Nepal’s Journey Day 4 : (Tikedhunga-Ghorepani) The Long & Winding Road

Saat mengigat kembali cerita hari keempat trekking dari Tikedhunga ke Ghorepani untuk ditulis di pos ini, tiba-tiba lagu “The long and winding road” nya Om Paul Mc Cartney, terlintas di benak saya.
The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I’ve seen that road before
It always leads me her
Lead me to you door
Mungkin lagu ini tepat jadi backsound untuk membaca post ini. Seharian berjalan kaki menelusuri jalan yang panjang, menanjak dan berliku namun tak kunjung terlihat ujungnya.
———————-
Suara ceret mendidih dan bau kopi diseduh menemani sarapan kami di dapur Chandra Guest House. Sarapan yang super irit, kami hanya membeli air panas untuk menyeduh bekal indomie terakhir dan kopi instan sachet. Lakpa dan sepupunya (saya lupa namanya) serta pegawai guest house lainnya meramaikan obrolan kami di dapur sederhana khas rumah-rumah pegunungan di Nepal.
“Lakpa, you looks a like my college friend in Jakarta, unfortunately I didn’t save his photo on my phone”.
Oh yaaa? Hahahhaha 
“I think many Indonesian have similar looks like Nepalese people.” Like you and her. Sambut Riri sambil menunjuk kami berdua.
Did you think, I’m looks like Nepalese Tibetan people??, because some local people trying to talk to me with Nepal language, I guess.”
Hahahha, you look a like Nepalese-Tibetan People, no wonder they want to talk with you.
(Jangan-jangan nenek moyang saya asalnya dari Tibet, saya harus napak tilas kesana! *Cari alasan biar bisa ke Tibet)
Riri pun berguyon, Oh jadi  lo jauh-jauh ke Nepal ternyata buat ketemu saudara-saudara lo disini. Mungkin Lakpa adalah far-far away cousin lo Tiny!
Chandra Guest House
Bincang pagi di dapur Chandra Guest House
Matahari sudah naik, saatnya meneruskan perjalanan. Duo Italiano dan guidenya pun sudah siap berangkat, tapi Michele si orang Amerika yang Half Indonesian itu tak terlihat dari pagi.
I think, she already go early, So guys, come join with us.
(Kami bertatapan, baru sadar mereka kan kaki bule, pasti kita bakal ketinggalan jauh kalo trekking bareng mereka, malah nggak enak jadi memperlambat mereka nantinya)
You can go first guys, we are still need to preparing, see you again in Ghorepani! 
Okay, no problem, have a safe trekking, see you in Ghorepani! 
Backpacker ke Nepal
Peta pendakian seperti banyak ditemui di desa-desa singgah. Ini sangat membantu, karena artinya kita berada di jalur yang benar
Kami memulai trekking pukul 09:00 pagi dari Tikedhunga. Kalau mengikuti petunjuk kami akan sampai di Ghorepani 6-7 jam kedepan. Wow hari kedua ini tampaknya butuh perjuangan keras. Kami berdua takkan memaksa diri karena fisik kami terbatas. Target kami pokoknya harus sampai Ghorepani sebelum gelap.
Gerimis kecil menemani perjalanan 1 jam pertama kami. Kaos saya yang masih belum sepenuhnya kering pun jadi makin basah. Gerimis juga membuat trek yang didominasi tangga bebatuan jadi sedikit licin. Selepas desa Tikedhunga jalurnya berupa tangga bebatuan menuruni lembah sungai, kemudian langsung bertemu tanjakan tangga bebatuan yang tak kunjung habis. Tiap 10 langkah kami berhenti untuk mengatur nafas. (*siapa suruh jarang berolahraga).
Poon Hill Trekking
Tangga bebatuan menuruni lembah sungai
Poon Hill Trekking
Tanjakan batu yang berliku dan tak berujung
Poon Hill Trekking
Tangga berbatu yang dilewati jalur air membuatnya dipenuhi lumut dan menjadi semakin licin, harus sangat berhati-hati apalagi saat turun.
Di jalan tangga berbatu yang tak ada ujungnya ini kami bertemu gerombolan kuda pengangkut barang. Kudanya sopan deh, dia akan berenti kalo kami menghalangi jalannya, ketika kami minggir ia baru berjalan lagi setelah dikasih aba-aba jalan oleh pemiliknya. Kami pun menyapa pemiliknya sambil menanyakan jarak desa selanjutnya, desa Ulleri.
Poon Hill Trekking
Kuda yang dijadikan alat transportasi pengangkut barang kebutuhan penduduk desa yang tinggal di atas gunung
“Namaste Dai !!!” sapa kami (*Dai panggilan untuk laki-laki lebih tua)
“Namasteeee…..hello, where you come from ?” jawabnya ramah
“We are from Indonesia, is the Ulleri Village still far ?
“Hmmm, not too far, it’s about 30 minutes”
“Ah thank you, so what your horses bring in their back ?”
“They bring foods and drinking water that will sell to tourists and trekkers” 
“Oh okay, your horse so good, dhanyevad Dai, see you” (*dhanyevad = terima kasih)
Hingga akhirnya nafas kami tak kuat dan gerimis semakin membesar, kamipun berhenti di sebuah gubuk tak berpenghuni. Tak jauh dari gubuk kami melihat ada keran air milik warga, langsung saja kami refill botol air minum kami yang sudah kosong.
Poon Hill Trekking
Sumber air milik warga
Oh iya selain dari keran air milik warga, kalian juga bisa ambil air minum dari sumber mata air di sungai kecil atau di tampungan air milik warga. Tenang saja airnya sangat jernih, hampir 80% kebutuhan air minum kami selama trekking 4 hari langsung dari alam tanpa pakai filter atau obat penjernih. Sisanya kami beli air panas dari guest house untuk menyeduh susu, kopi dan mi instant untuk sarapan. Maklum harga air minum kemasan di gunung mahal, bisa sampai Rs 80 – Rs 150 per 1 liter botolnya. Dalam sehari setidaknya kami bisa minum sampai 3-4 L agar tidak dehidrasi. Bayangkan berapa uang air minum yang bisa dihemat.Yang penting pastikan saja di sumber airnya tidak ada kotoran, jernih dan tidak berbau. Dan syukurlah kami sehat-sehat saja walau minum air mentah.

 

Poon Hill Trekking
Sumber air yang dibuatkan tampungan oleh warga
Poon Hill Trekking
Riri sedang mengambil air dari penampungan
Saat masih asik beristirahat di gubuk kami tersadar udara semakin dingin dan kabut semakin tebal. Rupanya dari arah bukit yang telah kami lewati di belakang tampak gumpalan awal tebal naik menuju tempat kami saat itu.
“Riiiiii !!! liat kita dikejar awan, awannya lagi naik kesini, keren deh” seru saya.
“Manaaaaaa ????!!!!! wah iyaaaaa, gila tebel banget, keren yaa! kapan lagi dikejar sama awan kalo bukan lagi di gunung, ayo kita videoin.” 
“Ok 5 menit aja ya, jangan lama-lama tapi ya nanti keburu turun hujan takutnya.”
“Sippp”
(tapi 10 menit kemudian kami tetap tidak beranjak karena asik merekam video, hingga tersadar di depan kami sudah putih semua)
“wahhh awannya datang, lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!!!!!!” seru saya sambil menarik Riri.
Poon Hill Trekking
Gumpalan awal datang menerjang
Poon Hill Trekking
Awan datang dan semua jadi putih
Poon Hill Trekking
Jalur pendakian yang telah kami lewati telah ditutupi awan.
Setelah adegan dikejar awan, kami bertemu dengan anjing desa lainnya. Masih sama-sama anjing hitam namun yang kali ini ada corak putih di lehernya. Seakan sudah ahli jadi pawang anjing, kami berdua langsung mengajak si anjing hitam putih ini mengikuti kami trekking dan berhasil ! Horrayy ada teman lagi !. Cuma disini saya sama Riri bisa sombong berlagak jadi pawang anjing. Kalau di Jakarta sih lihat dari jauh aja udah bikin diam ditempat, di gonggong sekali langsung lari tunggang langgang.
Poon Hill Trekking
Riri the dog whisperer
Poon Hill Trekking
Si anjing hitam putih berkeluh kesah kepada saya kalau dirinya lapar
Poon Hill Trekking
Gantian saya yang berkeluh kesah kepadanya kalau saya lapar
Tepat jam 12 siang kami pun akhirnya kami memasuki desa Ulleri. Kami beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki dan mengganjal perut yang mulai keroncongan dengan biskuit. Desa Ulerri letaknya di atas bukit, cukup besar dan banyak penduduknya. Dari sini kalian bisa melepas pandang melihat pegunungan yang indah. Kalau cuaca cerah Annapurna Range juga bisa terlihat mengintip dari celah bukit. Banyak juga guest house dan restoran disini karena memang desa singgah utama bagi para trekker. Kami putuskan untuk tetap berjalan sampai ujung desa baru kemudian istirahat makan siang.
Poon Hill Trekking
Upah biskuit untuk anjing yang telah menemani kami
Poon Hill Trekking
Selfie, wefie, yippie !!!!
Poon Hill Trekking
Muka anjingnya sedih karena disuruh foto terus sama Riri
Poon Hill Trekking
Our Hero !
Awalnya kami ingin makan siang di restoran, namun demi berhemat akhirnya kami pun piknik di halaman rumah seorang warga agar tak perlu mengeluarkan uang untuk beli makanan. (*nasib backpacker). Kebetulan ada jemuran kosong di halaman rumah tersebut. Langsung saja kami menjemur kaos kami yang basah, plus kaos kaki dan sepatu saya yang kemasukan air saat di trek basah. Semangkok coco crunch dan segelas coklat panas pun menjadi menu makan siang kami. Percaya deh kalo di gunung atau tempat manapun yang punya pemandangan bagus, makan sesederhana apapun rasanya pasti enak. Setuju kan ?
Ulleri Village
Ulleri desa diatas bukit
Poon Hill Trekking
Annapurna Range mengintip dari celah bukit
Poon Hill Trekking
Piknik ditemani ayam Himalaya yang seksi-seksi kalau kata Riri
Poon Hill Trekking
Jemuran ! Best free facility ever !
Himalayan Chicken
Riri malah sibuk memfoto ayam, dan tatapan si ayam menyiratkan bahwa di depannya adalah monster pemakan fried chicken yang berbahaya bagi dirinya
Lagi asyik-asyik bercanda, si Ibu pemilik rumah muncul dan tampak heran melihat kami yang menjemur baju dan menggelar lapak di halamannya. Kami pun mencoba menyapa tapi ternyata ia tak mengerti bahasa inggris. Akhirnya kami pakai cara diplomasi makanan, memberinya 2 bungkus susu jahe dan energen. Dan voila !!! ia tersenyum dan menerimanya. Ia kemudian masuk kerumah lalu keluar bersama suaminya tampaknya. Si Bapak kemudian menyapa kami dalam bahasa Inggris lalu memberikan sebuah timun super besar, hampir sebesar lengan atas saya. Katanya makan saja di jalan saat kami haus, karena timunnya punya banyak air. Hihihi diplomasi berhasil !
Nepalese People
Si Ibu dan kambingnya yang menggemaskan
Nepalese People
Berfoto dengan Bapak si pemilik rumah
Sedikit tips, bawa saja teh, kopi atau makanan ringan untuk dibagi dengan pemilik guest house atau warga, mereka akan berbaik hati membalas kebaikan kita. Cara ini berhasil, buktinya waktu kami memberi Dai Raj teh tubruk melati, ia mebalasnya dengan membekali kami nasi putih sebakul padahal kami beli 1 porsi saja. Ia juga memberikan kami diskon tiket bus pulang. Ada juga Lakpa yang memberi kami air panas gratis setelah kami memberinya kopi sachet dan teh tubruk.
Sudah pukul 13:30 kami harus meneruskan perjalanan. Selepas desa Ulleri jalannya landai dan menyenangkan, masih banyak kami temui rumah warga. Kamu sempat berjumpa dengan rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak berwajah Asia Timur yang berjumlah belasan. Tampaknya dari Korea jika mendengar bahasanya. Ahjumma (Ibu-ibu/bibi) dan Ahjussi (paman) ini berusia rata-rata 40-50 tahun tapi jalannya lebih cepat dari kami. Karena iseng, saya mencoba berbasa basi dengan seorang Ahjumma yang tampak ramah.
“Hi, helllo where you come from ?” tanya saya
“Hi, I’m from South Korea, so where you come from ?” ia balik bertanya
“Anyeonghaseyooo, Eomonii, oh sorry I mean Ahjumma. we are from Indonesia” 
“Ah you can speak korean !”
“No, no, no, I just know a little bit because I love Kpop. hehhehehe”, 
“Ahhh I see, Korean pop ! hahahaha”
“how much trekkers in your group ?”
“Hmmm, fifthteen, we are in one community there are from Seoul, Busan, Jeonju, Incheon.”
“Wow so many, You all look so healthy and strong, we are younger but very slow.hahaha”
“Hahahah thank you, you both also looks beatifull, you have big eyes.”
“Ahahahha khansahamnida, okay see you in Poon Hill.”
“okay see you, bye bye” 
Yaampun saya merasa malu kalah kuat dengan mereka yang usianya 2 kali lipat. Semoga pas tua nanti saya tidak berakhir di komunitas senam SKJ ibu-ibu, tapi masih ikut komunitas trekking seperti mereka.
 IMG_3660
 Rombongan Ahjumma sudah jauh meninggalkan kami, tinggalah kami berdua ditemani suara serangga dan air sungai yang mengalir di kejauha. Tibalah kami di kawasan hutan lebat, tidak selebat hutan-hutan tropis di Indonesia sih. Tapi karena kami hanya berdua saja sepanjang jalan, jadi lumayan bikin sedikit merinding juga sih. Yah, keep positive thinking aja.
Poon Hill Trekking
Lebat, Lumut dan Licin ! itulah gambaran hutan-hutan di jalur Poon Hill Trekking ini

 

Poon Hill Trekking
Ketika selfie jadi obat penghibur di kala lelah

 

Tiba-tiba saya kebelet pipis, karena tak kuasa menahannya, akhirnya memutuskan untuk pipis di semak-semak. Saat ingin mengambil tisu yang saya letakkan di samping, tiba-tiba sudah ada pacet menempel di bungkus plastiknya. Panik pun melanda, alhasil tisu saya tinggalkan begitu saja.
Riiii, ayo cepet jalan, jangan deket-deket semak, banyak pacetnya !
Ahhh serius ?!, Riri pun langsung mengecek sepatu dan celananya, benar saja ada 1 pacet sedang menempel di sepatunya.
Hiiy~~~`

Senja pun tiba, sudah pukul 06:00 sore namun tanda-tanda desa Ghorepani masih belum tampak. Kabut turun dan makin menebal membuat suasana hutan menjadi mistis. Kaki saya ngilu bukan main, betis rasanya mau pecah. Mau duduk sulit karena takut di tempelin pacet lagi. Riri juga sudah tampak kelelahan dan pucat, saya cemas karena dia penakut kalau berada di hutan. Sungguh mental kami diuji saat ini, kalau kami berdua cengeng mungkin sudah menangis saat itu. Kami tak masalah jika harus berjalan terus, asalkan bisa beristirahat dulu setidaknya 30 menit. Yang jadi masalah adalah jika kami tidak lanjut berjalan, kami akan kemalaman di hutan. Dan jujur kami takut kesasar atau ada hewan buas keluar saat gelap. Disaat seperti ini saya cuma pasrah berdoa dan mencoba terus berpikir positif, selama yang kita lakukan baik, Insha Allah akan selalu ada dalam lindunganNya.

“Ya Allah lindungilah kami, kami hanya ingin melihat kebesaran ciptaanMu, berilah kami kekuatan untuk mewujudkannya, la haula wala quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.”

 

Poon Hill Trekking

 

Poon Hill Trekking

30 menit kemudian masih dengan nafas terengah-engah dan kaki yang sedikit pincang akhirnya saya melihat gerbang desa Ghorepani. Allahu Akbar ! Alhamdulillah ! ucap saya saat sampai di depan gerbangnya. Syukurlah kami tidak kemalaman. Lansung saja kami bertanya dimana letak Sunny Guest House yang direkomendasikan Lakpa karena pemiliknya masih rekanan dengannya.
Poon Hill Trekking
Saking lelahnya, senyum pun terasa berat
 IMG_3720
Tepat jam 7 malam kami sampai di Sunny Guest House, ternyata letaknya masih agak jah dari gerbang desa Ghorepani. Sang pemilik, tamu dan trekker lainnya yang sedang bersantap malam tampak heran melihat kami yang baru sampai sesore ini. Tanpa basi-basi kami langsung memesan kamar, lalu bergegas mandi. Syukurlah ada shower air panas disini, walau tambah bayar tak apalah, karena sangat membantu menghilangkan lelah di tubuh kami yang sudah tak karuan rasanya.
Selesai mandi, perut kami berontak minta diisi. Sepiring besar nasi goreng sayur, spagheti dan roti chapati sukses bersemayam di perut ini. Oh iya, jadi ceritanya saya dan Riri itu nggak suka masakan rasa kari India yang serupa dengan menu makanan Nepal. Jadilah kami memesan makanan menu chinese food atau western food. Kalau chinese food masih okelah rasanya, tapi kalo spagheti yang kami pesan gagal rasanya, hahaha, nggak tahu sih kalo di restoran kotanya. Ini kan di desa 2900 mdpl ya, jadi nggak bisa muluk-muluk juga mau makan enak.
Nepali Food
Yummy !
Sunny Guest House Ghorepani
Suasana ruang makan di Sunny Guest House
Berakhir sudah perjalanan berat di hari ini, 9 jam ditempuh dengan berjalan kaki. Kami harus segera tidur karena harus bangun jam  03:00 dinihari untuk trekking ke Poon Hill. Udara dingin Ghorepani yang menusuk mengantar kami tertidur pulas dibalik selimut tebal.

5 Comments

    1. Antin

      Kalau lagi musim moonsoon memang banyak pacet, tapi kalo lagi winter enggak kok mba, yah mungkin ada 1-2 lah di jalur air biasanya. Omong-omong terima kasih banyak sudah mengikuti ceritanya 1 persatu, aku jadi merasa udah kenal lama sama mba Fanny :), ikutin terus ya mba sampai akhir, nanti akan ada juga videonya, stay tune !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *