Sudah dari lama saya bermimpi ingin ke Nepal, bukan tidak lain untuk mewujudkan impian saya melihat Himalaya. Namun tidak pernah terpikir sama sekali bakal ke Nepal tahun ini, terpikir pun hanya untuk jadi wishlist mungkin 3-5 tahun lagi. Karena dibayangan saya ke Nepal butuh uang belasan juta, tapi ternyata cukup 6 juta-an saja teman-teman. Mau tau caranya ? Tunggu pos selanjutnya akan saya kupas tuntas setajam tatapan matanya pensil buat ujian.

Bermula di di awal Juli, terjadi obrolan antara saya (Antin) dan Riri membicarakan kelanjutan rencana kami ke Rinjani yang sudah direncanakan dari 2 tahun lalu.

Antin : “Ri, jadi gimana interview sama PT. XYZ, kalau diterima berarti lo bisa cuti lama dong buat ke Rinjani ?”

Riri : “Iya, tapi masih harus ketemu BOD dan HRD dulu, tapi paling kalo jadi resign pun bisanya akhir Agustus karena awal Agustus ribet ngurus lamaran.”

Antin : “Oh ok, yaudah kalau gitu kabarin aja kalau udah fix diterima & urusin dulu deh lamarannya. Nanti aja obrolin Rinjaninya kalau udah fix waktunya.”

Obrolan pun menguap begitu saja, kami berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga suatu hari akhir Juli, Riri kembali kasih kabar bahwa ia diterima dan masuk kantor barunya per 1 September 2017. Tapi kabar buruknya Riri nggak dikasih izin sama Ibunya, Ibunya Riri a.k.a Bu Tuti bilang “Mau kamu sampai nangis pun mama nggak izinin kamu ke Rinjani”. Jegeerrrr!!!! pupus sudah rencana ke Rinjani karena bagi kami kalau naik gunung nggak dapat restu ibu sama aja nyari celaka. Supir truk Pantura aja yang gila nyetirnya tetap butuh Restu Ibu dan di tulis gede-gede di truknya biar selamat, iya kan ? Apalagi kami yang lihat pacet aja pucet. Hmmm saya jadi ada ide bikin rain cover bersablon Restu Ibu biar selamat terus *nggak mau kalah sama supir truk Pantura. Kami pun kembali bertemu untuk buat Plan B dan C pengganti Rinjani.

Riri : “Tin pokoknya kita mesti ke luar Jawa dan lebih dari seminggu, karena gue punya cuti panjang.”

Antin : “Yaudah, kita sailing aja lah ke Labuan Bajo apa ke Ambon ? Ke Raja Ampat nggak sanggup uangnya. Atau tour ASEAN (Vietnam, Kambodja, Laos dkk) ?”

Riri : “Hmm, coba cek tiket ke Labuan Bajo ya. Yahh kok mahal sih PP udah 3 juta-an. Belum sama paket sailingnya.”

Antin : “Apa mau ke Nepal Ri sekalian ? Tiketnya 2juta-an sekali jalan, nanggung ke Labuan Badjo mending ke Nepal sekalian.” *rahang enteng asal ngomong

Riri : :”Wihhhhh !!! boleh juga tuh.” *Waduh gawat ada yang kepancing, punya uang nggak ya gue”

Antin : “Yaudah nanti gue riset bikin budgetingnya yang paling irit deh, Plan A ke Labuan Badjo, Plan B ke Nepal, Plan C ke Ambon, Plan D tour ASEAN. Terus gue mesti bikin paspor dulu, kepake apa engga ya buat siap-siap aja.”

Riri : Ok cuss bikin paspor, nanti gue bantu riset juga”

Karena sama-sama sibuk obrolan rencana cuma dilanjutkan via chat dengan pilihan menjurus ke Labuan Bajo atau Nepal. Ambon dicoret karena mahal di transportasi laut menuju Pulai Kei, Ora, Banda Neira dkk. Terus kenapa nggak ke Labuan Bajo Tin? Bisa sih, lebih realistis malah dibanding Nepal, tapi si Riri mimpinya naik kapal layar sesungguhnya yang model Phinisi biar bisa bergaya kaya Luffy One Piece berdiri di ujung anjungan kapal dan as you know cyiin itu mahal bingiitts. Nemu sih paket sailing kapal layar yang murah start dari Lombok tapi destinasinya nggak ke Pulau Padar yang nge hitss itu lho. Ih nanggung ah, masa udah ke Labuan Bajo nggak ke Pulau Padar, nanti kalah hits sama kids jaman now yang fotonya bergaya pakai jubah macam superman di atas Pulau Padar. *Maafkan kami berdua yang terlalu imajinatif

Setelah riset dengan pertimbangan ini itu & yang terpenting masuk budget, baru di 20 Agustus 2017 akhirnya kami putuskan ke Nepal dari 25 Agustus 2017 s/d 2 September 2017 (10 hari).  Tujuan utama kami trekking ke PoonHill-Ghorepani untuk melihat Annapurna Range, tentunya dengan pertimbangan waktu, biaya dan kemampuan fisik kami. Kenapa nggak Everest Base Camp Tin ? Belum siap mati dan mana hamba punya uang. Terus kenapa nggak sekalian aja ke Annapurna Base Camp ? Duh, kami maunya juga gitu tapi trekkingnya butuh waktu sekitar 10 hari, bisa cepat 7 hari tapi itu kaki bule bukan hobbit kaya saya. Terus ABC itu 4130 mdpl lho, puncak tertinggi kami baru 3000 mdpl, at least butuh porter, mengingat fisik saya yang agak ringkih dan kami takut nyasar!.

Hahahahah nggak jadi ke Rinjani sih tapi gantinya malah yang lebih jauh, ke “dataran tinggi Himalaya“ a.k.a bahasa halusnya naik gunung ke Nepal biar dapat restu ibu. Kok si Riri dapat izin naik gunung ke Nepal ? Yap, karena di desa yang kami singgahi ada Wi-fi, jadi bisa kasih kabar tiap hari. Sebenarnya Bu Tuti nggak izinin naik gunung Rinjani dll karena di atas nggak ada sinyal jadinya nggak bisa kasih kabar, begitu ceritanya.

Tujuan sudah diputuskan tapi masih belum fix karena saya masih galau…….

Antin : “Ri, lo yakin mau ke Nepal ? Budgetnya lumayan lho bisa abis 6-8 juta, kan uang lo mau buat persiapan nikah. Terus lagi musim monsoon (hujan) lho disana ? Terus yakin nih kita mau trekking, kita nggak tau medan disana lho ? Kita ke Labuan Badjo ajalah, lebih realistis. Atau kalau mau keluar negeri, kita tour ASEAN aja lebih murah dari ke Nepal.” *mencoba menggoyahkan Riri

Riri : “Hmmmm kalo tour ASEAN mah nanti masih bisa abis nikah, kan cuma city tour. Ke Labuan Badjo juga bisa nanti-nanti. Bismillah lah kita ke Nepal aja. Kapan lagi gue bisa cuti panjang, kapan lagi ada barengannya yang singit mau diajak dadakan, mumpung kita masih kuat naik gunung juga. Bu Tuti juga udah izinin kok.

Antin (Dalam hati) : Wah padahal kemarin asal sebut Nepal, si Riri beneran kepancing dan dia yang lebih niat sekarang dibanding gue. Yaudahlah, belum tentu nanti dapat temen jalan ke Nepal yang singit dan mau diajak susah kaya Riri.

Antin : “Okelah kalau lo udah yakin, gue tau banget sesama orang Leo kalo udah pengin sesuatu pasti mesti kesampean.. Gue ambil paspor besok sama ajuin cuti ke bos ya. Lo pantau harga tiket ya, kalo besok fix dapet cuti kita langsung issued tiketnya.”

Syukurlah esok harinya cuti saya di approved, namun drama kembali terjadi. Tiket Malindo Air yang sudah lama kami incar seharga 4,3 jt PP naik menjadi 5 jt PP karena tiket berangkat termurah sold out. Dan itu sudah termurah dari maskapai lain via Sk****nner, Bu****air dkk. Damn, 700 ribu itu lumayan banget karena bisa untuk bayar trekking permit & Visa On Arrival. Kami sempat galau dan putuskan untuk tetap beli tiket 5 jt PP tersebut. yaudahlah kapan lagi bisa wujudkan impian. Hingga tanpa sengaja Riri membuka Tra****ka dan dapat tiket promo Malaysia Airlines 4,1 jt PP. What Malaysia Airlines ??!! Kami langnsung ingat kecelakaan MH730. Gimana nih Tin ? Yaudah lah Ri nggak apa-apa lumayan saving 900 Ribu, Bismillah aja toh kalau mau celaka, kepleset di kamar mandi pun bisa celaka.

Akhirnya, dengan mata saling memandang dan berdoa bersama lalu berpelukan, kami issued tiketnya. (Eh ini beneran lo!) hahahaha. Bismillah, Let’s go to Nepal and see you Himalaya.

Begitulah, drama alasan dibalik perjalanan kami ke Nepal. Dengan sisa waktu 5 hari kami pun baru riset intensif untuk ittinerary dan segala persiapan selama di Nepal dengan target budget 6 juta. Tunggu post selanjutnya ya untuk tau cerita petualangan kami yang akan dibagi dalam beberapa post.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *