“Apalah artinya mendaki sampai puncak jika harus meninggalkan sahabat perjalanan. Itulah pelajaran yang saya dapat dari cerita pendakian Gunung Merbabu ini.”

 “Tin, besok kita ganti tujuan ya”

Sebuah pesan dari Linus mengalihkan perhatian saya dari lamunan melihat jalanan malam di perjalanan bis menuju Jogja malam itu.

“Maksudnya, berubah jalur pendakian naik ke Lawu nya Nus ? ” balas chat saya ke Linus

“Bukan, kita nggak jadi ke Lawu ya soalnya temen nggak jadi berangkat, kita ke Merbabu aja” balas Linus kembali

“Whattttttttt?!, Ri, kata Linus kita nggak jadi ke Lawu jadinya ke Merbabu” sentak saya ke Riri yang sedang sibuk browsing tentang jalur pendakian di Gunung Lawu dari HPnya.

“Hahhhh, Kenapa??!! Riri pun tidak kalah kaget menanggapi berita dari Linus.

Mendadak Berubah Tujuan 

Singkat cerita, malam itu saya dan Riri dalam perjalanan menuju Jogja untuk mendaki Gunung Lawu bersama Linus dan temannya yang tinggal di Jogja. Namun tiba-tiba Linus berubah pikiran karena temannya yang merangkap jadi guide ke Gunung Lawu batal berangkat. Karena Linus ragu mendaki gunung Lawu tanpa guide apalagi membawa kami berdua cewe-cewe pendaki amatir, akhirnya dia memutuskan untuk mengganti tujuan ke Gunung Merbabu yang ia nilai lebih bersahabat jalurnya.

Padang Sabana Gunung Merbabu
Padang Sabana Gunung Merbabu

Kami berdua pun tak keberatan karena kami memang sedang ingin naik gunung apapun itu. Sebagai ganti kami gagal merayakan ultah bersama di Gunung Rinjani, Agustus lalu. Toh saya pun penasaran dengan sabana Merbabu yang terkenal indah itu. Riri pun tampak sumringah karena tak perlu mencemaskan Gunung Lawu yang terkenal angker itu. Hihihihi Riri takut sama yang berbau horor soalnya. Kami pun tertawa berdua karena tak menyangka tujuan kami berubah dadakan. Padahal kami sudah woro-woro ke semua orang bahwa kami akan mendaki Gunung Lawu. Yasudahlah, kemanapun itu asal dilancarkan dan menyenangkan.

Touring Motor dari Jogja ke Camp Selo Boyolali

Sampai di Jogja keesokan paginya, kami dijemput Linus dengan mobil truk andalannya. Setelah beristirahat di kedai milik Linus, kami melanjutkan perjalanan dari Jogja menuju Camp Selo di Boyololali, Jawa Tengah. Dari banyak jalur pendakian Gunung Merbabu seperti Jalur Selo (Boyolali), Jalur Tekelan (Kopeng, Salatiga), Jalur Suwanting (Magelang), Jalur Wekas (Magelang), Jalur Chuntel (Magelang). Kami memilih Jalur Selo (Boyolali) karena katanya aman untuk pendaki pemula dan paling ramai. Maklum, kami bertiga belum pernah mendaki ke Gunung Merbabu, cari aman saja jadinya. Kalo mau info lengkap tentang teknis pendakian Gunung Merbabu yang berketinggian 3.149 mdpl silahkan kesini.

mendaki merbabu
Muka ceria sebelum mendaki, Linus, Saya, Riri

Pukul 11:00 WIB kami berangkat dari Jogja dengan rute melewati Jalan Raya Solo Jogja – Klaten – Boyolali – Selo. Perjalanan seperti ini yang sangat saya nikmati, murah meriah dan membumi. Bisa melihat langsung kehidupan penduduk sekitar. Beberapa kali kami berhenti untuk tanya arah dan semua dijawab dengan ramah. Perjalanan dari Jogja sampai Boyolali berjalan lancar, baru saat memasuki wilayah Selo jalanan mulai rusak tak karuan, ditambah lagi banyak tanjakan curam. Ada saat dimana motor yang saya dan Riri tumpangi hampir mundur kebelakang karena tak kuat menanjak. Untungnya Riri yang membonceng sigap ikut turun dan bantu menahan motor, alhasil tak terjungkal kebelakang. Syukurlah kami sampai selamat di base camp Selo sekitar pukul 13:30 WIB.

Ketika Hal Yang Tak Diinginkan Datang

Setelah mengurus Simaksi dan membeli bekal makanan, kami mulai pendakian menuju pos 1. Entah faktor umur atau fisik kami yang masih lelah perjalanan, kami bertiga mulai ngos-ngosan terlebih Riri yang tampak berat nafasnya. Dan ternyata terjadi hal yang sangat ditakutkan wanita saat di gunung, Riri menstruasi lebih awal jauh dari jadwal biasanya. Baik kami berdua tak ada yang membawa pembalut karena memang bukan jadwalnya. Kami hanya berharap ada pendaki perempuan yang membawanya. Saya sempat meragukan kondisi fisik Riri, tapi ia tetap kukuh melanjutkan pendakian. Yasudahlah, orang berkepala batu macam Riri (dan saya juga sih) tak bisa dilarang kalau sudah bertekad kuat. Untungnya Riri tipe yang tangguh, bukan tipe yang cengeng saat mengalami keram perut karena menstruasi. Kalau saya yang mengalami pasti  sudah turun kembali ke base camp pendakian Gunung Merbabu.

jalur pendakian merbabu
Sudah mulai kelelahan

Hujan dan Pesimis

Hari mulai gelap dan turun pula gerimis saat kami tiba di pos 1. Kami pun memutuskan untuk istirahat makan dibawah tenda bivak ala kadarnya yang kami buat tergesa-gesa. Hujan dan dinginnya malam sempat membuat kami pesimis untuk melanjutkan perjalanan. Untungnya perut yang sudah terisi membuat kami lebih semangat. Linus menyemangati agar meneruskan perjalanan hingga setidaknya sampai Pos 2 lalu kemudian mendirikan tenda.

Saya tahu Linus saat itu sudah sedikit cemas, cemas karena hari mulai malam, turun hujan dan ditambah kondisi fisik saya dan Riri yang mulai menurun. Selain itu saya rasa, ia sedikit ragu karena mendaki di malam hari dimana ia belum pernah ke Mebabu sebelumnya. Bersyukurlah saya dan Riri punya teman sebaik Linus. Bayangkan tasnya penuh perbekalan pendakian, ia rela berkorban demi menemani saya dan Riri mendaki namun tak sedikitpun ia mengeluh.

Di Gunung Itu Penuh Orang Baik

Inilah alasan kenapa mendaki gunung itu berbeda dari jalan-jalan biasanya. Di Gunung berlaku peraturan tak tertulis, sesama pendaki harus saling menyapa dan menolong walau tak saling kenal. Kami saling menyapa dan menyemangati saat bertemu dengan pendaki lain. Secara kebetulan kami bertemu mas Leli, salah satu rombongan pendaki “Backpacker Kece” kalau tidak salah ingat. Ia menawarkan kami bertiga untuk mendaki bersama. Kami pun senang menerima tawarannya karena Mas Leli sudah berpengalaman melakukan pendakian Gunung Merbabu.

Sambil bertukar cerita dengan mas Leli tak terasa kami sampai di Pos 2 dalam waktu sekitar 1,5 jam. Langsung saja saya dan Riri merebahkan diri di rumput, Linus tampak masih berbincang dengan Mas Leli menanyakan petunjuk jalur pendakian selanjutnya. Muka Riri sudah tampak pucat dan kelelahan, saya tahu ia sudah tidak mood melanjutkan pendakian ini.

Linus mengajak diskusi, apakah akan bertenda di pos 2 atau lanjut ke Sabana 1 bersama mas Leli. Saya tahu Linus condong ikut bersama rombongan mas Leli karena setidaknya lebih aman jika bersama yang lebih pengalaman. Linus bilang, sabana 1 sudah tak jauh sehabis tanjakan yang terlihat dari tempat kami duduk. Di sisi lain, saya juga tahu bahwa kondisi fisik dan mental Riri sudah tak bisa dipaksakan. Namun akhirnya kami sepakat menyusul rombongan mas Leli agar lebih aman di pendakian malam seperti ini, walau di dalam hati saya merasa khawatir dengan kondisi Riri.

Pemandangan dari atas Gunung Merbabu
Pemandangan dari atas Gunung Merbabu

Tanjakan Ujian       

Baru berjalan 10 menit kami dihadapi tanjakan miring sekitar 75 dan berpasir. Mas Leli yang sudah berada di atas mengarahkan kami mengambil jalur kiri yang lebih mudah. Kami pun mengikuti dengan memanjat satu persatu pijakan yang aman. Dan situasi menegangkan pun terjadi saat saya dan Riri berada di celah batu yang tampak seperti parit.

“Tin, gue nggak bisa naik lagi, nggak ada batu yang aman diinjek” kata Riri tepat di depan saya.

“Yaudah Ri, gue tahan dari bawah tenang aja, coba naik lagi” timpal saya.

“Nggak bisa Tin, ini kaki gue udah susah nginjek kemana-mana” jawab Riri kesal.

“Yaudah Ri tunggu, gue mundur cari jalan samping kalau gitu” sambil mundur dan berusaha memanjat batu disamping.

Linus pun membantu saya mengambil jalur samping dengan susah payah. Kondisi jalur saat itu memang berbahaya, curam, berpasir dan gelap. Jika salah ambil langkah bisa saja kami terperosok ke jurang dibawahnya. Saat sudah berada di posisi yang lebih aman saya pun menyuruh Riri mengikuti jalur saya.

“Ri, mundur aja dulu terus ambil jalur samping, nanti dibantuin Linus” suruh saya dari atas.

Iya Ri, mundur aja dulu kalau naik susah” Linus menimpali

“Nggak bisa mundur Tin, ini kaki gue udah nggak napak” jawab Riri mulai panik.

 “Arrrggghh, kaki gue ketarik” teriak Linus di belakang saya saat ia berusaha cari jalan menolong Riri.

Saya pun bingung, karena posisi saya juga sulit untuk turun kembali menolong Riri ditambah kaki Linus ketarik dan tak mungkin diminta bantuan. Saya pun memanggil mas Leli yang masih mengawasi kami dari atas untuk menolong Riri.

Dan Tiap Orang pun Ada Batasannya

“Woyyy, ini nggak ada yang mau nolongin apa, gue udah nggak bisa gerak” teriak Riri.

Dalam hati saya tahu kondisi mental Riri yang sudah drop efek menstruasi dan ditambah dia takut gelap, karena sebenarnya fisiknya lebih kuat dibanding saya. Entah mengapa keberanian saya muncul, setelah melepaskan keril, saya turun kembali berusaha menolong Riri. Di pikiran saya saat itu hanya ada bagaimana caranya agar Riri selamat. Walau sedikit terperosok saya bisa meraih bahu Riri, setidaknya ia merasa lebih aman saat saya memegang erat dia. Untungnya mas Leli datang, ia langsung menyuruh Riri melepas keril dan mengangkatnya. Lalu saya pun berusaha mengangkat Riri sambil memeluknya.

Akhirnya dengan bantuan mas Leli, kami semua selamat. Linus pun berhasil mengatasi rasa sakit kakinya yang tertarik. Rupanya ransel Riri yang besar tersangkut di celah parit sehingga membuat tubuhnya tak bisa bergerak. Ia pun makin panik karena tanah yang dipijaknya longsor hingga kakinya tak bisa menapak. Riri masih tampak down saat melanjutkan perjalanan selanjutnya, ia terlihat trauma saat melangkah di jalur yang agak berbahaya. Kami pun berusaha meyakinkan sekuat tenaga bahwa jalur yang dipijak aman dilewati. Untungnya tak lama kemudian kami sampai di wilayah yang landai. Langsung saja kami putuskan untuk mendirikan tenda disitu mengingat kondisi Riri yang tak mungkin melanjutkan pendakian lagi.

tempat camp di merbabu
Lokasi tempat kami mendirikan tenda

Naik Gunung Tak Harus Sampai Puncak

Kondisi Riri sudah membaik saat kami makan malam, ia sudah bisa tertawa lepas. Syukurlah, Allah SWT masih memberikan keselamatan pada kami semua. Kami pun segera beristirahat di temani rintik hujan yang turun lagi malam itu. Seperti biasa saya kesulitan tidur di suhu yang dingin menusuk, mungkin dingin saat itu sekitar 5-10 derajat. Tapi akhirnya saya bisa terlelap karena kondisi tubuh yang sudah sangat lelah.

camping Merbabu
Pagi ! Riri sudah sehat dan ceria lagi

Semburat kemerahan menyambut kami saat membuka tenda. Ya, kami memutuskan tidak melanjutkan summit attack kepuncak karena masih trauma dengan kejadian Riri semalam. Sesuai perjanjian di awal kami ingin mendaki santai tak mau memaksakan diri. Kami hanya berencana mendaki lagi ke sabana 1 menikmati pemandangan disana sebelum turun kembali. Pemandangan Gunung Merapi di depan tenda kami pun rasanya sudah cukup membayar perjuangan kami hingga sampai disini.

Megahnya Gunung Merapi
Sunrise berlatar megahnya Gunung Merapi
friendship never end
Friendship never end

Jatuh Cinta Pada Sabana Merbabu

Subhanallah, nikmat apa yang kau dustakan ya Allah SWT. Jantung saya berdegup kencang saat menikamti keindahan padang sabana Gunung Merbabu ini. Sejauh mata memandang terlihat samudera awan dan beberapa puncak Gunung, seperti Merapi, Sumbing dan Sindoro. Mungkin saya akan lebih jatuh cinta jika sampai puncak Gunung Merbabu, tapi sampai disinipun saya sudah sangat bersyukur. Bisa tersenyum bahagia bersama sahabat tersayang sudah lebih dari cukup.

padang ialalang Gunung Merbabu
Saya di tengah padang ialalang Gunung Merbabu
Superiri
Superiri !
antin agustin
Asyiknya jalan sama Riri adalah ada sesi hunting foto yang super niat
Riri, jangan kapok naik gunung lagi ya !
Riri, jangan kapok naik gunung lagi ya !

Apalah artinya memaksakan diri hingga ke puncak kalau harus meninggalkan sahabatmu yang sedang kesulitan. Uang bisa dicari, waktu pun masih ada lagi, yang terpenting saat ini kami bisa memegang teguh arti kesetiakawanan. Waktu pun kami isi dengan bercengkerama menertawakan kejadian semalam sambil hunting foto di padang sabananya yang indah.

linus arya
Terima Kasih Linus !
antin agustin
Cuma di atas gunung kamu bisa dikejar awan
 sahabat perjalanan
Bersama Riri dan Linus, 2 sahabat perjalanan terbaik saya
piknik di merbabu
Piknik terasyik seumur hidup !

Pelajaran Berati dari Pendakian Gunung Merbabu

Benar kata pepatah “Jika kamu ingin mengetahui sifat asli temanmu, ajaklah ia mendaki gunung”. Walau kami semua penuh dengan ego masing-masing tapi kami bisa saling memahami dan menjaga satu sama lain. Rasanya kami sudah saling mengerti batasan diri masing-masing. Pendakian ini menguji persahabatan kami dan kami tahu kami berhasil melewatinya.

leo sister
Ini cara kami merayakan ulang tahun bersama

Dan syukurlah, walau perayaan ini telat dan bukan di puncak Merbabu apalagi Rinjani, saya dan Riri tetap bisa merayakan hari lahir bersama lagi tahun ini di tempat terindah di Indonesia. Ya, hari lahir saya dan Riri beda sehari, itu mungkin yang membuat kami cocok bersahabat. Semoga Tuhan selalu mempererat persahabatan saya dan Riri yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri.

Terima Kasih Merbabu atas semua pelajaran hidup yang telah kau berikan. Tempaan alammu menjadikan kami pribadi yang makin kuat sekaligus rendah hati. Sampai jumpa kembali, semoga lain waktu kami bisa menyapa puncakmu.

Riri Antin di sabana merbabu
Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *