Nepal’s Journey Day 6 : Negeri Dongeng Itu Bernama Ghandruk

“Apa yang saya lihat baru setengah dari keindahan Ghandruk sebenarnya, tapi rasanya saya sudah berada di negeri dongeng.”

Sepanjang jalur trekking Gorephani – Poon Hill, inilah jalur yang paling indah dan menyenangkan bagi saya. Jalanannya turun, tidak ada hutan lebat yang menyeramkan dan pastinya pemandangan yang membuat jatuh cinta.

Kenapa saya sebut negeri dongeng ?

Hmmm, salah satu alasannya karena desa ini mendekati imajinasi saya akan sebuah fantasi negeri dongeng. Rumah-rumah pedesaaan yang unik, hamparan rumput yang dipenuhi hewan ternak, deretan pegunungan yang menjadi latarnya dan kehidupan pedesaan yang terlihat damai, semuanya ada di desa Ghandruk ini.

Sayapun setuju ketika banyak traveler lain yang mengatakan desa ini wajib dikunjungi di Nepal. Jika sedang musim dingin (November – April), pegunungan Annapurna terlihat gagah menjulang dari desa ini. Sayangnya saya tidak berkunjung dalam musim terbaiknya, tapi tak apalah pemandangan ini saja sudah mampu membuat hati tergetar.

View desa Ghandruk berlatar Annapurna dalam waktu kunjung terbaiknya. (sumber Wikipedia)
View desa Ghandruk berlatar Annapurna dalam waktu kunjung terbaiknya. (sumber Wikipedia)

Rasanya saya tak perlu cerita panjang lebar, lebih baik saya ceritakan langsung dari foto-foto yang saya ambil saat melintasi desa ini.

Backpacker ke Nepal
Kami disambut jembatan gantung sebelum memasuki wilayah Ghandruk 
Backpacker ke Nepal
Wajah bahagia terlepas dari teror pacet di hutan Tadapani sebelumnya
Backpacker ke Nepal
Riri berfoto dengan seorang ibu penggembala ternak dari Ghandruk

Ada sedikit cerita menarik tentang ibu ini, pasti awalnya kalian mengira teman saya Riri yang mengajak si ibu berfoto, tapi kenyataannya adalah sebaliknya. Berawal dari bertukar sapa, si ibu mencoba berinteraksi dengan kami namun terkendala bahasa. Si ibu hanya bisa bahasa Nepal yang kami tidak mengerti, alhasil kami hanya memakai bahasa tubuh. Ia menunjuk-nunjuk kamera saya dan merangkul Riri. Oh rupanya ia ingin difoto ! Ia pun tampak senang ketika melihat hasilnya di kamera.

Kami pun berjalan bersama menuju arah desa Ghandruk dengan si ibu, rupanya ia sedang menggembalakan ternaknya. Sayangnya perbekalan kami sudah habis, kami hanya bisa berbagi biskuit dan si ibu pun sangat senang menerimanya. Sedikit tips, bawalah makanan kecil untuk dibagi dengan penduduk lokal agar bisa akrab dengan  mereka.

Backpacker ke Nepal
Jalan berbatu yang tersusun rapi menambah kecantikan desa Ghandruk
Backpacker ke Nepal
Padang rumput yang dipenuhi hewan ternak milik penduduk desa Ghandruk
Backpacker ke Nepal
Si Ibu pengembala dan ternaknya

Setelah melewati padang rumput kami pun melihat penampakan desa Ghandruk yang khas di kejauhan. Hampir semua bangunan di desa ini terbuat dari batu, mulai dari dinding hingga atap. Letak desanya pun berada di pinggir tebing, sehingga menambah keunikannya jika dilihat dari atas.

Backpacker ke Nepal
Desa Ghandruk yang berada di pinggir tebing
Backpacker ke Nepal
Jaringan listrik di desa Ghandruk
Backpacker ke Nepal
Berfoto bersama siswi sekolah lokal yang sedang melintasi desa Ghandruk
Backpacker ke Nepal
Seragam sekolah di Nepal bergaya Inggris, berdasi rapi dan menggunakan sepatu pantopel. Untuk anak perempuan hampir semua rambutnya di kepang.

Backpacker ke Nepal

Backpacker ke Nepal

Backpacker ke Nepal
Kehidupan warga desa Ghandruk
Backpacker ke Nepal
Desa Ghandruk menjadi salah satu desa transit jalur trekking Annapurna, sehingga tak heran jika ditemukan banyak penginapan di sini.

Awalnya kami tergoda untuk stay satu malam di Ghandruk, tapi mengingat waktu kami terbatas dan kami belum mengexplore Kathmandu jadi kami urungkan niat tersebut.

Backpacker ke Nepal

Backpacker ke Nepal
Rumah dengan atap lempengan batu di desa Ghandruk
Backpacker ke Nepal
Pembangunan jalan yang belum tuntas menuju desa Ghandruk

Backpacker ke Nepal
Pemandangan ngarai akan kalian temukan sepanjang jalur desa Ghandruk

Backpacker ke Nepal

Backpacker ke Nepal
Ngarai atau lembah yang dialiri sungai Modi yang hulunya berasal dari Annapurna
Backpacker ke Nepal
Jalur trekking yang tertata rapi siap menyambut para petualang
Backpacker ke Nepal
Bertemu warga lokal

Backpacker ke Nepal

Backpacker ke Nepal
Bertemu rombongan keledai milik warga desa Ghandruk

Selepas dari desa Ghandruk, kami selanjutnya akan memasuki wilayah desa Kimchee. Jalurnya masih serupa, berupa turunan dan berada di jalur tebing. Disini kami banyak menemukan sungai kecil dan air terjun kecil yang langsung berada di pinggir jalur yang kami lewati.

Backpacker ke Nepal
Jembatan dari pohon yang tumbang
Backpacker ke Nepal
Andai waktu kami panjang rasanya ingin bermain air dulu di sungai yang jernih ini

Backpacker ke Nepal

Backpacker ke Nepal
Air terjun yang entah apa namanya, karena tak ada orang yang bisa ditanya

Backpacker ke Nepal
Bertemu rombongan keledai kembali, kali ini sedang membawa muatan.

Satu jam dari desa Ghandruk, atau tepatnya sekitar pukul 15:00 kami sampai juga di desa Kimchee. Menurut info dari penduduk desa Tadapani, kami bisa naik bus langsung menuju Pokhara dari desa ini. Tapi setelah bertanya sana-sini, rupanya hari itu bus sedang tidak beroperasi, mungkin baru ada esok harinya.

Ahhhhhh, lalu apa yang harus kami lakukan ??

Seorang bapak menyuruh kami menanyakan kerumah seorang pemilik Jeep, katanya terkadang ada 1-2 jeep yang berangkat ke Pokhara. Kami pun segera bergegas dan bertanya kepada seorang pria paruh baya.

“Namaste Dai, is there any Jeep to Pokhara at this time ? “tanya Riri pada seorang pria paruh baya.

“Ahh, you want to go to Pokhara, unfortunatelly the last Jeep already depart about 15 minutes a go.” jawabnya.

“Oh my God ??! is there any alternative ? please help us Dai”. Kata saya dengan suara memelas 

“Yeaah, we don’t have much money to rent a jeep just for two of us.” timpal Riri.

“Hmm, just wait here, I will try to call the driver, I hope they are not already go too far from here.” Jawab si pria paruh baya mencoba membantu kami.

Si pria paruh baya itupun menelpon driver jeep yang baru saja berangkat 15 menit lalu, katanya ia akan meminta jeep itu menunggu kami dan kami harus menyusulnya dengan naik motor.

“He doesn’t answer my call”, katanya juga ikut cemas

Dag dig dug, saya dan Riri pun saling berpandang cemas.

Seperti mengerti kecemasan kami, si pria paruh baya tak habis akal, ia pun menyuruh seorang pemuda mengambil motor dan mengejar si driver Jeep agar menunggu kami.

Sambil menunggu kabar kami pun berbasa-basi, tampaknya ia seorang pemilik rental Jeep di desa Kimchee. Dan setelah 10 menit, si pemuda yang mengejar dengan motor kembali. Syukurlah ia bilang, driver Jeep sedang kembali menuju desa Kimchee untuk membawa kami yang tertinggal.

Muka kami pun langsung sumringah, sudah 2 kali kami mendapat pertolongan berharga hari ini. Si pemilik rental Jeep pun memberi tahu kami untuk membayar Rs 1000 per orang sebagai ongkos Jeep sampai Pokhara. Walaupun cukup mahal, tapi rasanya sepadan mengingat jalur menuju Pokhara yang jauh dan cukup ekstrim. Kamipun berpisah dan mengucap terima kasih yang tak terkira atas pertolongannya.

Di dalam Jeep rupanya sudah ada 3 penumpang warga desa Kimchee, mereka rupanya mencarter Jeep ini untuk menuju Pokhara. Mereka cukup ramah menerima kedatangan kami yang ikut menumpang di bangku belakang.  Setidaknya kedatangan kami membuat biaya carter Jeep jadi lebih murah.

Backpacker ke Nepal
Desa Kimche
Backpacker ke Nepal
Jeep yang menjadi transportasi andalan warga yang tinggal di bawah kaki Annapurna
Backpacker ke Nepal
Kondisi dalam Jeep yang cukup nyaman dan terawat
Backpacker ke Nepal
Naik jeep disini adrenalinenya sudah seperti Offroad karena jalan berbatu yang rusak dan langsung jurang ditepinya.

DSC07973

Ketika sampai di wilayah Birethanti (dekat Nayapul) yang merupakan pos awal trekking kami, sang driver mengingatkan kami untuk lapor di check post bahwa kami sudah kembali dengan selamat. Mirip-mirip dengan pengurusan Simaksi di pos pendakian gunung di Indonesia pokoknya.

Perjalanan pulang dengan jeep ini sangat menyenangkan dengan pemandangan indah yang bisa kami lihat sepanjang jalan. Ditambah lagi kemeriahan lagu Nepal yang diputar sang driver untuk menemani perjalanan. Sayapun bergurau dengan Riri, ini sih kalau di Indonesia macam dengerin lagu dangdut koplo yang diputer kenceng-kenceng pas naik bis ke luar kota.  hahahahaha

Sekitar pukul 17:00 kami sampai kembali di Pokhara Palace Hotel, sang driver Jeep berbaik hati mengantar kami hingga di depan penginapan agar kami tidak tersasar. Dai Raj, sang pemilik penginapan sangat senang menyambut kami kembali dengan selamat. Tak lama kami sampai, di lobby juga tiba rombongan lain, 2 orang pria bule dan 1 orang wanita berwajah asia  yang juga baru kembali dari trekking ke Annapurna selama 14 hari. Wow dahsyat !!!

Mereka ingin merayakan keberhasilan pencapaian trekking mereka dengan minum-minum bir di rooftop atas. Kalau saya dan Riri sudah sangat senang merayakan pencapaian ini dengan makan KFC satu-satunya di Nepal !! Salah satu mimpi Riri yang telah tercapai !

Muka bahagia Riri bisa makan ayam KFC satu-satunya di Nepal. Kata dia rasanya lebih enak versi Indonesia.
Muka bahagia Riri bisa makan ayam KFC satu-satunya di Nepal. Kata dia rasanya lebih enak versi Indonesia, karena yang versi Pokhara ada taste rempah Indianya. Untuk harganya, lebih mahal 25 % di Nepal daripada di Jakarta. 

Pulang makan dengan perut penuh terisi, kami pun langsung beranjak ke kasur. Mengistirahatkan tubuh yang sudah tidak karuan rasanya setelah menempuh perjalanan panjang. Petualangan belum berakhir, masih ada World Peace Pagoda yang akan kami jelajahi esok pagi. Tunggu lanjutan ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *