Ditengah maraknya isu SARA yang merebak belakangan ini, berkunjung ke Festival Cap Go Meh Bogor tahun ini memberi pelajaran tersendiri bagi saya. Digelar pada 11 Februari 2017, festival ini berhasil menyedot perhatian warga Bogor dan sekitarnya, termasuk saya. Event tahunan ini merupakan tradisi ujung puncak perayaan tahun baru Imlek. Ribuan pengunjung baik dari warga Bogor, luar kota Bogor dan bahkan wisatawan asing tumpah ruah di sepanjang Jalan Suryakencana sejak siang hingga malam hari.

baju Cheongsam
Senyum cantik peserta pawai dengan baju Cheongsam

Antusiasme Pengunjung

Saya pun harus berjalan kaki dari pertigaan Jl. Padjajaran karena jalan menuju kawasan Jl. Suryakencana macet total. Mendekati lokasi utama, saya melewati rombongan iringan peserta pawai yang sedang melakukan persiapan. Kondisi dekat panggung utama pun sudah penuh sesak, terpaksa saya harus memutar jalan lewat belakang pasar. Baru disekitar Cyrano Cafe penonton lebih lenggang sehingga saya leluasa mengambil foto.

Pengunjung Terpukau Aksi Pemain Liong di Festival Cap Go Meh Bogor 2017
Antusiasme pengunjung menonton aksi pemain Liong
Pemain Liong Menyemburkan api di Festival Cap Go Meh Bogor 2017
Pemain Liong menyemburkan api

Hujan gerimis dan beceknya jalanan tak menghalangi antusias pengunjung beranjak dari tempatnya untuk melihat pawaikesenian dan tradisi di Festival Cap Go Meh Bogor ini. Saking penuhnya jalan tersebut, sulit sekali menemukan tempat untuk duduk apalagi jalanan sangat becek. Kaki saya sudah pegal berdiri padahal pawai belum dimulai. Saya jadi agak iri melihat kokoh-kokoh dan cici-cici yang duduk santai di teras maupun balkon rukonya. Ya, Jl Suryakencana ini memang merupakan kawasan pecinan di Kota Bogor. Deretan rumah makan masakan Tiongkok dan toko-toko dengan nama khas Tiongkok sangat mudah ditemukan.

Potret anak kecil di Festival Cap Go Meh Bogor 2017
Bocah kecil lucu dengan baju Cheongsam

Meriahnya Pawai Kebudayaan

Sekitar pukul 17:00 WIB iring-iringan pawai mulai berjalan melewati rute Jalan Suryakencana hingga Jalan Siliwangi. Rombongan pawai dibuka dengan Marching Band TNI-AD, lalu barisan Paskibraka Bogor. Setelah itu muncul rombongan beberapa sanggar seni yang menampilkan tarian daerah dan kostum unik, seperti sanggar Andika yang menampilkan tari Kijang Bogor dan Sanggar Gandes Pamantes yang menampilkan kostum unik bertema alat kebersihan. Disusul kemudian berbagai komunitas di Bogor seperti komunitas Perempuan Berkebaya, Komunitas Cinta Berkain dan lainnya.

Rombongan Paskibraka Kota Bogor
Rombongan Paskibraka Kota Bogor jadi simbol nasionalisme

 

Tari Kijang Bogor
Tari Kijang Bogor

 

Sanggar Gandes Pamantes di Festival Cap Go Meh Bogor 2017
Sanggar Gandes Pamantes dengan kostum unik bertema alat kebersihan

 

Kereta Kreshna
Kereta Kreshna yang dibawakan Komunitas Hare Kreshna Bogor

Dengan tajuk Ajang Budaya Pemersatu Bangsa, Festival Cap Go Meh Bogor ini tak hanya diramaikan warga keturunan Tionghoa, tapi dari berbagai suku, ras dan agama. Berbagai kesenian tari daerah dan tradisi seni keagamaan seperti marawis dari agama Islam dan Hare Kreshna dari agama Hindu turut jadi bagian peserta pawai.

Sang Tamu Lucu Dari Taiwan

Suasana makin riuh saat rombongan ondel-ondel dari kota Tainan, Taiwan menyapa pengunjung dengan gaya lucunya. Walikota Bogor, Bima Arya juga turut menyapa para pengunjung di sepanjang jalan. Berbagai seni dan budaya lain juga ditampilkan di antaranya engrang, wayang Hihid, Topeng Kelana, serta Boboko.

Ondel-Ondel Taiwan Festival Cap Go Meh Bogor
Gerak-gerik lucu Ondel-Ondel Taiwan yang disambut riuh pengunjung

Indahnya Toleransi Keagamaan

Tak ada satupun pengunjung yang mencibir penampilan peserta pawai, dari remaja bermata sipit, anak ABG berbahasa sunda, pria paruh baya berkalung salib, bapak-bapak berkopiah dan ibu-ibu berhijab semuanya tampak antusias menyaksikan penampilan peserta pawai. Sungguh lega hati ini melihat kerukunan ummat beragama masih mengakar kuat di masyarakat. Bukan seperti yang saya takutkan saat membuka timeline Facebook yang seakan terjadi perang dunia antar agama, atau melihat berita di TV yang malah memanaskan situasi. Saya makin yakin saat acara iringan pawai dihentikan sementara saat Adzan Maghrib sebagai bentuk toleransi beragama dan memberikan waktu bagi ummat muslim untuk melaksanakan sholat Maghrib.

Banjir Angpao di Fetival Cap Go Meh Bogor

Selepas Ba’da Maghrib suasana kembali riuh saat iringan Liong berukuran 50 meter yang menyala meliuk-liuk di kejauhan. Atraksi akrobat Barongsai pun tak kalah menarik perhatian pengunjung. Tampak anak-anak kecil dan orang dewasa keturunan etnis Tionghoa berlomba-lomba memasukkan angpao ke mulut Barongsai. Seorang bocah disamping terus merengek ke papanya minta angpao agar bisa diberikan ke Liong dan Barongsai. Barongsai pun menari-nari terlebih dahulu sebagai persembahan kepada pemberi angpao. Setelah berhasil memasukkan angpao ke mulut Liong, si bocah pun tertawa puas.

Angpao Cap Go Meh
Para anak kecil antusias memasukkan angpao ke mulut Barongsai

Sayapun sempat bingung apa tujuan mereka menyebar-nyebar angpao. Rupanya itu adalah bagian tradisi kepercayaan, warga keturunan Tionghoa percaya bahwa memasukkan angpao ke mulut Barongsai dan Liong akan mendatangkan rezeki dan membuang sial. Sedangkan bagi para pemainnya, angpao menjadi penyemangat mereka dan sebagai bentuk dukungan agar kesenian ini tetap hidup.

Atraksi Liong disambut meriah pengunjung
Atraksi Liong disambut meriah pengunjung
Liong sepanjang 50 meter
Liong sepanjang 50 meter diarak sepanjang rute festival

Para pemain Barongsai dan Liong pun sekitar 30% dari pengamatan saya adalah para remaja berwajah pribumi. Terlepas dari apa keyakinan mereka, saya salut dengan mereka karena saya yakin mereka melakukannya atas dasar seni.

Para pemain Liong di Festival Cap Go Meh Bogor 2017
Wajah pribumi para pemain Liong

Gotong Royong Mengarak Joli

Kembali ke rombongan pawai, iringan Liong, Barongsai dan Kie Lin ini mengawal rombongan tandu Joli, tandu yang membawa patung dewa-dewa yang disucikan dari berbagai Vihara di Bogor dan sekitarnya.Para penganut Buddha meyakini Joli yang telah disembahyangkan di Vihara-Vihara itu akan menerbah berkah. Beberapa penganutnya pun berusaha memegang hiasan di Joli karena dipercaya membawa berkah. Filosofinya tak jauh beda dengan tradi grebeg Sudiro di Solo.

Mengarak Joli
Gotong Royong Mengarak Joli, meski lelah para peserta tetap semangat

Saya kira hanya ada beberapa Joli yang akan diarak, namun ternyata masih banyak Joli lainnya di belakang. Para peserta pawai dan Joli berjalan menuju Vihara Dhamakaya dan Budhasena. Setelah itu rombongan pawai akan kembali ke Vihara Dhanaguna sekaligus menutup acara Cap Go Meh pukul 24:00 WIB. Setelah rombongan Joli terakhir lewat sayapun memutuskan untuk pulang. Waktu menunjukkan pukul 20:30 WIB, tak apalah tak melihat sampai habis karena kaki ini rasanya sudah gemetaran. Saya sudah cukup puas melihat keharmonisan ummat beragama di Festival Cap Go Meh Bogor ini.

Vihara Dhanaguna Bogor
Walau hari telah malam, para pengunjung masih tampak memenuhi Vihara Dhanaguna

Kerukunan dan keharmonisan warga  yang terdiri dari berbagai suku, etnis dan agama dalam memeriahkan Festival Cap Go Meh Bogor ini menjadi bukti bahwa semangat kebhinekaan masih mengakar kuat di masyarakat. Alangkah baiknya bila festival kebudayaan semacam ini menjadi agenda wajib kota-kota Besar untuk memajukan pariwisata, melestarikan budaya sekaligus memupuk rasa kebhinekaan.

Atraksi Liong di Festival Cap Go Meh Bogor 2017
Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *