Nepal’s Journey Day 6 : (Tadapani-Gandhruk) Teror Pacet dibalik Indahnya Sang Annapurna

Kami kira perjalanan turun dari Tadapani ke Gandhruk akan mudah dan menyenangkan, tapi ternyata disitu letak ujian sesungguhnya. Teror Pacet !

Dering alarm dari handphone membangunkan saya, kali ini lebih pagi dari biasanya. Sengaja saya setel lebih awal, karena saya ingin melihat Annapurna di kala fajar menyingsing. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, saya mengintip ke jendela kamar tapi sang Annapurna masih tertutup awan. Udara dingin langsung merasuk, saya pun kembali kedalam selimut tebal dan tertidur kembali.  Hingga kemudian sinar matahari menembus kaca jendela dan membangunkan saya. Langsung saya beranjak keluar kamar dan benar saja Annapurna sudah gagah menjulang. Pemandangan pagi ini tentu saja mengobati sedikit kekecewaan saya karena Poon Hill Summit kemarin tertutup kabut.

Tak ada cara lain untuk mengabadikan momen indah ini selain memainkan lensa saya dan menghirup dalam-dalam udara dingin, membiarkan meresap sedalamnya ke dalam sanubari saya. Dan berikut pemandangan yang nerhasil saya abadikan.

Annapurna Range
View Annapurna Range dari Tadapani Village
Tadapani Village
Pemandangan desa Tadapani dari balkon penginapan yang berlatar Annapurna Range

 

Fishtail Annapurna Range
Gunung Fishtail/Machapuchare di Annapurna Range

Tadapani Village

Sekitar pukul 8 pagi awan sudah menutupi Annapurna kembali. Sudah saatnya pula kami bergegas turun menuju desa selanjutnya, desa Gandhruk. Dari Gandhruk kami akan lanjut mengejar bis di desa Kimchee yang hanya sejam dari Gandhruk. Selesai sarapan kami berpisah dengan pemilik penginapan, dan para trekker lain yang mengambil arah berlawanan dengan kami.

Baru berjalan sekitar 10 menit dari Tadapani, hutan lembab dengan tanah becek sudah menyambut kami. Spontan kami langsung waspada dengan pacet-pacet yang banyak berkeliaran di tempat seperti ini. Di hari keempat trekking ini kami sudah paham betul tempat-tempat favorit pacet berkeliaran. Dan benar saja, kecemasan kami terbukti, sudah banyak pacet menempel di trekking pole dan sepatu kami. Kalian tahulah apa yang terjadi kemudian, genderang perang melawan pacet kami kobarkan.

Sedih rasanya, di hari terakhir trekking ini kami berharap bisa trekking santai, menikati pemandangan indah sambil foto sana sini, tapi ternyata alam berkata lain.

1 jam perjalanan sudah, kami kira jalur hutan ini akan berakhir, tapi ternyata kami makin memasuki kawasan hutan lebat yang udaranya dingin dan lembab. Kabut tebal menutupi semua jarak pandang, sinar matahari hanya mampu menembus lebatnya pepohonan di beberapa tempat saja.

Saat melewati jalur ini, beberapa kali leher dan lengan saya terasa gatal seperti digigit semut, tapi ketika diraba tidak ada satupun semut atau serangga lainnya yang mengigit. Yasudahlah, mungkin itu cuma digigit nyamuk yang langsung terbang, saya kembali fokus melihat jalan agar tidak terperosok. Kami berdua bahkan sama sekali tak mengambil foto, yang ada di kepala kami hanya bagaimana agar kami bisa keluar secepatnya dari hutan ini dengan selamat. Kira-kira lebatnya hutan seperti kedua gambar di bawah ini dengan jalur yang lebih sempit dan tanah yang gembur.

IMG_20170829_145910_HDR

 

IMG_20170829_163451_HDR

Tiba-tiba ada pacet besar yang menempel di lengan saya, entah dari mana datangnya. Sayapun histeris dan panik berusaha menggerakan tangan kesana-kemari agar si pacet terlepas. Huffft akhirnya dia terlepas, untung saja ia belum sampai menggigit lengan saya. Selamat, selamat …..

Tapi kemudian saya tersadar, jangan-jangan leher saya terasa gatal itu karena ulah pacet. Sayapun langsung menyuruh Riri memeriksa leher saya.

“Riii, liatin sebentar deh di leher gue ada apa ya?, kok agak gatel yaa daritadi.

“Coba sini gue lihat”

Ahhhhhhhhhhhhh Tin!!!!!, kyaaaaaa ini ada pacet udah gendut di leher lo”

“Demi apa ri??!!! Ahhhhh tolongin gue, cepet lepasin, siram minyak kayuputih dan ambil pakai tisu”

Entah darimana keberanian datangnya, Riri dengan cepat berhasil melepas pacet di leher saya, tidak sepanik seperti kejadian di hari pertama. Pacet terlepas, darah segar pun mengalir dari leher saya. Operasi pelepasan pacet ditutup dengan plester luka sambil menyeka air mata dan keringat yang bercampur di muka saya.

Saya pun gantian memeriksa tubuh Riri, syukurlah tidak ada pacet yang menempel di tubuhnya. Demi melindungi diri dari serangan pacet, apapun yang penutup yang kami punya, kami pakai semua. Topi, manset, buff, sarung tangan dan jas hujan kami pakai semua hingga hanya mata kami yang kelihatan.

Kami bergegas jalan kembali karena kami sadar, berhenti 2 menit saja itu sama saja namanya dengan memberi celah pacet untuk menyerang. Mereka seperti punya radar panas yang mampu menerjang dari segala arah. Teror pacet pun belum berhenti !!!

Ada yang jatuh dari atas pohon, ahhhhhhhhhh!!!

Ada yang melenting dari semak-semak disamping kami, lalu menempel di baju!!!

Ada juga yang menempel di sepatu lalu memanjat sampai ke celana kami!!!

Dan tak ketinggalan, serangan pacet bergerombol yang memanjat trekking pole kami!!!

Yang kami bisa lakukan hanya terus berlari sambil berteriak menerjang rintangan di depan kami.

“ Riiii lewat sini, jangan lewat situ amblas tanahnya!!!!

“ Tin, jangan diinjak pohon tumbangnya, kayunya lapuk!!!!”

“Huaaaaaa, di semak itu banyak banget pacetnya !!!”

Napas saya tersengal-sengal karena lari pontang-panting, saya pun berhenti sejenak mengatur napas sambil merundukkan tubuh saya melihat tanah yang saya injak, Riri masih berlari di belakang saya.

“Ini putih-putih kecil apa yaaa, jamur atau akar pohon serabut ??? kok banyak banget jumlahnya sampai ratusan” tanya saya dalam hati.

“Tunggu-tunggu, kok mereka gerak !!!!!”

“Huaaaaaaaaa, Astaqfirullah ini larva hidup, ulat pohon !!!!!”

“Riiiiiiiiiiii jangan injak yang putih-putih bertebaran di tanah, itu larva ulat pohon !!!!

“Astaqfirullah !!!! udah cepat Tinyyy kitaaaa lari gausah dilihat, lompatin aja !!!

Kami kembali lari terpontang-panting, melompat kesana kemari, ketakutan akan pacet dan larva ulat pohon yang bertebaran dimana-mana. Saya memang punya trauma melihat hewan sejenis ulat karena waktu kecil  pernah ada ulat keket yang menempel di tangan saya ketika bermain dan sangat sulit lepaskan. Kata ibu saya waktu saya sampai menangis histeris dan muka saya pucat pasi. Semenjak saat itu rasa takut akan ulat terus membayangi sampai saya sedewasa ini.

Kami saat itu sudah sangat lelah dan haus, tapi kami hiraukan saja. Kalau kami bisa berhenti saat itu, kami mungkin sudah nangis berpelukan. Mungkin cerita ini ini tidak ada apa-apanya bagi para pendaki sejati. Tapi bagi kami berdua yang tumbuh besar di kota, teror ini adalah mimpi buruk dalam kisah pendakian yang pernah kami jalani.

“Gubraaaakkkkk”

Tiba-tiba Riri terjatuh di depan saya, sepertinya kakinya tersangkut akar pohon.

“ Gapapa kan Riii??, ayoo terus jalan lagi kita gak boleh berhenti disini”

“Iya gapapa, iyaa ayooo terus jalan lagi”

“Hati-hati ya Rii, tetap fokus lihat jalan”

Saat itu saya merasa jahat pada Riri, saya tahu Riri sebenarnya kesakitan, kakinya agak pincang dan mukanya tampak pucat, tapi apa boleh buat kalau kami istirahat atau berjalan pelan, kami akan jadi target serangan pacet kembali. Sayapun hanya bisa berdoa dalam hati semoga terus diberi perlindungan.

2 jam sudah kami berjalan dari titik awal, akhirnya kami melihat seorang penduduk desa berjalan tak jauh di depan kami. Ia seorang pria paruh baya yang rupanya juga sedang menuju ke Ghandruk dari Tadapani. Syukurlah kami ada teman sejalan, kehadiran orang itu rasanya bagai terbangun dari mimpi buruk kami.

“Namaste Daiii, are you going to Ghandruk ? tanya Riri.

“Namasteeee….ahh yes” jawab si pria paruh baya.

Can we walk together with you, Dai ? We are very scaried, to many lychees attact us while on the track, and may you help us to take out the lychess if they attack us again ? ”

“Ok no problem, let’s walk together and watch out, don’t walk on the edge near the bushes”

“ahh okay, thanks before Dai !”

Mungkin ini hanya sugesti, kami merasa lebih aman berjalan bersamanya. Ia pun membantu kami melepas pacet-pacet yang menempel di pakaian dan tas kami dengan tangan kosongnya. Ia juga membantu menunjukkan arah di beberapa persimpangan jalan. 3 jam mencekam akhirnya berakhir, kami keluar dari jalur hutan lebat dan bertemu rumah-rumah pedesaaan kembali.

Kami langsung menumpang toilet di salah satu rumah penduduk, membuka baju dan memeriksa secara seksama apakah ada pacet yang menempel. Syukurlah tak ada yang menempel di tubuh kami. Hanya beberapa pacet yang menempel di sela-sela jaring-jaring back system tas keril Riri dan beberapa di sepatu saya. Darah gigitan pacet di leher saya pun sudah berhenti, saya mencucinya kembali dengan air agar lukanya bersih.

Gluk, gluk, gluk, gluk….saya minum sepuasnya, air 1 botol langsung habis saya minum dan pakai untuk mencuci muka. Ahhhh akhirnya, kami bisa beristirahat sejenak tanpa khawatir ada pacet.

Tak terasa sudah jam 12 siang, desa Ghandruk dikejauhan sudah terlihat, tapi masih butuh sekitar 1 jam lagi mencapainya. Kami pun pamit duluan dengan si pria paruh baya yang menolong kami, rupanya ia masih ingin menumpang istirahat di rumah temannya dahulu.

“Thank you very much Dai, Danyebaadd”

“I don’t know what will happen if we don’t meet you”

“You are our hero!!”Kata saya dan Riri bergantian,

“Hahahaha, you are welcome, take care, see you bye” Jawab si pria paruh baya melambaikan tangan.

Rasa takut dari perjalanan 3 jam yang mencekam segera terobati dengan pemandangan kala itu. Langit biru dengan gumpalan awan putih yang bergerak bergerombol bersama semilir angin. Padang rumput hijau terbentang berlatar pegunungan Himalaya. Suara cicit burung dan serangga di hutan berlomba-lomba tak mau kalah dengan suara gemericik air dari sungai yang mengalir deras. Itukah Desa Ghandruk, sebuah negeri dongeng yang sebentar lagi akan kami jejaki ?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *