sebelum puncak ungaran

Selesai pasang tenda, kami pun makan malam bersama memulihkan tenaga yang terkuras. Oh iya, ngomong-ngomong lokasi tenda saya dan Riri langsung menghadap ke citylight kota Semarang. Duhhhh keren banget sumpah, rasanya jadi kaya tinggal di hotel sejuta bintang. Kami pun sempat foto-foto dari dalam tenda, tapi berhubung cuma pakai kamera HP ya beginilah jadinya.

img-20160508-wa0001
terangan muka sama citylight *foto gagal

It’s time to sleep, karena besok kami akan summit attack subuh-subuh.  Mungkin karena masih di ketinggian dua ribuan saya bisa bobo dengan pulas tanpa kedinginan.

Hari Kedua Pendakian, Summit Attack !

Inilah waktu yang paling ditunggu oleh para pendaki, Summit Attack !. Waktu menunjukkan pukul 04:00 WIB  saat alarm kami berbunyi. Setelah mengumpulkan nyawa, kami semua bersiap untuk summit attack. Tak sampai 30 menit kami sudah mendekati puncak, tapi karena matahari sudah mulai muncul dan puncak sudah terlihat penuh, kami akhirnya kami menikmati dari sedikit di bawah puncak. Tak usah dijelaskan panjang lebar, kita lihat saja dari foto-fotonya ya.

Semburat kemerahan di ufuk timur
Semburat kemerahan mulai terlihat  di ufuk timur
sunrise gunung ungaran
Sang Surya mulai menampakkan wujudnya

 

momen yang membuat terasa lebih dekat dengan alam
momen yang membuat terasa lebih dekat dengan alam
para pendaki lain yang sedang menikmati sunrise
para pendaki lain yang sedang menikmati sunrise

 

Perjuangan itu memang tidak pernah mengkhianati hasil, rasanya semua rasa lelah langsung hilang ketika melihat indahnya pemandangan dari atas puncak gunung. Pemandangan yang akan selalu jadi alasan para pendaki gunung untuk kembali lagi. Terima kasih teman-teman semua, berkat bantuan dan semangat kalian akhirnya saya bisa mengibarkan sang saka di Puncak Ungaran.

tampak gunung merbabu di kejauhan
tampak gunung merbabu di kejauhan, *ceritanya lagi ikutan kuis foto bareng Teh Kotak
We are The Lion Sister
We are The Lion Sister
tugu puncak ungaran
Ini foto tugu di puncaknya, saya nggak sempat kesana karena kebelet pup.hehehehe jadi biar febri dan sandra aja yang jadi modelnya.

Ini dia videonya suasana di puncak gunung Ungaran  :

Sayonara Ungaran

Sekembalinya ke tenda, sayapun memanfaatkannya untuk leyeh-leyeh mengumpulkan tenaga untuk turun gunung siang hari nanti. Pukul 11:00 siang kami sudah membereskan tenda dan mulai start turun pukul 12:00 WIB. Kami nggak bisa lama-lama karena teman-teman harus mengejar waktu kereta balik ke Jakarta sekitar pukul 19:00 WIB.

Jam 12:00 WIB di gunung itu sangat berbeda dengan di kota, kabut sudah mulai turun ditemani rintik hujan. Kami harus super hati-hati saat menuruni batuan yang curam ditambah pandangan yang tertutup kabut.

turunan curam, harus super
Ungaran penuh turunan curam, harus super hati-hati saat melewatinya

Disaat seperti ini tracking pole sangat membantu, maklumlah kaki saya pernah patah jadi sangat trauma dengan resiko jatuh terpeleset. Syukurlah hujan kabut hanya berlangsung sekitar 30 menit, selepasnya langit kembali cerah dan kami bisa meneruskan perjalanan turun dengan aman. Sekitar pukul  16:00 WIB kami sampai di base camp mawar kembali dengan kondisi kaki saya yang gemetar lemas efek menahan beban dijalan bebatuan yang menurun curam. Syukurlah semua kembali dengan keadaan sehat walafiat. Oh iya, total waktu yang kami butuhkan untuk naik sekitar 6 jam dan untuk turun sekitar 4 jam, keduanya melalui jalur pos mawar.

Dan berakhirlah pendakian Gunung Ungaran ini, saya tidak akan pernah lagi meremehkan tinggi gunung sependek apapun dia. Ya, karena alam memang bukan untuk ditaklukkan melainkan untuk kita syukuri keberadaannya. Saya dan Riri pun berpisah dengan rombongan yang akan kembali ke Jakarta karena masih akan melanjutkan perjalanan ke Jogja mengunjungi cafe The Beatles yang diidam-idamkan Riri. Terima kasih teman-teman semua atas bantuan, support dan pastinya kebersamaan yang akan menjadi cerita membanggakan saat kita tua nanti. Semoga lain waktu kita bisa berjodoh lagi naik gunung-gunung lainnya. amiin

Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling
Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling. Gunung Ungaran, 7 Mei 2016

 

21 thoughts on “Pendakian Gunung Ungaran, Gunung Pendek yang Penuh Tantangan”

    1. Hahahaha abis mau gimana lagi bang Cumi kalo kantong sanggupnya di hotel lawas,untung gak dikasih liat. btw penampakannya model lawas juga gak bang Cumi?? hehehe

      Makasih udah mampir

      1. Gw sekarang lebih banyak milih kayak fave, pop, grandmas
        yang murah2 gitu tapi bangunan baru trus patungan sekamar ber 3 atau 4 jadi tetep murah

        Gw pernah kejadian lampu ama kran air nyala mati nyala mati berulang kali

        1. Boleh juga dicoba tuh alternatif nginep kaya gitu kalo lg di kota besar.

          Hahahahha pengen nemenin mandi kali bang cumi si “empunya”

  1. sedikit ralat, mungkin yg bener KA Kaligung? soalnya kalijaga itu setau saya rute semarang solo hehehe
    bener kok, walaupun gak terlalu tinggi, gunung ungaran memang gak bisa dibilang ringan, seru petualangannya ^^b

  2. Saya tertarik mendaki gn ungaran. Kira2 dari pos awal s/d pos 3 butuh waktu berapa lama ya?
    Trus dari pos 3 utk sampai puncak brp lama? Kira2 kalo mendaki malam hari jam 21.00 recomended gak ya? Supaya bisa sampe puncak sebelum sunrise. Mohon pencerahannya. Thanks

    1. Halo mas Sonny,

      kemarin saya dengan speed lambat naik dari pos awal jam 13:00 sampai pos jam 18:00. Kalo untuk pendakian malam kurang tahu infonya mas, hutannya gak terlalu lebat sih, paling pas mau sampai pos 3 tanjakan lumayan terjal dan pinggirnya jurang jadi mesti hati2. Pos 3 ke puncak sekitar 30 menit-1 jam mas.

  3. wah baru 2 hari kemarin naik ini, naik sebelum ashar sampe puncak maghrib terus dipuncak ga ada orang karena kabut hahaha setengah jam kemudian turun sampe bawah jam 9 malem berasa kaya piknik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *