Nepal’s Journey Day 5 : Poon Hill Summit !

Hanya 15 menit saya diberi kesempatan oleh yang Maha Kuasa melihat raksasa Annapurna terasa sangat dekat di depan mata saya. Tapi 15 menit di puncak Poon Hill itu jadi momen yang takkan terlupakan semasa hidup saya.

_________________

Dingin menusuk menyerang dinihari itu. Selimut tebal, polar jacket, kaos kaki wol double seakan tak kuasa melawan dinginnya Gorephani.  Untung saja saya masih bisa tertidur pulas, mungkin karena efek lelah yang tak tertahankan. Dengan mata yang masih berat kami bergegas untuk trekking menuju Poon Hill, tujuan utama perjalanan ini. Air untuk cuci muka rasanya seperti es, rasanya bagaikan ditampar, hingga kantuk pun hilang.

Pukul 03:30 kami berangkat, jalanan desa masih gelap, namun beberapa trekker sudah mulai terlihat menuju arah Poon Hill. Kami ikuti saja kemana arah mereka berjalan karena jujur kami buta arah. Desa Gorephani yang menjadi desa terdekat dari Poon Hill ini berada di ketinggian 2874 m. Wajar saja nafas saya dibuat sesak karena oksigen yang menipis diketinggian tersebut. Sebenarnya treknya tidak sulit, masih berupa tanjakan tangga bebatuan, tidak seperti trek summit gunung-gunung di Indonesia yang ekstrim. Mungkin memang fisik saya yang sudah mulai drop, entah sudah berapa banyak trekker yang membalap di depan kami.

“Riii, sumpah gue engap banget, gue pelan-pelan aja, lo kalo mau duluan nggak papa, nanti ketemu di atas, jalurnya rame kok tenang aja”.

“Yaudah nggak papa, jangan dipaksa kalo engap, tetap bareng aja kita gue jalan pelan-pelan di depan.”

Dibanding Riri, fisik saya kalah kuat, tapi untuk keberanian di malam hari, saya lebih berani. Jadilah kami saling menjaga satu sama lain.

Poon Hill Trekking
Oksigen tipis dan tangga yang tak berujung
Poon Hill Trekking
Harga tiket masuk Poon Hill Rs 50 (sekitar Rp.6500)
Poon Hill Trekking
Menara pandang di puncak Poon Hill sudah terlihat

Singkat cerita, setelah 2,5 jam berjuang trekking (dari seharusnya 1 jam), kami pun sampai di menara pandang Poon Hill. Suasana di atas sudah ramai oleh para trekker yang membalap kami sebelumnya. Rombongan Ahjumma dan Ahjussi dari Korea yang bertemu kami kemarin juga sudah sampai. Sayangnya kabut tebal masih mendominasi, tak ada satupun gunung yang tampak, hanya kabut tebal dimana-mana. Kami pun beristirahat dahulu sambil mengamati suasana dan mempersiapkan kamera kami. Dalam hati kami berdoa semoga angin yang berhembus mampu membawa kabut pergi. Hingga 15 menit kemudian ada orang yang berteriak.

“woaa the mountains appear !! That is the mountain ! That is the mountain ! Look at that side !!”

“woooaa very beatifull, what is that ??”

“It’s Dhaulagiri”. Kata seorang Guide

Poon Hill Trekking
Gunung Dhaulagiri mulai menampakkan wujudnya
Poon Hill Trekking
Bertemu kembali dengan rombongan Ahjumma Korea yang tampak riang berfoto ria
Poon Hill Trekking
Himalayaku bukan sekedar gambar di majalah lagi
Poon Hill Trekking
Bangganya bisa berfoto dengan samudera awan Himalaya
Poon Hill Trekking
ekspresi bahagia yang hanya kami berdua tahu rasanya

Kamipun langsung ikut takjub melihat puncak Dhaulagiri yang indah tertutup salju disinari sang mentari. Saya dan Riri langsung sibuk mengabadikan foto sambil berharap cemas, gunung-gunung lainnya juga akan terlihat.

“Woawwwwwww Annapurna,  Annapurna appear !”

(semua mata pun langsung berganti arah melihat kemunculan Annapurna)

“That’s its Annapurna South, Annapurna One” kata seorang guide menjelaskan 

Ririiiiiiiiiiiiii liat Rii !!! Ahhhhhhh akhirnya Annapurna kelihatan Riiiii !!

Huhuhuhuhu, spontan saya memeluk Riri, berbagi kebahagiaan karena mimpi kami berdua melihat Himalaya tercapai. Akhirnya friendship goal kami merayakan ulang tahun bersama di tempat-tempat terindah terlaksana kembali. Memang bukan di Puncak Rinjani seperti rencana awal kami. Tapi siapa yang menolak merayakannya dihadapan sang Annapurna?

Memang bukan foto-foto keren Annapurna Range yang berhasil kami bawa pulang. Tapi itu sudah cukup meyakinkan saya bahwa makna perjalanan bukan semata didapat dari foto-foto keren di tempat tujuan. Namun tentang cerita bagaimana perjalanan itu mampu megajarkan kita jadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang butuh mahkluk lain, manusia yang kecil dihadapanNya, manusia yang butuh tekad hidup untuk tetap dimanusiakan.

Annapurna South 7,219 m
Annapurna I (8,091 m) (left), Annapurna South 7,219 m (right). Correct me if I’m wrong. Yang kelihatan lebih tinggi Annapurna South, tapi sebenarnya lebih tinggi yang Annapurna I, mungkin tergantung dari arah mana kita melihatnya.
DSC07673c
Annapurna I

Ini jadi 15 menit paling menggetarkan semasa hidup saya. Annapurna yang tingginya hampir 3 kali lipat gunung-gunung di Jawa terasa sangat dekat di mata saya. Jantung ini berdebar keras, kakipun terasa lemas, hanya kalimat memuji kebesaranNya yang saat itu terucap, betapa kecilnya saya dibanding Annapurna apalagi dihadapanNya.

Annapurna from Poon Hill
See you again Annapurna

Kabut kembali tebal, malah lebih tebal dari awal. Poon Hill pun berubah jadi putih semua. Tampak trekker-trekker lain memutuskan untuk kembali turun. Kami pun menyempatkan foto-foto di tugu Poon Hill sebelum kembali turun ke bawah.

Poon Hill Trekking
Pertama kali mengibarkan sang saka di luar Indonesia

IMG-20180807-WA0012

Poon Hill Trekking
Spot favorit untuk berfoto bagi para trekker
Poon Hill view tower
Maj Tek Bahadur Pun, penemu Poon Hill, menara pandang dibangun sebagai pengingat jasanya.

Perjalanan turun jauh lebih gampang, dalam 1 jam kami sudah kembali sampai Sunny Guest House. Bruuukk, saya melemparkan diri ke kasur sambil menarik selimut tebal.

Riii, biarin gue tidur sejam ya, capek banget sumpah, bangunin jam 10 nanti.

Ok, gue juga mau kalo gitu, kita setel alarm aja jam 10, abis itu sarapan terus check out.

Dari jendela kamar, tampak trekker lain mulai melanjutkan perjalanan. Ahh biarlah, kami tak peduli dan kami berdua pun langsung tertidur pulas.

Pukul 10 lewat, pintu kamar kami diketuk sang pemilik guest house, Mr.Purna. Ia menanyakan apa menu sarapan yang kami ingin pesan, karena jam ordernya mau ditutup. Ternyata, hampir semua trekker memang sudah check out, mungkin tinggal kami yang belum. Setelah sarapan, kami pun bergegas kembali untuk packing dan meneruskan perjalanan turun menuju desa selanjutnya, Desa Tadapani.

Pukul 11:30 kami meninggalkan Gorephani. Berat sekali meninggalkan desa ini. Rasanya ingin kembali ke Poon Hill esok paginya, berharap melihat Annapurna lagi lebih jelas. Tapi rasanya sedikit mustahil melihat Annapurna dengan jelas di musim moonsoon seperti ini.

Jalur yang kami lewati masih ditutupi kabut tebal, jarak pandang hanya sekitar 20 meter. Treknya juga menanjak terus, hingga kami akhirnya kami berhenti di persimpangan. Sambil mengatur nafas, saya celingukan mencoba mencari panah petunjuk jalan yang biasanya mudah ditemukan saat ada simpangan. Tidak ada siapa-siapa saat itu, hanya ada seekor kerbau yang ditinggal pemiliknya sedang merumput.

‘”Riii, Tadapani ke kanan apa kiri nih ?? nggak ada panah petunjuk.”

“Kalau ngikutin peta sih ke kiri yaa, coba kita liat map terus pake kompas.”

“Sayapun mengeluarkan kompas manual dan kompas di HP, arah jarum kompas pun menunjukkan ke arah yang sama.”

“Tapi gue ragu rii, di kiri jalurnya hutan lebat terus kayanya, di jalur kanan juga nggak kelihatan apa-apa ketutup kabut. Kita tunggu lagi deh 10 menitan, nunggu orang lewat, pastiin jalurnya bener mumpung belum jauh dari desa.”

Poon Hill Trekking
Kabut membuat jarak pandang terbatas

IMG_3761

5 menit menunggu syukurlah ada seorang remaja laki-laki muncul dari arah Gorephani, dan benar katanya bahwa arah Tadapani harus lewat kiri.

Kabut tebal membuat hutan lebat ini semakin lembab, jalurpun jadi berubah didominasi tanah dan ranting pohon yang membusuk. “Wah, kita harus inspeksi sepatu terus nih Ri, tempat kaya gini favoritnya pacet” kata saya.

Tiap lima menit berjalan, kami berhenti memeriksa pacet, dan benar saja ada 2-3 pacet sudah menempel di sepatu, trekking pole dan bahkan ada yang di celana. Belajar dari pengalaman kemarin, kami berdua sudah siap sedia memakai pakaian tanpa celah. Legging, kaos kaki panjang, kaos lengan panjang, pokoknya tak ada celah untuk pacet masuk. Trekking pole pun kini berguna sebagai senjata untuk menyingkirkan pacet yang menempel, walaupun dalam adegannya tetap pakai teriak-teriak histeris.

Kyaaaa Tinyyyyy !!! itu ada satu di celana lo, tunggu-tunggu !!!

Ahhhhhhhh, mana mana mana ???! lepasin pakai trekking pole lo, cepetan !

Ahhhhh di trekking pole gue juga ada ! 

Riiiii, di sepatu lo ada tiga, eh empat sama yang di talinya!!!!

Huanjiiir, gillaaak!! bantuin gue cepet! cepet keburu dia masuk ke dalam sepatu !

Dan begitu kegiatan kami seterusnya hingga 2 jam perjalanan ke depan.

Poon Hill Trekking
Hutannya kaya hutan terlarang di Hogwarts

IMG_20170829_163435_HDR

Sekitar pukul 2 siang kami memasuki desa Birethanti, kami bertemu kembali dengan rombongan trekker China yang pertama kami temui di Nayapul. Mereka tampaknya sedang beristirahat, kami pun bertukar informasi mengenai trek yang sudah dilalui masing-masing.

1 jam kemudian, trek berubah menjadi turunan lembah yang licin. Banyak jalur air yang harus kami lewati. Lagi-lagi saya merelakan sepatu saya basah. Derita, nggak punya sepatu waterproof.huhuhuhu. Dengkul rasanya mau copot saat menuruni tangga satu persatu, belum lagi ditambah teror pacet yang masih mengintai. Perut kami pun dibuat keroncongan setelah trekking 3 jam lebih. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan di sebuah rumah makan penduduk di tepi sungai sambil meluruskan kaki sejenak.

Poon Hill Trekking
Batu tumpuk seperti ini banyak ditemukan di pinggir-pinggir aliran sungai, jangan di isengi ya, karena katanya itu untuk mendoakan leluhur.
Poon Hill Trekking
Walau di pedalaman gunung, tapi TV nya LED, mantap
Poon Hill Trekking
Potret nenek moyang bangsa Nepal
Poon Hill Trekking
View desa Birethanti dari rumah makan

Sudah jam 16:00, kami harus meneruskan perjalanan sebelum kesorean. Si ibu pemilik rumah makan mengatakan Tadapani jaraknya sekitar 1,5 jam lagi. Hmmm, 1,5 jam itu artinya bisa 2 jam lebih bagi kami untuk trekking. Jalur ternyata makin buruk, banyak jalur yang longsor walau masih dalam tahap aman. Bahkan ada jalur yang terputus karena ada pohon tumbang. Untung saja sedang dibersihkan oleh beberapa warga, mereka membuat jalur baru disampingnya. Tapi karena masih berupa tanah becek semua, alhasil sepatu sayapun berganti warna dari abu-abu menjadi coklat tanah, begitu juga dengan Riri. Untungnya kami masih di jalur sungai, jadi kami bisa membersihkan sepatu kami di aliran sungai.

Selepas lembah sungai, trek tanjakan kembali menyapa. “Ya ampun, jadi ini rasanya jadi ninja Hattori, memdaki gunung lewati lembah, turun lembah naik bukit, turun lagi naik lagi”, keluh saya yang sudah kehabisan tenaga. Langkah kami pun berubah jadi seperti keong, lima langkah berhenti, lima langkah berhenti.

“Ayooo Tinyyy semangat! nanti kita kemalaman, ini masih hutan lebat. kata Riri yang sudah jauh di depan saya.”

“Di depan udah kelihatan jalur terang belum Riii ? apa belum kelihatan ujungnya ?”

“Kayanya habis belokan bukit yang itu udah deh, ayo ayo dikit lagi.”

Dengan sisa-sisa tenaga sampai juga kami di pintu desa Tadapani. Fiuuuh, tepat pukul 18:00 sebelum hari mulai gelap. Kami belum tahu akan menginap di guest house mana. Tadinya sih kami ingin menginap di Guest House yang ada di atas bukit, tapi kami urungkan karena sepertinya masih harus menanjak lagi lumayan jauh. Akhirnya kami memilih guest house terdekat yang terlihat sudah disinggahi trekker lainnya, namanya Himayalan guest house. Kami bertanya harga kamar kepada seorang pria paruh baya yang sedang duduk di halaman. Ternyata ia bukan pemilik, ia hanya warga sekitar, ia menginfokan harganya Rs 300 sekamar. Ketika dia mengetahui kami dari Indonesia, dia pun excited karena ternyata ia pernah kerja lama di Malaysia seperti halnya Dai Raj. Langsung saja kami memanfaatkan kesempatan ini, jurus merayu pun kami keluar.

“Pakcik-pakcik ayolah bantu kami tawar kamarnya, 200 nepali rupee saja se kamar.”

“Baiklah, kalian tunggulah sebentar.” Jawabnya sambil tersenyum pada kami.

Si pakcik kemudian menghampiri sang pemilik dan bernegosiasi, mereka berdua kemudian menghampiri kami.

“So you need one room with two bed ?” Tanya sang pemilik

“That’s right, Rs 200 for one room, okay ?”

“Okay, but if you need hot water or wifi, you need to pay more.”

“Ok, no problem, Danyevad, terima kasih pakcik ” 

Himalayan Tourist Guest House Tadapani
Himalayan Tourist Guest House
Tadapani
Guest House sangat sederhana tapi penuh makna
Himalayan Guest House
Balkon di lantai 2
Himalayan Guest House
Kamarnya imut-imut

Senang rasanya kalau berhasil menawar. Kami pun langsung bergegas untuk mandi. Riri memilih mandi dengan hot water dan saya coba menantang diri dengan mandi pakai air biasa. Bukankah, para pemain bola kalo habis bertanding berendam di air es ?, mari kita coba.

Brrrrrrrrrrrrrr, sial dinginnya kebangetan, saya yang tadinya mau merendam kaki pun tidak jadi, langsung cepat-cepat mandi sebersihnya saja. *makanya jangan sombong, emangnya situ atlit sepakbola

Malamnya kami bersantap malam bersama, ada pakcik dan temannya seorang guide yang ikut  menemani kami mengobrol. Ternyata si Guide juga ternyata pernah bekerja di Singapura. Oh jadi di Nepal banyak yang kerja di Malaysia & Sigapura juga ya macam TKI kita. Si pakcik kemudian curcol kalau ia rindu dengan pacarnya yang  ada di Malaysia. Ohhh jadi LDRan nih pakcik, Tadapani udah dingin jadi makin dingin deh. Saat asik sedang mengobrol soal kuliner melayu, tiba-tiba ada seorang guide berkata lantang.

“Hi everyone, the mountains appear, you can see the mountain from outside”

Ahhh seriusan !, gunungnya kelihatan malam-malam begini, kami dan para trekker lainnya berbondong-bondong keluar.

“Wahhhhh beneran, gilaaaa ada milky way juga Riii !!! Cakep banget.” Kata saya kagum

Memang malam hari itu langit tampak lumayan cerah. Untung saya masih ingat cara hunting foto milky way. Walau ada awan tebal, tapi saya berhasil mengabadikannya.

Annapurna in the night from tadapani
Annapurna di malam hari, view dari desa Tadapani

 

Sayapun terus duduk mengamati Gunung dan langit malam itu, menyimpan momennya dalam-dalam di benak saya. Riri kembali ke dalam karena harus mengabari bu Tuti, ibunya. Rupanya tak hanya saya sendiri disitu yang terpesona dengan pemandangan saat itu. Ada seorang bapak-bapak dari Australia yang ikut menikmati, ia bercerita katanya ia sangat menyukai pemandang gunung salju Himalaya, karena tak ada pemandangan seperti ini di Australia.

“Machapuchre is my favourite one, I realy like it, the shape of the mountain so magnificient, I don’t know why.” Kata di bule Australi.

“I agree with you, I also like Machapuchre,very cool, very charismatic than the others.”

Tiap gunung memang selalu punya caranya tersendiri untuk meninggalkan cerita bagi yang mengaguminya. Begitu pun Annapurna yang mengukir cerita indah di hati ini. Hingga akhirnya sang gunung kembali tertutup awan, sayapun kembali ke kamar untuk beristirahat. Entah petualang apa yang menanti esok hari. Saya hanya ingin menikmati setiap detiknya.

*PS : Happy 27th Riri !

DSC07687c
Riri dan Dhaulagiriririririri

Selamat ulang tahun ya Ri, tepat di tanggal cerita kali ini di post, 7 Agustus 2018, sahabat saya sekaligus tokoh kedua di cerita ini berulang tahun ke 27. Mungkin saya sedikit menyesal tidak bisa menginjak Annapurna Base Camp bersamanya, tapi pasti bakal lebih menyesal lagi kalau kami tidak jadi nekat ke Nepal tahun lalu untuk merayakan ultah kami yang berbeda sehari.

Tahun ini kita kayanya kita skip dulu merayakan ultah bersama di tempat-tempat indah Indonesia dan dunia, karena kamu lagi mengandung Ajun. Jangan khawatir stock foto-foto kita berdua di tempat keren masih banyak kok yang belum di post. Pokoknya kamu mesti sehat-sehat terus, biar Ajun tumbuh sehat juga. Nanti kalau Ajun sudah besar kita ajak napak tilas ke Poon Hill lagi. Kan katamu Ajun dari kecil mau diajarin tentang seven summit. Hahahha. Ahjumma-ahjumma korea itu juga bisa kok, kenapa kita enggak, kan kita bakal jadi Lion Mama.

Apapun doamu pasti ku aminin, terutama doamu yang mendoakan ku cepat menemukan pelabuhan hati 😛

Terima kasih sudah menjadi sahabat, kakak perempuan, dan travel partner sekaligus yang sempurna. Terima kasih untuk tak pernah menolak menemani tidur di emperan stasiun, terminal bis, bandara sampai pelabuhan. Dan terima kasih sudah menghangatkan dinginnya tidur di bawah langit sejuta bintang, disamping deburan ombak, hijaunya sabana hingga tenggelam dalam samudera awan.

Dan yang terkahir, terima kasih sudah jadi tokoh kedua yang mengisi cerita-cerita perjalanan di blog ini, mungkin tanpamu isi cerita di blog ini jadi hambar. Menyatir lagunya mas Duta, semoga petualangan kita terus berlanjut untuk menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

– your lovely tiny lion sister 😉

6 Comments

  1. Terharuuuu baca bagian akhir :). Akupun ada travel mate , sahabatku yg paling sering jalan, paling bisa diandelin. Walopun utk trekking begini, jujurnya kami berdua blm mampu wkwkwkwkwk.. Liat gunung2nya dari puncak poon hill, aku ikutan merinding mba.. Berasa kecil banget yaaa kita. Jd ngerti kenapa para pendaki ga pernah bisa berhenti mendaki

    1. Antin

      selama ada sahabat, rasanya sesusah apapun perjalanan kita pasti masih terasa aman karena saling melindungi. Kami berdua pun belum mahir naik gunung mba, hanya ikut rombongan teman biasanya. Mungkin kalo nggak jalan sama travel mate ku ini, aku juga belum tentu berani trekking nekat berdua saja.

  2. Aku kok baca endingnya malah mewek. Jadi ingat sahabat yang kemana-mana bareng, bercita-cita trekking bareng ke tempat ini, sayang dia sudah berpulang beberapa tahun lalu. Terima kasih sudah berbagi cerita yang mengesankan. Ditunggu kisah-kisah lainnya.

    Salam
    ~Sash

    1. Antin

      terima kasih mba Sash sudah mampir, salam kenal. Wahh aku banya komennya mba langsung berlinang air mata, nggak sanggup kalo ngebayangin itu kejadian sama aku. Semoga sahabat & travel mate mba Sash tenang disisiNya, ia pasti juga bangga melihat sahabatnya terus menjelajah walau tanpa dirinya dan pasti melindungi mba dari jauh.

      Salam,
      Antin

  3. Jadi si riri itu sepantaran ma kita? Ahahaha, kukira dia lebih muda. Sampein selamat dan semoga ajun sehat selalu. Ehhh met tambah usia juga buatmu yak.
    Aku jadi pengen nglayap jauh tin. Kapan2 kita nglayap jauh ya. Kita kan belum pernah pergi jauh barengan.Xixixi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *